
Sore itu, Rain memilih memasak sayur asam, menggoreng ayam potong yang sudah dibumbui, dan membuat cake oreo kesukaan suaminya. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Namun Restu tak kunjung datang. Tangannya bertopang dagu, matanya mengitari pintu yang tak Ia tutup.
Harap-harap cemas mualai mengisi pikirannya.
__________________
Malam itu, Restu tengah berada di cafe sendirian. Beberapa pengunjung sudah meninggalkan tempat itu sejak satu jam yang lalu. Restu menyesap rokok dan menghembuskan asapnya perlahan-lahan. Setelah itu, Ia kembali menegak wine yang entah sudah botol keberapa yang Ia minum.
"Mas, lima menit lagi cafenya akan segera tutup," ucap salah satu bartender cafe.
Rain yang masih gelisah akan kehadiran suaminya itu memilih menyalakan televisi. Namun tengah malam seperti ini tidak ada acara televisi yang menarik. Matanya tidak menatap layar televisi tersebut, tetapi lebih fokus dengan ponsel yang tergeletak di atas meja. Kembali Ia menghubungi sang suami, namun sekarang tidak aktif. Membuat Rain benar-benar khawatir.
Yaallah lindungi Mas Restu, di mana pun dia berada.
"Astaghfirullah haladzim, Mas, kamu mabuk?"
__ADS_1
Tak menjawab pertanyaan sang istri. Restu malah menarik kasar perempuan itu dan membawanya ke dalam kamar. Entah setan mana yang merasuki dirinya. Ia menjadi sangar, tiba-tiba mencium Rain dengan rakus dibalut bau alkohol yang menyengat membuat Rain ingin muntah.
"Lepaskan, Mas. Aku tidak bisa bernapas jika seperti ini. Istighfar, Mas."
"Mas, lepaskan!" Rain yang benar-benar tidak tahan pun, berucap dengan intonasi yang lebih tinggi.
Plak ....
Sebuah tamparan mendarat di pipi istrinya. Restu benar-benar hilang kendali akibat pengaruh alkohol malam itu. Tak sampai di situ saja rupanya. Justru perlakuannya lebih buruk dari tadi, hingga Rain menangis karena Ia merasa diperlakukan layaknya binatang oleh suaminya sendiri.
Cekalan tangan Restu sudah sedikit mengendur, hal itu kontan Rain gunakan untuk lari dari suaminya. Rain paham, jika itu semua pengaruh dari alkohol. Namun tetap saja ini melukai hatinya. Ditambah dengan keadaan sang suami yang pulang dengan keadaan seperti itu.
Pengaruh alkohol yang perlahan-lahan hilang membuat ingatannya kembali. Setelah Ia sadar dengan apa yang baru saja Ia lakukan pun segera mencari istrinya. Restu tak sengaja melintasi kamar mandi dan benar saja Rain sedang menangis di dalam sana.
"Rain, keluarlah aku mohon. Itu semua di luar kendaliku, Rain. Percayalah aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
__ADS_1
Restu yang merasa percuma pun memutuskan untuk mengambil minum di dapur. Alangkah terkejutnya Ia saat mendapati makanan yang masih rapi tersaji di meja makan. Apakah istrinya menunggu kepulangan Restu?
Aarrgghh! Aku benci dengan semua ini! Gelas yang dia pegang pun tak lepas dari amukannya.
PRANG! ....
"Rain, aku mohon keluarlah. Jika kau masih tak keluar juga aku akan membunuh diriku sendiri, Rain."
"Rain, kau dengar aku? Rain katakan sesuatu, Rain?" teriak Restu khawatir.
Masih tetap tidak ada jawaban. Restu semakin kelabakan seraya merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa dirinya berlaku seperti itu kepada orang yang amat dia sayangi. Naas, penyesalan tidak bisa diperbaiki.
Restu merasa cemas dengan istrinya pun mulai mendobrak pintu tersebut Bruak. Ia terkejut wanita yang Ia cari tengah pingsan dengan wajah pucat yang masih mengenakan mukena.
Artinya puisi yang berisi puji-pujian, doa, nasihat, dan ajaran ya g dijiwai oleh ajaran Islam.
__ADS_1
----------