
Pukul sembilan pagi, Mala Rahajeng datang kekediaman anaknya. Mungkin tekadnya sudah benar-benar bulat. Sehingga Ia lebih memilih memenangkan ego.
"Restu ... Restu ... Kamu di mana, Restu?"
"Mamah, Mas Restu lagi di dapur, Mah. Ayo duduk dulu, Mah."
"Mau dibuatkan Minum apa, Mah? Sekalian Rain panggilkan Mas Restu?"
Mala enggan menjawab rentetan pertanyaan menantunya. Ia malah melangkah menuju dapur meninggalkan Rain dengan sejuta pertanyaan.
"Restu ...," teriknya sambil berjalan.
Restu yang merasa namanya disebut Ia pun segera menuju sumber suara.
"Mamah? Ngapain sih teriak-teriak?"
"Sini ikut mamah," ungkapnya.
"Restu, mamah ingin secepatnya kamu menikah lagi!"
Rain yang mendengar perihal itu mulai merasakan gemetar dikedua kakinya. Dirinya seperti tersambar petir. Ia berharap pendengarannya baru saja mengalami gangguan. Namun ini nyata apa yang baru saja mertuanya katakan.
__ADS_1
"Ma-maksud, Ma-mamah?"
"Kamu tuli, ya, Rain. Saya ingin Restu menikah lagi. Saya sudah terlalu lama menunggu kehadiran cucu!"
"Mamah tolong bersabar. Aku dan Mas Restu juga sedang berusaha, pada hakekatnya Allah juga belum menitipkan rezeki itu, Mah."
"Bisa kamu berikan cucu kepada saya? Nggak bisa, kan? Ya jelas kamu nggak bisa. Kamu cacat, kamu ini mandul, Rain!"
"Mau sampai kapan pun, kamu tidak akan mempunyai anak. Kamu itu mandul, Rain!" bentaknya.
"Cukup, Mah! Aku tidak mandul." Rain mulai bersua dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Sudahlah, Rain. Katanya kamu ini istri yang shalihah, jika memang benar, seharusnya kamu mengizinkan suamimu menikah lagi dong!"
Lalu Rain menengok kesamping, mencoba membuyarkan lamunan suaminya.
"Mas Restu, tolong katakan sesuatu kepada Ibumu, Mas. Katakan yang sebenarnya jika Mas Restu tidak pernah mau untuk diajak terapi. Silakan katakan, Mas."
"Sudahlah! Kamu ini mandul jadi harus terima kenyataan! Saya tidak butuh izin dari kamu karena Restu anak saya!"
"Apakah Mamah lupa, jika Mas Restu juga suami saya. Mah, tolong mengerti. Aku tidak ingin menjadi menantu durhaka. Tapi tolong, Mah. Jangan menilaiku seperti itu, selama ini Mas Restu tidak pernah mau, untuk diajak terapi. Jadi apa Mamah tahu siapa yang mandul, aku atau Mas Restu. Tolong Mah, hentikan jangan menghakimiku seperti itu. Aku juga manusia seperti Mamah, aku juga bisa sakit hati."
__ADS_1
Rupanya pertahanan perempuan itu ambruk jua. Air matanya tak dapat ditahan lagi. Hatinya benar-benar sakit. Bagaimana tidak, setelah diminta untuk mengizinkan suaminya melakukan poligami setelah itu mertuanya menghinanya habis-habisan.
"Cukup, Rain! Apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu menuduhku mandul?"
"Aku tidak menuduh Mas Restu. Kita semua tidak ada yang tahu siapa yang sebenarnya bermasalah. Ini kenyaataan, Mas. Memang benar bukan, jika Mas Restu tak pernah mau aku ajak ke tempat terapi?"
Restu tidak menanggapi perkataan istrinya, Ia kesal. Ia meninggalkan kedua perempuan yang baru saja membuat mood-nya menjadi berantakan.
Kedua tangan Rain dijadikan tumpuan untuk menenggelamkan wajahnya. Baru kemarin rasanya Ia bahagia. Baru kemarin Ia mendapatkan dorami raksasa. Dan sekarang, semuanya telah berganti luka. Secepat inikah?
"La tahzan, inaallah ma'a sobirin."
Seketika, Rain langsung mendongakkan wajahnya, "Dik Yordhii?"
"Jangan bersedih. Allah bersama orang-orang yang sabar. Itu, kan yang selalu Kakak ipar katakan kepadaku?"
"Iya, Dik. Terima kasih sudah mengingatkan kakak."
--------
Semoga suka ya.
__ADS_1
Thanks for reading.
Jangan lupa tinggalkan vote. Klik bintang :) aku harap, kalian beri aku komentar yang membuat aku semangat deh. Maaf masih banyak kesalahan dalam penulisan, setelah tamat akan aku revisi.