
"Itu karena, Lo ceroboh, Yordhii. Gue udah berkali-kali bilang ke lo, lihat-lihat kalau jalan!"
"Pelan sih kalau ngomong! Gue nggak tuli!"
Rain geram dengan suara ribut-ribut di luar. Ia pun memutuskan berjalan menuju tempat di mana suami dan adiknya tengah berdebat.
"Ada apa sih, Mas?"
"Tuh! Yordhii jalan nggak lihat-lihat. Nendang baut motorku, kan."
"Masyaallah, Mas. Hanya baut? Kan bisa beli lagi kalau hilang. Lagian Mas Restu malam-malam ngotak-atik motor kurang kerjaan."
"Tuh, kan. Lo yang salah," sahut Yordhii.
"Nggak usah ikut ngomong, Lo!"
"Sudah-sudah, Yordhii kemarilah ikut kakak."
Ajak Rain kepada Yordhii. Namun, ajaknnya tak diindahkan oleh sang adik. Yordhii malah melempar tawa kepada kakak iparnya.
"Kalau seperti ini roman-romannya mau marah-marah deh! Kenapa harus Yordhii sih, Kak?"
"Karena Lo salah," cela Restu dengan penuh penekanan pada kalimatnya.
"Mas Restu juga, silakan ikut aku."
__ADS_1
Kemudian Yordhii dan Restu duduk berdampingan di sofa ruang tamu.
Keduanya dibuat bingung, sesekali melempar tanya kepada, Rain. Namun tak mendapat balasan.
"Mas Restu, Dik Yordhii. Maafkan aku, bukan maksudku untuk menggurui kalian. Kalian ini adik kakak, tolong yang akur. Mas Restu sebagai yang lebih tua seharusnya bisa mengayomi yang lebih muda. Pun sebaliknya, Dik Yordhii juga harus bisa menghormati yang lebih tua. Cobalah Mas, Dik. Ganti kata-kata 'Lo Gua' dengan kata-kata yang lebih sopan. Jujur aku tidak suka mendengar itu. Rasanya tidak pantas ketika digunakan untuk berkomunikasi dengan yang lebih tua."
"Tapi, Kak. Itu kan bahasa gaul."
"Apa gaul bisa menolong kita di akhirat, Dik? Nanti waktu hisab, kita tidak ditanyai perihal gaul kok."
Hening, kedua adik kakak tersebut merasa dikuliti dengan perkataan Rain. Perkataan yang memang ada benarnya.
Kali ini Restu bersuara, "Tapi Rain, aku tadi hanya sedang mengisi waktu kosong saja. Dan anak ini datang meracauku." jelasnya dengan menunduk.
"Mengisi waktu kosong itu bisa dengan banyak cara, Mas. Jangan ngotak-atik motor malam-malam. Jangan sia-siakan waktu untuk hal-hal yang tidak seharusnya. Jangan menjadi manusia yang rugi."
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran. Dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-'Ashr.:1-3)
"Mas Restu dan Dik Yordhii tahu terjemahannya. Lalu mengapa masih menjadi manusia yang merugi? Ayolah, Mas, Dik. Rubahlah yang semestinya dirubah. Jika Mas Restu ingin mengisi waktu kosong, isilah dengan berdialog kepada Allah. Itu lebih baik, ketimbang mengotak-atik motor malam-malam."
Keduanya diam, seraya menunduk. Entah apa yang mereka rasakan saat itu. Rain, bagaikan seorang ibu yang tengah menasehati kedua putranya. Rain ingin tertawa ketika melihat raut wajah keduanya. Namun lekas Ia urungkan, tidak lucu, kan jika saat menasehati Ia malah tertawa sendiri.
"Coba Mas Restu dan Dik Yordhii bacakan terjemahan surah As-Sajadah ayat 5."
Lalu keduanya saling berpandangan, terdiam sesaat, tampak tengah berpikir. Kemudian, membaca terjemahan ayat tersebut.
__ADS_1
"Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari. Yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungannya." (QS. AS-Sajadah: ayat 5)
"Subhanallah, sebenarnya kalian itu tahu terjemahannya. Namun mengapa kalian tidak mengamalkannya? Sudah jelas, kan. Di situ dikatakan satu hari di akhirat itu sama dengan seribu tahun di dunia. Kita ini hanya hidup di dunia selama 1,5 jam saja. Ayolah, Mas, Dik Yordhii. Mulai hari ini mari kita perbaiki semuanya, jangan biarkan waktu kita yang hanya 1.5 jam ini terbuang sia-sia. Jangan menjadi orang-orang yang rugi."
Bagaimana mungkin, selama ini mereka tidak memahami terjemahan ayat tersebut. Padahal mereka hafal dengan ayat-ayat-Nya. Sungguh, mereka telah menjadi orang-orang yang rugi.
"Sudah, jangan menunduk seperti itu. Sebentar lagi adzan isya, sebaiknya kita ambil wudhu."
"Iya, Bu Ustadzah," jawab keduanya serempak. Namun, bukannya Rain marah. Justru Ia malah mengamini ucapan suami serta adik iparnya barusan.
"Setiap ucapan itu merupakan doa, Mas Restu."
"Kehidupan kita di dunia ini ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Sangat dekat sekali. Sama halnya dengan kematian. Begitu dekat dengan kita."
Lagi nggak dapat ide :v
Jadi ceritanya nggak jelas seperti ini.
Author harus stop aja kali ya?
Pada jadi pembaca gelap sih. Ayolah kasih vote, jangan jadi silent readers.
Author butuh dukungan nih.
Ah iya, saran author sambil baca As Twilight coba deh sambil play lagunya Hanindhya. Asmara terbuang.
__ADS_1
Maaf untuk typo dan segala kesalahan dalam penulisan. Akan author benahi setelah tamat.
Happy Ready.