
"Rain, kamu kenapa?" Mario yang menyadari kegusaran pada Rain pun mulai tersadar dan bangkit dari tidur malamnya.
"Nggak apa-apa."
Pukul dua dini hari keduanya kembali terjalin percakapan. Mario terlihat sangat lelah dan mengantuk. Pasalnya pukul dua belas malam tadi dirinya baru saja pulang dari Nusa Penida guna melakukan tugas penangan operasi pasien.
"Terus kenapa nggak tidur? Perutnya sakit?"
Hanya dijawab oleh gelengan saja. Rain kemudian menunduk seraya meremas-remas selimut bulunya.
"Yaudah kamu baringan, ya? Biar aku periksa."
"Nggak mau diperiksa, Mario! Nggak mau!"
"Kamu mengigau ya, Rain?" selidiknya, sambil berjalan mengelilingi ranjang tidur itu.
"Galend junior kesayangan ayah! Kamu jangan bandel, ya. Bundamu capek biarkan dia tidur. Ok!" Mario yang tampak sedang mengusap perut buncit Rain pun sambil sesekali berdialog dengan sang jabang bayi. Mario merasa gemas sendiri dengan tingkah sang istri.
"Say it, honey. What is wrong?" lirihnya dengan mengusap jemari sang istri.
"Tapi kamu janji nggak marah, ya?"
"Iya."
"Janji nggak ngambek?"
"Iya."
Kemudian dengan cepat Rain merebahkan tubuhnya dan langsung menarik selimut guna menenggelamkan seluruh badannya. Ia merasa tidak enak hati jika dini hari harus merepoti sang suami yang memang sedang benar-benar lelah.
"Nggak jadi, Mario. Kamu lanjut tidur aja."
"Jangan bikin khawatir, Rain!" Mario yang mulai sedikit geram dengan sang istri pun langsung menarik selimut yang dikenakan Rain. Calon ayah tersebut langsung menyusup ke dalamnya.
"Katakan, Sayang?"
"Aku ingin bakso," lirihnya.
"Yasudah aku beli keluar dulu, ya." .
Saat Mario hendak membuka pintu kamar, perempuan yang mengenakan daster mozaik itu pun bangkit dari ranjangnya seraya berjalan sempoyongan menyusul sang suami. Mario yang menyadari itu kemudian melangkah sambil satu telapak tangannya menepuk jidat. Entah perasaan apa, yang pasti Ia merasa lucu dengan tingkah Rain.
"Ikut," lirih Rain.
__ADS_1
Setelah mengambilkan jaket untuk Rain. Keduanya pun bergegas mencari bakso yang diinginkan. Jalanan malam masih ramai namun tidak terlalu padat merayap.
Beberapa rumah makan dan para pedagang sudah banyak yang tutup. Hanya satu dua saja yang masih setia duduk menunggu dagangan sembari berharap ada yang singgah dan membelinya.
"Bakso sapi nggak apa-apa, kan?"
"Nggak masalah. Makasih ya, Mario."
"Yaudah dimakan dong. Jangan dilihatin."
Mario yang saat itu tengah duduk berhadapan dengan sang istri mulai menusukkan garpu pada potongan bakso tersebut. Kemudian meniupnya sesaat dan menyuapkan pada sang istri.
"Kan, aku nggak lapar, Yo. Aku tadi hanya ingin bakso. Bukan ingin makan bakso. Jadi dibawa pulang saja, ya."
Mario yang saat itu hanya mengenakan kaos putih serta dilapisi dengan jaket army pun masih merasa kedinginan. Tetapi lain halnya dengan Rain yang malah melepaskan jaket dustynya. Sungguh, galend junior yang tengah bersemayam di dalam rahim Rain mampu membawa dampak yang besar bagi sang ibu.
"Jadi?"
"Baiklah, Rain. Kita bungkus saja, ya?"
"Kamu nggak marah?"
*******
Acara mitoni biasanya ditandai dengan dibuatnya rujak tujuh macam dan juga cendol manis. Namun tak semua daerah memiliki cara yang sama pada saat ritual mitoni.
Saat tengah mengupas buah, tanpa sengaja pisau yang Ia gunakan pun melukai jari telunjuk Rain. Darah segar mulai mengalir dari robekan luka tersebut.
Karena panik, Rain pun mulai membalut lukanya dengan hansaplast. Namun, sang suami lebih dulu datang dan mulai merampas paksa hansaplast yang Ia pegang.
"Mau lukanya sembuh atau tambah parah?"
"Sembuh. Balikin hansaplastnya!"
Kemudian Mario berjalan sambil membawa mangkuk kecil berisi air serta kotak P3K.
"Sayangku! Di dalam dunia medis, tidak ada cara membalut luka seperti ini. Ini salah besar!"
"Oh, ya? Lalu yang benar seperti apa Dokter?"
"Seperti ini yang benar."
Kedua tanganya mendapat jatah masing-masing. Tangan kirinya Ia gunakan untuk menggenggam tangan kiri sang istri. Kemudian tangan kanannya Ia gunakan untuk membasuh luka pada jari telunjuk Rain. Setelah selesai membasuh dan memberikan obat, Mario pun mulai membalut jari telujuk Rain dengan perban.
__ADS_1
"Kalau langsung kamu balut dengan perban atau hansaplast, lukamu nggak akan sembuh. Yang ada bakteri dari pisau tersebut ikut terbalut dan menyebabkan infeksi. Next time, harus dicuci dulu dengan cairan detol, kemudian berikan obat. Setelah itu baru boleh diperban."
"Baik, Dok," timpalnya. Sambil matanya mulai jelalatan memandangi wajah Mario.
"Biasa aja ngelihatin akunya. Diabetes nanti!"
"Siapa juga yang ngelihatin kamu. Aku cuma ngelihatin pisang yang belum dikupas."
"Apa, Rain? Pisang? Pisang yang itu atau ... pisang yang ...,"
Belum selesai Mario berucap, Rain sudah lebih dulu menutup mulut Mario dengan tangan kanannya. Mario yang menyadari itu pun sontak memeluk tubuh sang istri seraya berjongkok guna mencium perut Rain. Begitu sayangnya Mario kepada Rain, begitu tulusnya Ia mencintai mantan istri Restu Pradiftha tersebut.
Mitoni (Upacara tujuh bulanan dalam daerah Jawa Tengah)
Tingkeban (Upacara tujuh bulanan dalam daerah Sunda)
Megedong-gedong (Upacara tujuh bulanan dalam daerah Bali)
Say it, honey. What is wrong (Katakan, Sayang. Ada apa?)
_______________________________________
Hahahaha Aku tambah nggak bisa ngebagi waktu. Heem. Maaf ya kalau ngarep. Aku nggak mau aja maksain publish. Takutnya tambah absurd dan nggak ngefell. Jadi ya ngetik sehari 300 kata😅 Jangan lupa voment yaa.
__ADS_1