
Rain Pov
Minggu pagi aku dan Mas Restu sedang dalam perjalanan menuju kediaman Abah dan Ummi. Di daerah Magelang, Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan keringat dingin tak henti-hentinya mengucur dari tubuhku. Detak jantung pun mulai tak beraturan. Tak lupa aku bertastbih seraya membaca kalimat-kalimat Allah.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja. Maafkan aku. Jika bukan karena keegoisanku mungkin ini semua tidak akan terjadi."
Aku tidak menanggapi perkataannya. Aku tahu itu hanyalah ucapan penenang saja. Setelah beberapa jam melakukan perjalanan, kami pun sampai di kediaman Abah dan Ummi. Kedua orang sepuh tersebut menyambut kedatangan kami dengan senyum kebahagiaan. Pasalnya sudah cukup lama aku dan Mas Restu tidak sambang ke rumahnya.
"Kok nggak bilang kalau mau ke sini."
Ummi bertanya seperti biasanya saat aku dan Mas Restu datang secara tiba-tiba. Kemudian, Abah lelaki paruh baya yang begitu hafal dengan diriku pun berujar seraya memperhatiakan gestur tubuhku.
"Rumah tangga kalian baik-baik saja, kan?"
Tak meleset sedikit pun. Abah selalu tahu dan ucapannya barusan memanglah benar. Setelah kami duduk, Mas Restu mulai menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuaku. Abah terlihat kecewa pun dengan Ummi.
Perempuan sepuh yang telah aku bohongi pun mulai meneteskan air matanya. Irisku nanar kala mendapati pemandangan semenyakitkan itu. Sesaat kemudian setelah Mas Restu menjelaskan semuanya, aku lekas sujud di kaki Abah dan Ummiku.
__ADS_1
"Aku mohon, ampunilah aku. Rain melakukan hal ini karena suatu alasan, Bah, Ummi."
"Abah dan Umimu tidak akan marah, Nduk. Hanya saja kami menyesali dengan kebodohan kalian. Bertahun-tahun kalian menyimpan rahasia dengan begitu rapat. Kalian boleh bangga tapi ingat, Allah ta'ala tidak bisa kalian bohongi. Kalian harus memohon ampun kepada Allah."
"Saya minta maaf, Abah. Ini semua salah saya. Ini semua karena keegoisan saya. Tolong jangan hukum, Rain."
Mas Restu juga tak kalah dengan diriku, semua ucapan pembelaan Ia lontarkan kala itu. Tetapi Mas Restu tidak menangis. Netranya hanya berkaca-kaca saja.
"Rain, Restu, kalian sudah dewasa. Abah harap kalian tidak akan mengulangi kebodohan seperti ini. Abah dan Ummi memaafkan kalian, tapi bagaimana dengan Allah, apakah kalian tahu Allah memaafkan kalian atau tidak?"
Rasanya seperti tertohok pedang. Ucapan Abah memang benar, apakah Allah memaafkan kesalahanku? Ya Allah diakhir hidupku aku telah membuat dosa sebanyak ini. Aku tahu ampunanMu melangit, maka ampunilah aku Ya Allah.
"Jika Allah melakukan hal ini kepada kalian, itu tandanya Rain bukan yang terbaik untuk, Nak Restu. Dan Nak Restu pula bukan yang terbaik untuk putri kami. Percayalah, Nak. Jika Allah mengambil sesuatu dari diri kita, suatu saat Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik."
"Benar, Rain apa yang dikatakan Abahmu. Dan Nak Restu, ummi harap tali silaturahmi kita tidak akan pernah putus. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu. Dan kami juga akan tetap menganggap rara sebagai cucu kami."
*****
__ADS_1
Sudah sepekan ini tubuhku sakitnya tidak karuan. Kemarin malam Mario dan Tante Arumi mengatakan padaku jika aku harus secepatnya menjalani kemoterapi. Lihat saja, rambutku sudah semakin menipis, tubuhku pun benar-benar kurus.
Pagi itu seperti biasa, menjalani hari-hari di toko kue. Alhamdulillah, di balik semua duka ternyata Allah memberikan kado terindah. Toko kueku kembali mendapat penawaran kerja sama dengan salah satu cafe di Eropa. Salah satu rekan kerja Mario tertarik dengan donat dan kue buatanku.
"Assalamualaiku, calon menantu. Sudah siap kemoterapi?" tante Arumi adalah ibu Mario, sifatnya tidak berbeda jauh. Malah bisa dikatakan jika mereka mempunyai sifat yang sama. Suka datang secara tiba-tiba dan menghibur banyak orang dengan lawakkannya.
"Sudah, Tante," jawabku singkat.
Kemoterapi pertama di dalam hidupku. Saat semuanya telah selesai, Tante Arumi memberitahu mengenai penyakit yang tengah kuderita. Beliau berkata bahwa kanker jantung atau yang biasa dikenal dengan tumor jantung merupakan salah satu penyakit langka dan yang sangat mematikan. Tante Arumi berujar bahwa penyakit yang menyerang organ dalam manusia mempunyai peluang sembuh hanya 1%.
Aku benar-benar down, kemudian Mario mendatangiku. Dokter muda tersebut mengusap pundakku seraya tersenyum.
"Jangan patah semangat. Penyakit apa pun bisa sembuh jika Allah sudah bekehendak. Aku janji, aku akan membantu menyembuhkanmu. Jadi untuk saat ini kamu mau, ya dikemoterap dan diradiasi. Nggak tiap hari kok," tuturnya seraya tersenyum padaku. Kemudian, Tante Arumi berlalu meninggalkan kami.
"Oh, maaf Dokter Galend! Sepertinya saya harus permisi dulu karena masih banyak pasien yang belum saya tangani."
"Silakan, Doktor Arumi yang centil!" lalu ucapannya diakhiri tawa yang sontak membuat Tante Arumi mendelik dan mengepalkan tangannya kearah Mario. Aku sempat iri dengan ibu dan anak tersebut. Mereka mampu bahagia hanya dengan cara sederhana.
__ADS_1
"Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Ingat! Kamu nggak boleh stres, kamu harus bahagia!"