
Rain tidak ikut mengantarkan Keny, Rara, serta suaminya ke bandara. Tiga puluh menit setelah itu, Rain bergegas menuju toko kue miliknya. Kini, dua Minggu kedepan, Rain harus siap tanpa kehadiran sang suami.
Rencananya, Rain, Liza, Sari, dan juga Yordhii ingin berkunjung ke panti asuhan di daerah Jakarta barat. Banyak hal tentang panti asuhan. Rain selalu menyukai tempat itu. Tempat di mana banyak anak-anak kecil yang lucu nan menggemaskan.
To: Mas Restu.
"Assalamualaikum, Mas hari ini aku izin ke panti asuhan, ya. Bersama Liza, sari, juga Dik Yordhii."
Lima belas menit kemudian, mereka bersiap keluar menuju mobil. Saat hendak masuk ke dalam tba-tiba Mario datang.
"Kalian mau kemana?"
"Ke panti asuhan. Siapa kamu?" sarkastik Yordhii dengan sedikit mengamati wajah Mario.
"Dia Mario, Dik. Teman kakak."
"Oh."
Lalu keduanya saling berjabat tangan.
"Yordhii Gautama Pradiftha."
"Mario Drawgalend. Panggil saja Rio," jelasnya seraya tersenyum. Lalu dirinya berujar lagi.
"Aku boleh ikut kalian ke panti? Kebetulan aku sangat menyukai tempat itu."
Setelah Yordhii mengizinkan Mario bergabung dengan mereka mobil itu pun melaju menyusuri jalanan kota Bekasi yang padat kendaraan. Selama perjalanan, Yordhii yang tengah mengemudi tampak asik berbincang dengan Mario
"Assalamualaikum." Rain mengucap salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab beberapa penghuni panti dengan girang.
Panti tersebut berada di daerah Jakarta Barat. Bangunan tersebut hanya memiliki dua lantai saja. Bangunan yang sudah berdiri cukup lama itu didominasi dengan warna biru langit. Konon, warna tersebut mempunyai arti bahwa anak-anak panti harus memiliki cita-cita seluas langit.
Di lantai pertama terdapat beberapa ruangan berukuran sedang, lalu di lantai atas adalah khusus kamar bagi anak-anak panti. Rain dan yang lainnya bergegas menyusuri tempat tersebut dengan didampingi oleh Ibu panti. Di lantai atas terdapat sepuluh kamar, lima untuk anak perempuan dan lima untuk anak laki-laki.
"Rain, aku dulu ada cita-cita mempunyai anak sebanyak-banyaknya denganmu."
Rain hanya menggelengkan kepala. Kemudian Ia kembali menyusuri penjuru panti. Bu Manda mengantarkan mereka ke salah satu kamar khusus bayi berusia di bawah satu tahun. Rain pun kontan mendatangi bayi laki-laki di sudut sana. Pun Ia langsung menggendongnya.
"Ganteng sekali," ujar Rain.
Kemudian Mario menyahut, "Ganteng seperti aku, ya, Rain."
"Fotoin, Dhii," pintanya pada Yordhii yang tengah mengamati seseorang di sudut sana. Yordhii tersenyum ketika melihat kakak iparnya bahagia. Tiba-tiba hatinya berkata untuk menjodohkan Rain dengan Mario.
"Nih." Katanya, seraya menyerahkan ponsel kepada Mario.
Setelah beberapa saat berada di panti, mereka undur diri untuk pulang. Ba'da Azhar, mereka sudah berada di toko kue. Mengantar Liza, Sari, dan Mario. Setelahnya, Rain dan Yordhii bergegas pulang menuju rumah.
"Kak!"
"Iya, Dik."
"Kakak nggak punya keinginan untuk menikah lagi?"
"Tidak, Dik. Kakak tidak ingin poliandri¹, bagi kakak menikah itu cukup sekali seumur hidup."
Kemudian, Rain menceritakan pengalamannya ketika masih di pondok pesantren. Saat itu Ia masih kelas Aliyah². Pelajar yang Ia dapat adalah mengenai hukum wanita menikahi dua suami.
__ADS_1
"Pernikahan di masa jahiliyah ada empat cara. Lalu beliau menyebutkan salah satu jenis pernikahan itu. Yakni, sejumlah orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh tengah berkumpul lalu masuk menemui seorang wanita. Setiap mereka menyetubuhinya. Setelah beberapa waktu sejak malam pengantin itu, jika ternyata ia hamil, ia pun memanggil semua suaminya. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi. Hingga semua suaminya berkumpul. Wanita itu berkata: "Wahai suamiku. Kalian sudah tahu bukan, apa yang kalian lakukan kepadaku dan itu memang hak kalian. Dan sekarang aku hamil. Dan ini adalah anakmu wahai Fulan. Wanita itu menyebut salah satu nama suaminya sesuka dia, lalu menasabkan anaknya pada suami tersebut. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi" (HR. Bukhari no.5127)
"Hadist tersebut sudah mengatakan dengan jelas bahwa poliandri itu haram. Jika kakak melakukan poliandri, apakah kakak akan tahu jika kakak mengandung itu anak siapa. Poliandri itu perilaku jahiliyah, Dik. Dan apa pun yang sudah dinisbatkan pada jahiliyah adalah sesuatu yang tercela."
"Oh, Yordhii tahu sekarang. Kenapa poliandri tidak diperbolehkan. Karena Allah ta'ala telah menentukan demikian itu." Timpal Yordhii seraya mengangguk-angguk.
Tanpa terasa adzan Magrib telah berkumandang.
"Shalat dulu saja, Dik."
Setelah menunaikan shalat, keduanya kembali melakukan perjalanan pulang. Yordhii yang tampak masih tertarik dengan obrolan mereka tadi pun kembali membahasnya.
"Kak, poliandri itu, kan haram. Lalu jika ada wanita yang ditinggal suaminya karena meninggal atau karena perceraian, kemudian wanita itu ingin menikah lagi apa itu juga termasuk haram, kak? Yordhii masih bingung di bagian ini."
"Sesuai pengetahuan yang kakak dapat, jawabnya tidak. Namun, jika seorang istri yang ditinggal wafat suaminya hendak menikah lagi dengan syarat telah usai masa idhahnya³," tuturnya.
"Wanita-wanita yang bersuamikan, baik wanita merdeka atau budak, diharamkan atas selain suami-suami mereka. Hingga suami-suami mereka berpisah dengan mereka karena kematian, cerai, atau Faasakh nikah. Kecuali As-Saabaya⁴, yang suaminya tidak ikut tertawan bersamanya." (Imam Syafi'i, Ahkamul Qur'an, Beirut: Darul Kutub Al-Iilmiyah, 1985, Juz.
"Memangnya ada, Kak. Ayat Al-Qur'an yang menyinggung mengenai poliandri?"
"Dan diharamkan juga kamu mengawini yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki." (QS An-Nisaa 4:24).
"Yasudah, kakak ceraikan saja kak restu. Lalu, kakak ipar menikah lagi."
"Tidak, Dik. Kakak tidak akan melakukan hal itu. Allah itu benci dengan perceraian," cetusnya.
"Kenapa? Tapi kak restu, kan jahat. Dia selalu nyakitin Kakak ipar."
Rain tersenyum, lalu berujar lagi, "Jika Kak Restu jahat dan selalu melukai hati tak apa, itu urusan Kak Restu dengan Allah. Tugas kakak hanyalah menjadi istri yang berbakti kepada suami serta menjalankan tugas ikhlas sepenuh hati."
__ADS_1
*****