
Ibnu Sina atau yang kerap dipanggil Avicenna adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Affasyah yang sekarang berganti nama menjadi Iran. Ia juga seorang penulis yang produktif. Sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan kedokteran. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai Bapak Kedoktoran Modern. Karyanya yang sangat terkenal adalah yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Ibnu Sina mempunyai nama lengkap Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina Abu Ali Sina. Ibnu Sina adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. George Sarton menyebut Ibnu Sina adalah ilmuwan paling terkenal dari islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat dan waktu. Karyanya yang paling terkenal adalah Kitab Penyembuhan dan Qanun Kedokteran (Al-Qanun fi At Tibb).
"Assalamualaikum." Ummi Niar masuk ke dalam kamar putrinya yang tidak terkunci tersebut.
"Waalaikummussalam, Ummi."
"Cepat berbenah diri. Itu tamunya sudah datang. Nanti tiga puluh menit lagi ummi ke sini kamu harus sudah siap."
Saat Umminya hendak keluar meninggalkan kamar, tiba-tiba perempuan tersebut mencekal tangan Umminya dan bergelayut manja bak anak kecil.
"Ummi, Rain takut."
"Tenang, nanti kalau takut, ummi senterin. Sudah cepat siap-siap. Ummi turun dulu, Assalamualaikum."
Setelah kurang lebih tiga puluh menit duduk menyandar di sofa yang terletak di dalam kamar, Rain belum juga mengganti gamisnya. Pikirannya masih tertuju pada Mario, perasaan bersalah tiba-tiba menyeruak begitu saja.
Bagaimana perasaan Mario jika dia tahu bahwa aku sudah ada yang melamar? Maafkan aku Mario. Rain berujar dalam hatinya tanpa sadar air matanya telah menetes.
"Kok malah nangis?" Ummi Niar pun menghampiri putrinya dan merangkul Rain yang masih menangis sesegukan.
Selepas itu Ummi Niar pun melanjutkan ucapannya kembali, "Tamunya sudah menunggumu, Nak. Ingat! Ada Allah, kamu nggak perlu takut. Ayo cepat ganti baju, atau mau ummi yang menggantikan bajumu?"
__ADS_1
Kemudian setelah sampai di ruang tamu, Rain tidak ingin langsung melihat pemuda tersebut. Dirinya masih tetap dengan posisi yang sama, yakni duduk di belakang Ummi Niar sampai seseorang dengan suara bariton memanggil namanya.
Kontan tubuhnya menegang. Indra pendengarannya tak mungkin salah, sepertinya Ia pernah mendengar suara itu sebelumnya. Karena suara itu tidaklah asing.
"Abah Kyai?" Rain sedikit terkejut setelah mendapati adanya Abah Kyai Sang pemilik pondok pesantren Darul Ulum Bandar Lampung yang sempat Ia kunjungi beberapa tahun silam saat Ia masih bersama Restu.
"Kamu mengenal Abah Kyai, Rain?"
"Iya, Bah. Dulu Rain sempat berkunjung ke Pondok Pesantren beliau," timpal Rain dengan posisi masih menundukkan kepala.
Kemudian, Ummi Niar mengusap pundak sang anak dan tersenyum bahagia seraya berujar, "Jadi kamu sudah mengenal Avicenna?"
Rain tidak menjawab dengan kata-kata, perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya.
Awalnya Ummi Niar sempat terkejut saat mengetahui siap Avicenna sesungguhnya. Tebakan kemarin lusa ternyata benar, saat pemuda itu bertamu ke kediamannya Ia memang merasa tidak asing lagi dengan pemuda tersebut, dan ternyata benar.
"Ah, masa sih kamu nggak kenal dengan Avicenna?"
"Benar, Bah."
Kali ini Abah Kyai yang mengajukan pertanyaan kepada Rain. "Jika Mario Drawgalend, kamu mengenalnya tidak?"
Rain sontak langsung berpikir, Ia memaksa otaknya untuk mencerna potongan-potongan keganjilan yang tersaji di hadapannya.
__ADS_1
Avicenna merupakan nama panggilan untuk Ibnu Sina, seorang dokter di zaman Rasullulah SAW. Jadi, apakah yang dimaksud Avicenna di sini adalah Mario? Ya Allah, kenapa aku tidak kepikiran akan hal ini.
"Rain, Abah Kyai sudah menceritakan semuanya perihal Nak Mario.nAbah akan sangat bahagia jika kamu mau menerima lamaran Nak Mario."
"Tapi, Bah. Mario itu nonmuslim," sanggahnya.
"Itu dulu. Sekarang dia sama seperti kita. Apakah Nak Rain bersedia menerima lamaran Nak Mario?"
"Maafkan aku Rain, Minggu lalu aku datang kemari dan aku menyamar menjadi Avicenna seorang ilmuan kedokteran yang aku kagumi."
Mario juga berujar seraya menundukkan kepalanya. Dokter muda tersebut terlihat tampan dengan koko gamis pakistan yang berwarna hitam lalu dengan stelan celana jeans hitam pekat, tak lupa Ia menutup rambutnya dengan kopiah. Terlihat sangat tampan untuk seseorang yang sebelumnya tidak pernah menggunakan pakaian seperti itu.
Rain sungguh tidak percaya dengan penuturan Abah Kyai barusan. Apakah Mario sudah menjadi mualaf? Lalu di mana keberadaannya selama beberapa bulan ini? Nyata, kah semua ini? Atau jangan-jangan hanya setingan.
"Berikan rain waktu dua malam. Rain perlu menanyakan hal ini kepada Allah. Jika nanti rain sudah menemukan jawabannya, insyaallah akan secepatnya rain sampaikan kepada Abah dan Ummi."
Memang tidak semudah itu memberikan jawaban mengenai pertanyaan sakral. Rain tidak ingin menyesal di kemudian hari. Campur tangan Tuhanlah yang selalu Ia ikut sertakan dalam setiap mengambil keputusan.
Terlihat raut wajah cemas Mario saat Rain menyampaikan perihal itu. Setelahnya, Mario yang menyamar dengan nama Avicenna dan Sang Kyai pun berpamitan untuk pulang. Rain secepat mungkin menuju kamar dan menutupnya dengan pelan.
Tak salah lihat, kah tadi dirinya? Benarkah itu Mario Drawgalend? Rain merasa tersanjung dengan kesungguhan Mario, pria itu memang pantang menyerah. Sampai-sampai Ia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Senyum kebahagiaan pun mulai terbingkai dari bibir tipisnya.
"Semoga bukan karena ingin mendapatkanku, tetapi karena kamu sudah benar-benar mendapat hidayah dari Allah ta'ala," Rain bergumam lirih.
__ADS_1