Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 68. Antara Tawa dan Lara


__ADS_3

    Tidur tanpa bantalan dan juga guling adalah rutinitas yang beberapa hari ini dilakukan oleh Mario. Tiga puluh hari lagi adalah hari lahiran untuk sang istri. Diusia kandungannya yang sudah menginjak delapan bulan menjadikan Rain semakin susah bergerak. Susah pula saat Ia ingin sekedar tidur.


"Kamu nggak apa-apa, kan kalau bantal gulingnya aku pakai semua?" tanyanya pada Mario yang kala itu masih mengaduk susu untuk sang istri.


"No problem, Baby," timpalnya.


"Diminum dulu susunya," ucapnya lagi.


"Terima kasih."


_________


Sinar rembulan yang terang dan desiran angin yang menjadi irama malam. Memaksa memori otaknya untuk berfikir jika Ia kehilangan Rain apa yang akan terjadi pada dirinya. Ucapan Arumi beberapa hari yang lalu masih terngiang jelas di dalam memori otaknya.


"Kamu harus menentukannya sejak sekarang, Mario. Siapa yang akan kamu selamatkan? Bila keduanya, itu sangat mustahil jika tanpa campur tangan Allah."


Tidak terasa air matanya mulai terjatuh. Lelaki yang akan berstatus sebagai ayah itu pun pelan-pelan mulai bangkit dari tidurnya. Kemudian Ia duduk sambil memandangi paras cantik sang istri yang begitu teduh serta menenangkan. 


"Nggak tidur?"


"Rain, kok bangun? Kenapa?"


"Berhentilah menangis. Hidup mati ada di tangan Allah. Semua yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya kematian."


"Aku sudah tahu semuanya, Mario. Kamu tidak perlu dilema. Ikhlaskan aku dan selamatkan calon anak kita. Aku sudah siap jika sewaktu-waktu Allah memanggilku untuk pulang," lanjutnya dengan tangisan.


"Kamu ini bicara apa? Nggak boleh seperti itu. Kamu pasti bisa sembuh dan kita akan sama-sama membesarkan calon anak kita." Lirih Mario dengan kedua tangan yang Ia gunakan untuk menggenggam jemari sang istri.


Alam seolah-olah mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Gemuruh guntur mulai terdengar, sedikit saling bersahutan. Mungkin sebentar lagi langit juga akan ikut menjatuhkan air matanya. Seolah-olah tidak rela jika Rain menangis sendiri dalam luka.


"Kita semua nggak ada yang tahu kapan kita dipinang oleh malaikat maut."


"Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).


"Nanti kalau misal aku udah nggak ada, kamu harus cari perempuan yang lebih baik dari aku. Jangan cari yang cantik. Cantik itu bonus, carilah yang mampu menjadi madrasah terbaik untuk calon anak kita serta yang baik agamanya."


Mario merasa geram tersendiri dengan ucapan-ucapan Rain. Dirinya tidak tahu apa maksud dari ucapan sang istri barusan.


Lampu kamar yang tak begitu terang. Sengaja memang, mereka selalu tidur dengan keadaan remang-remang. Terlihat banyak bingkai foto yang berjajaran menghiasi dinding dorami tersebut.


Kamar yang beberapa bulan terakhir menjadi saksi bisu cinta mereka. Serta duka, tawa, lara yang setiap hari hadir dalam kehidupannya. Memang benar, semua itu tak luput dari campur tangan-Nya.

__ADS_1


"Aku akan marah kalau kamu bicara seperti ini lagi."


**********


Aroma masakan yang menguar tajam mencoba membangunkan Mario yang sedang terlelap. Mungkin karena lelah, Mario sampai tertidur di ruang kerjanya.


Tengah hari ba'da dzuhur, Rain menyempatkan diri untuk menemui suaminya serta membawakan makan siang kesukaan Mario.


"Kasihan suamiku, ya. Lelah sekali sepertinya."


