Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 28. Tiket Liburan.


__ADS_3

Hari ini Restu dan Keny sudah tiba di rumah. Rain keluar untuk menyambut ketiganya. Saat pintu sudah terbuka, Restu segera turun dan memeluk istrinya dengan penuh cinta.


"Kemarin kenapa bisa pingsan?" tanyanya pada sang istri seraya menggendong Rain dan membawanya masuk ke dalam kamar. Keny yang melihat hal itu pun kesal dengan sendirinya.


"Sialan!"


Malam itu Rain dan Restu tidur bersama, keduanya saling menyembuhkan luka rindu yang sudah terpendam lama. Kemesraan itu pun tidak berlangsung lama, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan tangisan Rara.


"Kenapa, Rain?" tanyanya yang mengikuti sang istri dari belakang.


"Rara pup, Mas."


"Keny memang keterlaluan," gumamnya.


"Aku bawa tidur dengan kita, boleh?"


"Mari kita ajak Rara tidur bersama."


"Rain," panggil Restu.


"Iya, Mas."


"Jika aku menceraikan Keny, apakah aku dosa?"

__ADS_1


Rain yang sedang memandangi Rara pun sontak mengalihkan perhatiannya.


"Ngomong apa Mas Restu ini. Sudahlah, Mas. Jangan seperti itu. Allah tidak suka."


"Aku ingin kita hidup bertiga tanpa ada Keny."


"Rara masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mas Restu jangan egois, jangan mementingkan kebahagian Mas Restu sendiri," tuturnya.


Restu mendengus halus. Lalu keduanya tertidur dalam satu ranjang dan di tengahi oleh malaikat kecil bernama Cladyftia Ramaisya Pradiftha. Bayi perempuan dengan badan gembul, bulu mata yang lentik, alis yang belum nampak, dan juga tanda lahir yang menambah keanggunan padanya.


Pagi hari perempuan dengan jilbab lebar tengah menyiapkan menu sarapan untuk keluarganya. Keluarga yang sedang Ia pertahankan keutuhannya. Lepas itu, Ia membereskan kamar, memandikan Rara, dan menyiapkan pakaian suaminya.


Saat Rain menata baju, Ia tidak sengaja melihat tiga lembar kertas, entah kertas apa. Kemudian Ia pun meraih kertas tersebut dan melihatnya.


"Mas Restu, Rara, dan Mbak Keny akan berlibur ke Canada?" gumamnya.


Kemudian Ia keluar seraya mengusap air mata, mencoba baik-baik saja walaupun baru saja Ia mendapati petir yang menghancurkan jiwa.


"Itu bajunya sudah aku siapkan," titahnya saat berpapasan dengan Restu. Kemudian melenggang meninggalkan suaminya


"Rain, kamu kenapa?"


Setelah mengenakan pakaian, Restu tak sengaja melihat tiket pesawat tergeletak di atas nakas. Apakah Rain mengetahui hal ini? Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga.

__ADS_1


"Rain!"


"Iya, Mas," jawabnya tanpa menengok.


"Kamu melihat ini?" ungkap Restu ambil memberikan tiket itu kepada sang istri.


"Maaf, Mas. Tadi aku tidak sengaja melihatnya." Rain berujar tanpa menatap lawan bicaranya. Ia mungkin enggan untuk melihat sang suami yang sudah mulai kentara perubahannya.


"Aku yang minta maaf. Kemarin lusa Mamah memberikan ini kepadaku. Dan aku belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahumu. Aku juga takut jika kamu sedih karena mamah."


"Berangkatlah, Rain. Bersama Keny dan juga Rara."


"Tidak, Mas. Mas Restu saja yang berangkat. Aku tidak apa-apa kok."


"Lihat aku, Rain," hardiknya.


Rain masih menunduk, kali ini matanya sudah mulai berkaca-kaca. Tangan Restu kontan menengadahkan dagu sang istri agar mau menatap dirinya.


"Kamu kenapa sih, Rain?"


"Tidak apa-apa, Mas," ujarnya seraya tersenyum.


Rain memang selalu pandai menutupi luka dalam hatinya. Perempuan tegar yang berjiwa keibuan. Namun sampai sekarang belum juga diberikan keturunan.

__ADS_1


-------


__ADS_2