Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 64. Terbongkar.


__ADS_3

Alunan piano yang terdengar berirama benar-benar menyejukkan jiwa. Ditambah lagi sosok pianis yang tengah memainkan tiap tuts dengan gemulai sehingga menghasilkan sebuah irama yang memanjakan telinga.


Lelaki bertubuh tinggi dengan jas abu-abu serta kemeja putih yang melekat pada tubuh kurusnya mulai menyayikan sebuah lagu favorit Rain. Yakni 'Kekasih Impian' salah satu album Natta Reza yang sempat booming beberapa waktu lalu.


"Mario, lagunya bagus, ya."


Tak ada jawaban dari sang suami. Setelah dirinya menoleh ke sebelah, ternyata kursinya sudah kosong dan lelaki yang bernama Mario entah menghilang ke mana.


"Mario kamu ke mana? Ya Allah jangan buat aku takut, Mario."


Aku tak pernah meminta, sosok pendamping setia. Cukup ..., dia yang selalu sabar menemani dalam kekuranganku. Namun, Tuhan menghadirkan sosok wanita terhebat, kuat tak pernah mengeluh, bahagiaku selalu bersamamu ....


Andai ada keajaiban ingin kuukirkan namamu di atas bintang-bintang angkasa. Agar semua tahu kau berarti untukku ..., selama-lamanya kamu milikku.


Kini telah kubuktikan. Kamu pendamping setia .., kuat tak pernah mengeluh bahagiaku selalu bersamamu. Andai ada keajaiban ingin kuukirkan namamu di atas bintang-bintang angkasa agar semua tahu kau berarti untukku selama-lamanya kamu milikku.


Namun, kusadari diriku takkan mampu selalu bahagiakan kamu. Tapi akan kuperjuangkan untukkmu yang terhebat. Kekasih impian ....


Sosok pianis bertopeng yang tengah membawakan lagu 'Kekasih Impian' itu tiba-tiba datang menghampiri Rain dan menatapnya lekat di balik topeng yang ia kenakan.


"Lagu ini teruntuk dirimu, Sayang," kalimat itu menggema memenuhi ruangan diner yang dikelilingi oleh ratusan lampu tumbler.


"Kamu siapa?" selidiknya dengan sedikit memundurkan langkah.


"Mario tolong aku," katanya lagi, kali ini disertai dengan teriakkan.


"Aku di sini, Sayang."


"Kamu menyebalkan, Mario! Lepaskan aku! Aku ingin pulang!"


"Aku tidak akan melepaskanmu, Rain! Karena kamu milikku."

__ADS_1


"Ini di tempat umum, Mario!"


"Kamu mau balas pelukkanku atau aku cium di sini dan sekarang juga, Baby"


Mario berujar setengah berbisik dan Rain yang mendengar penuturan itu pun seketika langsung membalas pelukan sang suami yang sungguh menyebalkan.


"Terima kasih calon bunda untuk galend junior. Kulo tresno marang panjenengan, Rain."


___________


Rain sengaja tidur memunggungi suaminya. Mario selalu suka ketika tidur dengan keadaan memeluk sang istri. Menyesap aroma vanila istrinya yang menguar dari balik leher jenjang tersebut.


Rain sedikit memiringkan badan agar bola mata hitam itu bisa menikmati pemandangan gratis di hadapnnya. "Aku juga mencintaimu calon ayah galend junior, Cup." Sebuah kecupan tulus Ia daratkan di kening sang suami.


"Lagi dong! Bibirnya belum nih?"


Hampir saja Ia melonjak akibat sang suami yang tiba-tiba bersuara. Memalukan, jika Mario mengetahui aku telah menciumnya. Komentarnya dalam hati. Kemudian ia cepat-cepat berbaring serta menenggelamkan wajahnya di balik selimut.


"Maaf, Mario. Tadi mungkin aku sedang mengigau."


"Nice, kamu sangat lucu. Baiklah lanjutkan tidurmu dan akan aku tagih besok setelah fajar tiba."


"Selamat tidur, Rain. Cup ...."


"Aku siap mencintaimu sampai raga ini tak lagi menyatu." Bisiknya pada sang istri yang hampir saja terpejam.


Minggu ini mereka tengah berada di Bekasi. Pukul sepuluh pagi tadi meraka telah sampai di toko kue milik Rain yang sudah sangat lama tidak Ia kunjungi. Tokonya masih tetap sama seperti saat terakhir kali Ia jumpai. Hanya bedanya di setiap sudut ruangan tedapat frame foto pernikahannya dengan Mario.


Lalu di halaman depan toko terdapat ratusan bungan mawar, anggrek serta latulip. "Kalian berdua memang layak untuk menjadi pembisnis muda. Mbak bangga dengan kalian."


"Ini juga berkat bimbingan Mbak Rain. Tanpa Mbak Rain saya dan Liza nggak mungkin bisa seperti ini."

__ADS_1


"Bukan karena mbak. Lebih tepatnya karena Allah."


"Mbak Rain sudah hamil, ya?" tanya salah satu pembeli.


"Alhamdulillah. Sudah, Bu."


"Mana suaminya, Mbak?"


"Itu, Bu." Tudingnya ke arah sang suami yang tengah tersenyum manis pada mereka.


"Suaminya bule ya, Mbak? Ganteng banget," timpalnya dengan expresi terkejut ala ibu-ibu itu.


Setelah ibu-ibu itu berlalu, Rain berjalan menghampiri suaminya lalu duduk tepat di hadapan Mario.


"Kamu senang gitu, dibilang ganteng sama ibu-ibu tadi?"


"Enggak!"


"Kenapa?"


"Karena yang bilang ganteng bukan kamu! Coba test sebentar, kamu bilang kalau mario ganteng."


"Nggak mau!"


"Kamu pilih cium aku atau bilang kalau mario ganteng?"


"Nggak pilih semua!" ketusnya. Lalu berjalan meninggalkan Mario. Namun belum ada dua langkah, lengannya sudah lebih dulu dicekal oleh sang suami.


"Baiklah! Aku saja yang akan menciummu."


"Tidak! Tidak! Jangan, Mario! Baiklah aku akui bahwa kamu Mario Drawgalend adalah bule tertampan yang pernah aku jumpai. And me, really, really love you."

__ADS_1


___________


__ADS_2