Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 57. Wanita Penyejuk Mata dan Pendamai Jiwa.


__ADS_3

Keduanya terlihat sangat bahagia dengan kehidupan baru. Namun sudah lima hari ini Mario dibuat kebingungan dengan sikap sang istri yang mendadak berubah aneh. Hari ini tepatnya, sekitar pukul delapan pagi.


Saat sudah selesai melakukan aktivitas sarapan paginya, tiba-tiba Rain kembali menguap dan tertidur. Malahan sempat kemarin Ia berujar kepada Mario, bahwa Ia takut dengan air.


Ba'da maghrib saat suaminya baru saja pulang dari rumah sakit, Rain masih setia dengan keadaan pagi tadi. Dengan daster kuning gading dan dengan posisi rebahan di atas sofa ruang tamu. Namun jangan salah, meski pun Ia menjadi pemalas ia tidak pernah lalai dengan kewajibannya sebagai seorang istri serta hamba Allah.


"Assalamualaiakum. Sayang," lirihnya seraya mendaratkan kecupan.


"Waalaikummussalam. Mario, hari ini aku hanya memasak tumis kangkung dan ayam bakar. Rasanya aku malas sekali untuk beraktivitas." Tuturnya dengan tingkah bak anak kecil yang tiba-tiba menyandar di pundak sang suami.


"Siapa suruh masak! Kan aku sudah bilang, kamu istirahat saja."


"Ayo sayang ikut aku ke kamar mandi,"


"Mau ngapain?" sergahnya.


"Kamu belum mandi, kan seharian ini?"


Rain tidak biasanya seperti itu. Biasanya Ia akan malu-malu kepada Mario. Namun sekarang ini tidak, Ia sudah mulai welcome dengan hal barunya. Bahkan ketika tidak mandi sekali pun Ia juga merasa biasa saja.


Mario hanya heran dan tidak mengerti dengan keanehan konyol sang istri. Tidak ada jawaban atas pertanyaan sang suami, Rain hanya tersenyum seraya menutup wajahnya kembali.


Tak tanggung-tanggung, Mario yang benar-benar gemas pun akhirnya memilih membopong tubuh kurus sang istri dan membawanya ke dalam kamar mandi. 


"Kamu harus mandi, Sayang. Dan aku yang akan memandikanmu."


"Aku tidak terima penolakan, baby."


"Baiklah-baiklah, aku akan mandi. Tapi tolong turunkan aku, Mario. Aku bisa mandi sendiri. Ayolah, aku mohon."


Tak ada yang lebih lucu dari expresi Rain saat ini, Mario saja sampai-sampai tidak bisa menahan tawanya. Bibir yang dikerucutkan serta mata yang dikedip-kedipkan. Sungguh wanita penyejuk mata serta pendamai jiwa.


"Aku sudah katakan bahwa aku tidak terima penolakan, Rain. Jika aku membiarkanmu mandi sendiri, nanti kamu akan kabur seperti kemarin malam. Dan kamu pura-pura tertidur serta kedinginan!" 


____________

__ADS_1


Sesaat setelah selesai mandi keduanya duduk berhadan untuk makan malam. Mungkin karena kelelahan atau hal lain, Mario dengan lahapnya memakan masakan sang istri.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kepada Rain. 


Mario yang semula duduk di kursi depan pun langsung berpindah ke samping sang istri, "Nggak usah pakai daging kalau mual. Makan pakai nasi dan sayur saja, ya."


"Maafin aku, Mario. Aku selalu merepotkanmu," ujarnya dengan parau.


"Tidak ada kata merepotkan di dalam hubungan suami istri. Kamu istriku dan ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Sudah cepat habiskan dulu makannya, setelah itu akan aku periksa." 


"Aku merasa menjadi istri yang tidak berguna, Mario. Aku merasa hanya menjadi seseorang yang menyusahkanmu. Apa kamu tidak bosan jika hanya hidup berdua denganku. Sepi dan sunyi seperti ini? Aku memang sangat beruntung memiliki suami sepertimu, tidak pernah sedikit pun kamu tampakkan rasa lelahmu. Kamu selalu tersenyum, kamu selalu menguatkanku."


Mario merasa tidak tega dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rain. Ia tidak ingin jika Rain merasa bersedih dan bersalah. Ia pun memeluk sang istri berharap bisa menyurutkan rasa sedihnya.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Sudah aku katakan sejak awal pada saat aku meminangmu. Aku akan ikhlas menerima semua kekuranganmu. Aku tidak mau lagi jika kamu membahas soal ini, aku tidak ingin kamu bersedih."


********


Siang ini Mario pulang lebih awal karena ingin memastikan keadaan istrinya. Namun sama saja Rain masih tertidur dengan pakaian tadi malam. Istrinya tidak mandi lagi. Tapi tak masalah, Rain tetap cantik di matanya. Dalam kedaan apa pun Rain tetap cantik.


