
Pukul setengah enam pagi aku sudah berada di dapur. Aku memasak capcai kesukaan Dik Yordhii dan tumis brokoli kesukaan Mas Restu. Untuk Mbak Keny, aku tidak tahu apa makanan kesukaannya, jadi aku cukup memasak dua menu saja.
Bik Tinah sudah kembali sejak beberapa hari yang lalu. Acara sarapan pun berjalan seperti biasa, tidak ada yang bersuara, mungkin hanya Dik Yordhii yang sesekali bercanda.
Aku suka ketika melihat Mas Restu lahap saat makan. Dia memang sangat suka dengan makan yang tidak pedas sama dengan Dik Yordhii. Tiba-tiba lamunanku buyar, karena seseorang di hadapanku memukul meja.
Bruug ....
"Siapa ini yang masak? Kalau nggak bisa, nggak usah sok-sokan masak deh! Sayur kok ngga pedas sama sekali!"
"Jika Mbak Keny tidak suka dengan masakanku, silakan Mbak Keny masak sendiri. Aku juga sebenarnya tidak suka dengan makanan tanpa cabai. Namun karena suamiku tidak menyukai makanan pedas dan selama tujuh tahun aku bersama Mas Restu hal itu membuatku terbiasa hingga aku lebih menyukai memasak tanpa menggunakan banyak cabai."
"Kamu istri macam apa sih! Kak Restu nggak suka pedas! Jadi kakak ipar nggak pernah masak pedas. Kamu di sini hanya numpang, sama seperti aku. Jadi bersikaplah selayaknya tamu! Aku juga sebenarnya nggak suka dengan kebodohan suamimu, tapi karena aku sadar, di sini aku hanya numpang jadi aku ingatkan sekali lagi, kalau pun nggak suka ya masak sendiri. Nggak perlu marah-marah, sudah untung nggak pernah ngurus dapur! Bangun tidur tinggal makan kok ribet!"
Aku melihat sorot kebencian dari manik mata Dik Yordhii. Entah apa yang membuatnya semarah ini. Lagi-lagi acara sarapan kami terganggu karena Mbak Keny. Tetapi, aku cukup berterima kasih kepada Dik Yordhii dia selalu membelaku. Lain dengan Mas Restu. Yang hanya diam dan diam.
____________
Hujan sudah sedikit reda tidak sederas subuh tadi. Pukul delapan aku berangkat ke toko dengan diantar Mas Restu. Tidak ada yang bersuara pun aku memilih menyibukkan dirinya dengan beberapa proposal yang tengah Ia baca.
Saat sudah sampai di pelataran toko, seperti biasa aku hanya akan menyalami suamiku tanpa ritual-ritual ***** bengek.
"Hati-hati, Mas."
"Rain, jangan keluar dulu," pintanya.
"Ada perlu denganku?"
Aku berucap cukup santai seraya terus menahan agar tetes air matanya tidak jatuh. Tanpa menunggu aba-aba, Mas Restu meraih tengkukku lalu menyatukan kening kami berdua.
"Aku merindukanmu, Rain."
"Maaf, Mas. Aku harus turun."
__ADS_1
_________
"Assalamualaikum." Kata Rain seraya melenggang menuju toko yang tampak terbuka. Tetapi tidak menghadirkan kedua karyawannya.
"Waalaikumsalam." Jawab Mario seraya berdiri dari duduknya.
"Hai, Rain."
"Mario? Kok di sini?"
"Iya."
"Mau ngapain?"
"Mau beli rainmario cake's, ada nggak?"
"Rainbow cakes's kali, Om!" celetuk Liza.
Mario mencibir, Ia geram tersendiri mendengar sebutan itu. Kemudian dirinya merangkul bahu Rain dan menyamakan posisinya. Terlihat serasi memang, wajah mereka bahkan sedikit ada kemiripan.
"Mario, tolong lepaskan tanganmu. Harus berapa kali aku katakan padamu. Aku sudah mempunyai suami. Jadi tolong kamu berlaku dengan semestinya. Jika kamu tidak bisa maka jangan temui aku lagi!"
