Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 27. Luka Hati Tiada Henti.


__ADS_3

Apakah seorang ayah akan melakukan hal serupa dengan yang dilakukan oleh Mas Restu? Modar-mandir ke sana-ke mari. Dengan sesekali mengintip dari balik pintu kamar ruangan caesar?


Mas Restu terlihat begitu khawatir dengan Mbak Keny. Apakah Mas Restu juga akan melakukan hal serupa ketika aku melahirkan? Andai saja yang di dalam ruangan itu adalah aku.


Setelah beberapa saat terdengar suara tangis bayi. Kontan hal itu membuat Restu sangat senang. Saat Doktor sudah mengizinkannya Masuk, Restu dengan rasa senang segera menyusul Keny dan mengabaikan keberadaan istri pertamanya.


Rain yang menyadari itu segera mengelus dada. Ada rasa nyeri di bagian daging yang bernamakan hati. Kemudian, Ia beristighfar dan melangkah menyusul suaminya.


"Rain, kemarilah. Lihatlah, Rain. Mirip denganku juga Keny, kan?" ungkapnya yang terlihat sumringah, seraya menggendong putri kecil mereka.


Hati Rain seperti tersayat pisau. Perih bukan main ketika Restu, suaminya mengucapkan kata-kata itu. Lihatlah, Rain. Mirip denganku juga Keny, kan?


Kemudian Rain tersenyum dan lekas berpamitan untuk keluar. Sesaat setelah keluar dari ruangan itu, Rain mempersilakan air matanya menetes. Ada rasa bahagia pun juga ada luka yang membakar hatinya.


"Aku bahagia, Mas. Ketika melihatmu tersenyum seperti itu. Mempunyai anak memanglah keinginan semua pasangan suami istri. Dan hari ini, kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan," gumamnya lirih, seraya terisak.


__________


Satu Minggu sudah Restu menjadi seorang ayah. Setiap pagi, malam terkadang juga siang hari Restu selalu menyempatkan dirinya untuk bersama Rara. Ya ... Cladyftia Ramaisya Pradifta. Restu memberikan nama itu untuk putri kecilnya.


"Kok nggak mirip Kak Restu, sih," kata Yordhii mengomentari.

__ADS_1


"Dia punya tanda lahir di leher. Keren, ya, Kak," ucapnya lagi.


Lalu Rain datang seraya memberikan susu untuk Rara kecil.


"Minum susu dulu, ya, Sayang. Sini bunda gendong. Anak pintar."


Dengan sangat lembut perempuan tersebut menggendong putri madunya kemudian memberikan susu pengganti asi. Sejak lahir memang Keny tidak memberikan asi untuk Rara. Kata Dokter, asi Keny tidak bagus bagi kesehatan anaknya. Sebab semasa mengandung, Keny sering mengkonsumsi vodka serta wine.


"Sana, Mas Restu dan Dik Yordhii sarapan. Rara biar aku mandikan dulu. Keburu siang loh, Mas."


"Kamu nggak makan sekalian?"


"Tidak, Mas. Aku nanti saja kalau Rara sudah tidur."


Kemudian Restu berlalu meninggalkan Rara dan Rain. Dari kejauhan Restu mengamati istrinya yang tengah memandikan Rara, jiwa keibuan Rain membuat Rara nyaman berada di gendongannya. Dengan sesekali lelaki yang mengamati hal itu pun menyunggingkan senyuman.


"Andai Rara lahir dari rahim kamu, Rain. Kamu lebih cocok menjadi ibu untuk Rara," ujat Restu lirih.


****


Rara kecil sudah berumur tiga bulan. Pagi ini, Restu dan Keny tengah bersiap-siap untuk sambang ke kediaman Mala. Rain memutuskan tidak ikut. Dia tidak ingin sakit hati lagi. Mau tak mau, Ia harus siap untuk ditinggal suaminya selama satu Minggu.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu, ya, Rain. Jaga diri baik-baik. Jangan telat makan."


"Iya, Mas. Salam untuk mamah dan papah. Mas Restu hati-hati nyetirnya. Jangan kebut-kebutan, kasihan Rara."


Lima hari sudah Ia jalani tanpa Restu. Tidak ada pesan atau pun telepon dari suaminya. Apakah Restu melupakan Rain ketika sedang bahagia. Apakah kehadiran Keny dan Rara sangat berpengaruh untuk kehidupannya? Tiba-tiba pikiran Rain tertuju akan hal itu.


"Halo Assalamualaikum, Rain. Kau baik-baik saja? Aku sudah merindukanmu,"


"Waalaikummusalam, Mas. Aku sedang tidak baik-baik saja. Karena aku rindu sekali denganmu, juga Rara kecil."


"Lusa aku akan pulang, Rain. Sabar, ya."


"Iya, Mas. Mamah dan Papah, bagaimana kabarnya?"


"Baik-baik saja. Ini Papah ingin bicara denganmu."


"Halo, Rain. Kenapa kamu tidak ikut kemari?"


"Aku sedang tidak ingin ke mana-mana, Pah. Lain waktu aku akan ke sana. Sudah dulu, ya, Pah. Assalamualaikum."


Rain memilih mengakhiri telepon tersebut, ketimbang Ia mendapatkan rentetan pertanyaan dari Ayah mertuanya. Ada perasaan aneh yang menyerukan dalam hatinya. Dada perempuan tersebut tiba-tiba sesak. Sesaat setelah merasakan sakit Ia berniat mengambil obat. Tetapi naas, tubuhnya sudah terlebih dahulu ambruk.

__ADS_1


______________


__ADS_2