
Setelah menjalani kemoterapi dan radiasi beberapa hari yang lalu, senja itu aku tengah berada di taman kota. Lagi-lagi taman kota. Entah mengapa aku sangat suka dengan ribuan tanaman yang ada di taman tersebut.
Aku tidak sendiri, kali itu aku ditemani oleh Mario. Awalnya aku melarangnya untuk mengikutiku. Namun, lelaki tersebut tetap saja bersikukuh untuk ikut denganku. Dengan alasan aku bakalan mengonsumsi makanan yang tidak bergizi jika tidak diawasi.
"Ingat! Jangan makan jeroan! Itu nggak bagus untuk jantung kamu."
"Iya."
"Halo, Di. Ada apa ?"
"Iya sini aja, Rain juga ada di sini."
Samar-samar aku mendengar obrolan mereka, mungkin Dik Yordhii akan kemari atau entahlah. Beberapa saat setelah itu kira-kira tiga puluh menit, Dik Yordhii menghampiriku dan Mario.
"Sepertinya aku ganggu orang lagi pacaran nih, ya?"
"Indonesia tanpa pacaran, Dhii," tutur Mario kepada Dik Yordhii.
"Lalu?"
"Langsung khitbah dong. Memangnya kamu, beraninya cinta diam-diam. Ditikung orang baru tahu rasa!"
__ADS_1
Setelah beberapa saat kedua lelaki itu bercengkrama, Dik Yordhii memberikan sesuatu kepadaku dan Mario. Dik Yordhii mengeluarkan botol berukuran sangat kecil dengan motif polos tanpa warna. Cairan di dalamnya pun berwarna transparan seperti air mineral.
Setelah menjelaskan cukup lama, dapat aku simpulkan bahwa benda itu adalah milik Mbak Keny. Dik Yordhii berujar bahwa Ia sudah empat kali menemukan benda tersebut di dapur setiap kali perempuan itu membuat minuman.
"Yasudah aku bawa dulu, ya. Biar nanti dicek sama mamah. Soalnya aku juga baru sekali lihat benda macam ini."
"Baiklah."
Dirasa cukup bosan jika hanya mendengar percakapan mereka, aku pun sesekali ikut menimpalinya.
"Dik Yordhii nggak punya rencana untuk ngelanjutin study lagi?"
"Nggak ah, Kak. Capek belajar terus."
"Iya, kah?"
"Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur."
"Kamu pernah baca hadist itu kan, Dik? Sudah tahu menuntut ilmu itu wajib kenapa masih bilang capek. Anggap saja menuntut ilmu itu tiket menuju surga."
"Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai biaya lebih untuk sekolah? Apakah mereka akan dosa, Rain?" sahut Mario.
__ADS_1
"Tidak! Bukankah menuntut ilmu ada di mana-mana? Tidak hanya di sekolah saja, misalkan di masjid, saat kita mengaji lalu kita mempelajari arti dari setiap ayat tersebut. Kita tahu, jadi kita mendapat ilmu, kan?"
"Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu." [Az Zumar : 9]
Memang benar bukan, orang yang mengetahui dan tidak mengetahui itu cukup berbeda. Lalu, aku membacakan hadist yang menjelaskan tentang menuntut ilmu, Dik Yordhii dan Mario hanya diam dan memperhatikanku. Aku sempat kikuk ketika kedua pria dewasa tengah memperhatikanku dengan lekat.
"Dari Abi Darda r.a. berkata, saya mendengar Rasuluullah Saw. Bersabda: " Bagi siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (memayungkan sayapnya) kepada penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut." (HR. lbn Majah)
"Baiklah, besok lanjut study di pondok pesantren sajalah. Sekalian belajar cara jadi zauji yang baik."
Setelah kepulangan Dik Yordhii, tinggallah aku dan juga Mario. Lelaki itu tak henti-hentinya menghiburku. Namun, lagi-lagi aku tidak bisa tertawa olehnya. Aku hanya ingin diam, diam, dan diam. Aku sendiri pun tidak mengerti dengan diri ini, yang aku rasa hanyalah hambar.
"Mau es krim nggak?"
Aku hanya menggeleng.
"Kenapa?"
"Es krimnya cuma itu-itu saja. Bosan."
"Baiklah, besok akan aku buatkan es krim yang berbentuk dorami."
__ADS_1
Sungguh, pria di hadapanku memang tidak pernah lelah untuk menghibur dan mengambil hati ini. Namun bagaimana, lagi-lagi hati kecilku menolak untuk kedatangan orang baru. Entah aku masih trauma atau aku masih mencintai Mas Restu. Biarkanlah semuanya berjalan seperti senja, kuharap esok akan membawa bahagai yang nyata.