Mario yang mendapat tatapan seperti itu malah tersenyum girang. Lalu Ia meninggalkan ketiga perempuan dengan wajah datar.
"Jika suamimu mengukir luka, maka aku akan melakukan lebih dari ini, Rain," serunya setengah berteriak.
"Tidak akan. Mas Restu tidak akan pernah seperti itu."
"Kamu boleh berkata begitu. Tapi cobalah kasihan dengan hatimu. Hatimu enggan, Rain."
_________________
Setelah melaksanakan shalat dan makan malam keduanya tengah bercengkrama di atas kasur. Rain yang tidur dengan bantalan lengan suaminya dan Restu yang tengah memainkan bibir sang istri. Tampak keduanya seperti pasangan pada umunya, yang terlihat bahagia tanpa kecacatan di dalam rumah tangganya.
__ADS_1
"Tidurlah, Sayang. Aku akan menemanimu," kata Restu seraya tersenyum.
Sekitar pukul satu dini hari, Rain terbangun. Rasa haus tiba-tiba mengganggu tidur nyenyaknya. Mau tak mau perempuan itu harus ke dapur guna mengambil air minum.
Rain menyadari tempat di sampingnya kosong. Entah sejak kapan suaminya meninggalkan kamar tersebut. Rain tampak biasa saja. Tujuh bulan bukan waktu yang sebentar untuk membuat Ia terbias akan hal itu.
Ruangan dapur tidak terlalu terang, namun cahaya rembulan yang entah sejak kapan telah menghiasi langit sedikit menyinari dapur. Tak jauh dari situ Rain mendengar suara desahan juga deru napas. Tampak dari jauhan terlihat silut seseorang yang tengah bercumbu, saling memagut dan menyatukan bibir mereka.
"Kakak ipar ngapain sih?" tanya Yordhii seraya menyalakan saklar lampu.
Kehadiran Yordhii sukses mengagetkan kedua insan yang tengah dibakar napsu. Cahaya lampu yang terang membuat penglihatan Rain lebih jelas dari sebelumnya.
"Ma-maaf ... aku tidak bermaksud menguntit kalian. Aku tadi hanya ingin mengambil air minum."
Kemudian Rain berlalu meninggalkan mereka yang masih mematung. Restu yang menyadari hal itu pun bergegas menututi sang istri.
"Rain, tunggu aku, Rain."
"Rain," panggil Restu. Seraya berjalan mendekati istrinya.
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud mengikutimu, atau," ucapannya terpotong.
"Dengarkan aku. Tadi aku ingin minum, tapi aku melihat keny dengan keadaan seperti itu dan aku ...."
"Lain kali kalau ingin seperti tadi sebaiknya di kamar saja, Mas. Jangan seperti binatang yang melakukan di sembarang tempat."
"Mempertontonkan hal itu di hadapan orang lain merupakan perbuatan mungkar, Mas. Bahkan tadi ada dik yordhii. Bukan apa-apa, takutnya menimbulkan syahwat. Mas Restu ini orang yang tahu agama. Jadi, lakukan hal itu sesuai petunjuk Allah. Tidak jadi iibadah jika dilakukan semaumu sendiri."
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'.(Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS : An Nur : 58)
"Tapi aku ini laki-laki normal, Rain. Terlebih lagi, keny adalah istriku. Bukankah aku sah-sah saja menggaulinya?"
"Siapa yang bilang Mas Restu tidak normal? Iya aku tahu sah-sah saja. Tapi dari terjemahan Qs An Nur di situ tersirat bahwa sebaiknya di lakukan di dalam kamar atau di tempat-tempat tertutup. Sudahlah, Mas. Aku bosan bertengkar denganmu. Jika Mas Restu masih kekeh dengan pola pikir Mas Restu, ya silakan saja. Aku sebagai istri hanya mencoba memberi tahu," kali ini intonasinya berubah lebih tinggi.
__ADS_1
Rain pun melanjutkan tidurnya kembali tanpa memperdulikan Restu yang masih mematung. Ia berharap tidurnya mampu menghapus segala luka yang ada.
___________________