Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 36. Kenyataan Pahit Lagi.


__ADS_3

"Apa?"


"Iya, Mario. Calon menantu mamah terserang penyakit kanker jantung stadium akhir," ujar mamah Mario yang menyandang status sebagai Dokter spesialis organ dalam.


"Mamah nggak usah bercanda deh!"


"Mario! Ini yang bekerja alat canggih. Jadi tidak bisa diragukan lagi."


Dunia Mario seketika menjadi gelap. Wanita yang Ia cintai selama kurang lebih delapan tahun itu harus mengalami penyakit seserius ini. Kemudian pria bertopi tersebut keluar dengan tidak bersemangat.


"Bang Rio! Bagaimana dengan Kak Rain?"


"Rain mengidap kanker jantung stadium akhir."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Menghubungi Kak Restu?"


Mario tersenyum ketir. Ada sebuah kenyataan yang melukai hatinya.


"Jangan diberi tahu. Jika dia peduli dengan Rain, pasti akan mencari tahu dengan sendirinya."

__ADS_1


"Baiklah. Oh, ya. Terima kasih sudah menyelamatkan Rain," kata Yordhii dengan menepuk pundak Mario.


"Aku baru tahu kalau kamu itu dokter," katanya lagi.


"Rain juga pasti akan terkejut jika mengetahui hal ini."


"Maksudmu?"


"Dulu aku adalah selingkuhan kakak iparmu. Aku dan Rain sudah saling mengenal sejak kami duduk di bangku menengah pertama. Hanya satu tahun aku mendapatkan cintanya. Karena dia lebih memilih kakakmu yang sialan itu. Sampai saat ini aku masih mencintai Rain. Kau boleh percaya atau tidak. Beberapa tahun belakangan, rumahmu selalu diawasi oleh bodyguardku. Aku harap kau tidak marah. Kemarin aku sempat bertemu Rain di puskesmas. Sialnya, dia melihatku saat aku mengenakan pakian medis." Cerita Mario harus terpotong sejenak, sebab Yordhii tiba-tiba tertawa dengan terbahak.


"Lalu bagaiman, Bang?"


"Ingat."


"Saat itu, beberapa mata-mataku mengabarkan bahwa rumah tangga Rain dan Restu semakin berantakan. Aku tahu semua tentang mereka. Bahkan tentang pernikahan Restu dan Keny. Jadi, saat itu juga aku memutuskan untuk tetap bertahan dengan semua ini. Walaupun aku tidak memiliki Rain, setidaknya aku bisa menjaga dia."


Yordhii memutar tutup botol air mineral yang dirinya genggam. Setelahnya, Ia mulai menegak hingga tandas tidak tersisa.


"Apa perlu aku membantumu untuk bisa bersamanya lagi? Aku kasihan dengan Rain. Mungkin ini saatnya dia bahagia."

__ADS_1


"Karena Rain terlalu berharga," timpal Mario.


Saat sedang asik berbincang, tiba-tiba Dokter Arumi menghampiri kedua makhluk tersebut seraya berkacak pinggang.


"Kalian ini bagaiman sih! Kalian nunggu calon menantu mamah atau malah mau ngerumpi!" kata Arumi dengan setengah marah.


"Mario, Rain sudah sadar. Kalian cepat ke sana. Tapi ingat! Jangan beritahu dia tentang ini. Tunggu sampai dia tenang dulu. Kalian mengerti?"


Setelah Arumi berlalu, keduanya menghampiri Rain. Perempuan tersebut tampak tengah terbaring dengan amubag yang masih bertengger pada area bibirnya.


"Terima kasih. Kalian sudah menolongku. Tolong antarkan aku pulang. Aku sudah baik-baik saja."


Gedebruk.


"Aduh. Oh, Lord. Maaf, kesalahan teknis tadi. Eh, calon menantu. Kamu mau pulang sekarang?"


Arumi yang datang secara tiba-tiba dengan tidak hati-hati pun harus terjatuh. Ditambah high heels yang dirinya kenakan harus patah di bagian kanan. Arumi memang seperti itu. Jiwa lawak yang Ia miliki mampu memecahkan keheningan.


_________

__ADS_1


__ADS_2