Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 24. Maaf.


__ADS_3

Rain mulai sedikit terbangun, Ia merasakan sesuatu yang tengah melingkar di pinggangnya. Ia tahu siapa sosok itu, Rain pun memiringkan badannya mencoba melihat sosok tersebut. Dan benar sekali, bahwa sosok tersebut adalah suaminya.


"Maaf, ya. Tadi malam aku tinggalin kamu sendirian. Perut keny tiba-tiba sakit,


dan ponselku lowbat jadi nggak bisa telepon kamu." Katanya seraya mengusap pipi sang istri.


"Setelah mengantar Keny ke rumah sakit, aku mencarimu di ballroom. Tapi sudah tidak ada siapa-siapa."


"Iya Mas. Nggak papa."


"Lalu kamu pulang dengan siapa, Rain?"


"Diantar teman, Mas," dustanya.


"Bisakah lepaskan tangan Mas Restu? Sudah tiba waktu subuh dan aku ingin shalat."


"Belum adzan, Rain. Jangan jadikan alasan untuk menjauh dariku. Aku tidak suka seperti ini. Rain, jangan hiraukan perkataan keny tadi malam, ya."


Keduanya saling bersitatap. Berbincang dikala fajar, sesuatu yang sudah jarang Rain rasakan semenjak perasaan Restu perlahan menghilang.


"Aku sudah terbiasa akan hal itu."


*****


Siang itu Rain sedang berada di mini market terdekat. Ia tengah mengenakan gamis longgar dan juga jilbab ceruti berwarna gold. Wanita tersebut membeli beberapa bahan makanan dan juga susu ibu hamil untuk Keny.


Tujuh bulan sudah keny menjadi istri Restu. Namun tak pernah sekali pun perempuan itu menyiapkan makanan untuk suaminya. Semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Rain juga asisten rumah tangganya.


"Hai! Manusia purba? Siapa yang hamil? Kok beli susu ibu hamil?"

__ADS_1


Kemunculan Mario yang secara tiba-tiba membuat Rain reflex dan menjatuhkan kotak susu tersebut.


"Astaghfirullah. Mario?"


Mario tersenyum, guratan di kenang pria itu terlihat sangat menawan. Ditambah dengan lesung pipinya.


"Aku tadi ke tokomu. Tapi kamunya belum datang," jelasnya dengan senyuman.


"Oh, ya?" timpalnya.


"Iya. Aku ingin belajar membuat donat denganmu, Rain."


"Boleh, besok datang saja ke toko. Aku akan meminta karyawanku untuk mengajarimu."


Kemudian Rain berlalu menuju kasir. Guna melakukan pembayaran. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang seratu ribuan, Rain pun keluar dari mini market tersebut.


"Maaf, Yo. Aku harus pulang," ujarnya setengah berteriak.


"Nggak assalamualaikum, dulu?"


Rain berhenti sesaat, "Assalamualaikum."


"Waalaikummussalam."


Keesokan harinya, sekitar pukul tujuh pagi Mario sudah berada di toko. Rain yang menyadari itu sempat merasa ragu untuk turun. Namun Ia tidak ingin mengecewakan siapa pun. Toh, Mario hanya ingin belajar, bukan?


"Aku kira kamu nggak datang lagi, Rain." tegurnya kepada Rain yang baru saja menutup pintu mobil.


"Kamu sudah lama di sini?"

__ADS_1


"Baru tiga jam."


"Jadi belajar, ya?"


"Jadi, tolong ajari, ya?"


"Baiklah, pertama kamu harus memakai ini." Rain menyerahkan celemek kepada Mario.


"Setelah itu kita siapkan bahan-bahannya. Ini ada tepung terigu, namanya segitiga biru. Kita pakai 500 gram saja."


"Bukan segitiga bermuda, ya, Rain?" ledeknya.


"Segitiga Bermuda itu bukan merk tepung. Setelah tepung terigu kita butuh telur dua butir, kentang satu buah, garam sejumput, gula pasir tiga sendok makan, margarin yang sudah dicairkan secukupnya, bubuk susu tiga sendok makan, air secukupnya, lalu yang terpenting adalah ragi bubuk."


"Bentar-bentar aku catat dulu, Rain. Setelahnya?"


"Kemudian, kita larutkan raginya dengan air, lalu diamkan sampai berbusa. Setelah itu kocok telur menggunakan wisk, lalu kentang yang sudah di rebus, tepung terigu, susu bubuk, gula, garam, dan margarin cair diaduk menjadi satu."


Sejatinya Mario tidak terlalu memperhatikan penjelasan perempuan itu, Ia hanya fokus mengamati wajah Rain, sesekali Ia melirik adonan dan kembali mengamati wajah perempuan masa lalunya.


"Sudah matang, ya, Rain?"


"Belum, setelah tercampur rata kita diamkan selama satu jam."


Setelah kurang lebih satu jam Rain dan Mario mulai membentuk adonan donat tersebut.


"Tolong jangan melihatku seperti itu, aku takut menimbulkan syahwat¹. Bukankah niatmu kemari hanya untuk belajar membuat donat?" Rain menegur Mario yang diam-diam masih memandanginya.


"Iya, Rain. Maaf."

__ADS_1


__ADS_2