"Mario?" samar-samar Rain membuka mata.


"Tidak mandi lagi?" tukasnya kepada Rain yang mulai memajamkan mata.


"Aku malas mau mandi dan aku benar-benar mengantuk jadi aku tidur saja."


"Good job, baby. Aku bawakan sate kambing kesukaanmu. Sekarang duduklah kamu harus makan siang."


"Sate kambing?"


"Kamu suka, kan?"


"Aku selalu suka sate kambing. Tapi suapin, ya?"


Mario sempat mengumpat ketika dering telepon mengganggu momen bahagianya. Dirasa tidak ingin ada yang mengganggu, Ia pun mengabaikan dering telepon tersebut. Namun si penelepon tak juga menyerah sampai melakukan panggilan ulang berkali-kali. Akhirnya mau tak mau Ia harus meraih benda berbentuk persegi tersebut.

__ADS_1


"Siapa yang telepon?"


"Mamah, Rain. Sebentar ya aku angkat telepon dulu."


"Halo Assalamualaiku. Ada apa, Mah?"


"Waalaikumusalam. Botol yang kemarin Yordhii berikan masih ada? Jika masih ada segera antar ke rumah. Beberapa hasil dari penelitian botol itu mamah menemukan sesuatu, Galend."


"Jadi Mamah sudah tahu, itu botol apa?"


"Ya. Semoga saja hasilnya sama dengan botol yang lusa Yordhii bawa. Baiklah Mamah tutup dulu teleponya. Assalamualaikum."


******


Tak tampak seperti Rumah. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya tinggalah Restu dengan sejuta penyesalan. Dirasa sudah benar-benar hancur karena obat-obatan, pria dewasa itu semakin memberikan kebebasan untuk dirinya. Mulai dari puluhan botol vodak sampai puluhan batang rokok yang Ia hisap racunnya.


Tak lain dengan Restu. Keny, wanita licik itu sangat bahagia dengan apa yang sudah terjadi. Memang tujuan utamanya adalah memisahkan Restu dan Rain. Namun yang mendapatkan imbasnya adalah Rara. Anak dari hubungan gelapnya dengan Restu.


"Mau habis vodka berapa pun juga tidak akan bisa merubah semuanya, darl. Sudahlah, kau ini kurang apa lagi? 


"Diam kau ******! Semua ini karena kamu!"


"Oh, ya? Bukankah mulutmu yang sudah menalak Rain? Kau pengecut sekali. Bisa-bisanya kau dikalahkan oleh rasa bersalahmu. Mau sampai overdosis juga nggak akan Rain kembali. Ingat! Dia sudah bahagia dengan suami barunya!"


Perempuan yang saat itu tengah mengenakan lingerie merah darah serta high heels hitam yang menambah kemolekan tubuh sintalnya. Ruangan kamar yang terlihat suram dengan aroma vodka dan asap rokok begitu mendukung kesan penyesalan yang mendalam.


"Lihatlah. Rain sangat cocok dengan Mario. Beberapa chanel youtube adikmu selalu mengunggah vlog tentang pasangan suami istri tersebut!"


Restu yang merasa geram dengan ocehan unfaedah istrinya pun sontak melempar ponsel yang menampakkan foto Rain  Dia benar-benar hancur saat itu. Awalnya Ia mencoba untuk ikhlas, namun hatinya enggan untuk diajak berdamai. Ya, mau bagaimana lagi, penyesalan memang selalu datang diakhir. Dan siap tidak siap manusianya harus menerima konsekuensi.


Penyesalan itu menyakitkan, menghancurkan, serta mematahkan tiap-tiap dimensi kehidupan. Membuat jiwa-jiwa sulit untuk bangkit dari kubangan. Namun, jangan mau larut lebih lama dalam sebuah penyesalan. Hidupmu untuk masa depan. Bukan untuk masa yang telah hilang. Cukup jadikan sebuah pelajaran serta jembatan untuk menuju masa depan.


______________________


Assalamualaiku. Yah, authornya lemot bin lelet. Gak update sesuai jadwal. hehehe. Ujianya seperti ada aja gitu, yang pc trouble, ngetik di handpone lemot gara-gara ******* keupgrade versi baru. Dan parahnya lagi ada rasa males mau ngetik. Yaallah padahal tinggal beberapa bab lagi loh. Huh mohon dimaklumi ya, jangan kecewa ya hehehe. Tetep kasih vote dan koment ya. Author maksa deh. Aku ucapin matur suwun buat yang sampai bab ini masih setia sama As twilight, walaupun ceritanya makin absurd. Tapi bener deh, kalau udah tamat bakalan aku revisi.

__ADS_1


__ADS_2