Rain kala itu menghampiri Mario sedang tertidur dengan kedua tangan yang Ia jadikan sebagai bantalan. Wanita itu mengusap rambut Mario kemudian mendaratkan kecupan pada kening suaminya.


"Bangun dulu, shalat."


Perlahan-lahan Ia mulai membuka matanya seraya menguap kecil. Huuaam


"Kamu sama siapa ke sini? Kenapa nggak bilang?"


"Sendiri. Ditutupin kalau menguap. Tuman!" sarkasnya.


"Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu apabila bersin lalu dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”). Sedangkan menguap itu dari setan, jika seseorang menguap hendaklah dia tahan semampunya. Bila orang yang menguap sampai mengeluarkan suara ‘Huuaam’, setan tertawa karenanya." (HR. Bukhari 6223)


"Iya maaf. Yaudah cium?"


"Ya Allah! Cuma minta cium dimarahin," keluhnya.


"Yasudah ambil wudhu dulu sana. Ini aku bawa makan siang buat kamu."


_________


Seperti yang sudah direncanakan dari awal. Sore ini keduanya tengah berbincang dengan Yordhii dan juga Rara.


Saat ini mereka berada di salah satu restauran di daerah Bekasi.


"Bunda, adiknya Rara kapan keluarnya?" Tanya gadis kecil yang tengah menikmati es krim vanilanya.


"Sebentar lagi, Sayang."


Rara kecil kemudian menyerahkan bungkusan es krim yang belum terbuka Kepada Rain.


"Rara jangan banyak-banyak makan es krimnya. Nanti kalau sakit di marah mommy keny sama daddy Restu loh."

__ADS_1


Dilain sisi Mario dan Yordhii tengah membahas hasil penemuan Arumi beberapa hari yang lalu. Dan Rain sedikit terkejut pada saat mengetahui kebenarannya.


Jadi segala sikap buruk Mas Restu pada saat itu murni karena pengaruh cairan itu? Ya Allah kasihan Mas Restu. Monolognya dalam hati.


Setelah beberapa saat menghabiskan sisa sore hari, mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Namun sebelum pulang, Rara kembali berujar pada Rain.


"Bunda?"


"Iya sayang?"


"Sebentar lagi Rara ulang tahun," ujarnya pada Rain.


"Oh, ya?"


"Iya, Bunda. Nanti Rara boleh minta sesuatu nggak sama Bunda, Rain?"


Gadis kecil itu mengiba pada Rain. Rara kecil tengah menatap Rain begitu lekat. Rain merasa ada sesuatu yang tak beres pada anak kecil itu. Kemudian Mario yang melihat hal itu pun langsung mengusap pipi Rara dan tersenyum hangat.


"Rara mau minta apa?" tanya Mario.


"Rara mau minta Bunda Rain jadi ibu Rara." Jelasnya seraya menundukkan kepala.


Mungkin mereka yang ada di sana hanya menganggap hal ini leleucon semata. Namun lain dengan Rara, tersorot dari balik matanya jika gadis kecil itu benar-benar menginginkan kasih sayang kedua orang tua.


"Teman-teman Rara selalu disayang daddy dan mommynya. Rara mau seperti itu, Bunda. Tapi dady dan mommy jahat."


"Tentu boleh dong, Sayang. Kan bunda juga bundanya Rara."


Semua yang mendengar penuturan itu merasa iba. Langit sore sudah mulai berubah warna. Senja tampaknya akan segera tiba. Mereka pun memutuskan pulang ke kediaman mereka masing-masing.



No problem, baby ( Tidak masalah, Sayang )



_________________


Bismilahirahmannirahim.


Assalamualaikum. Aku update As twilight jadi satu Minggu sekali ya. Karena tinggal beberapa part lagi dan ini sudah mendekati klimaks. Maaf kalau tambah absurd. Jangan lupa voment.

__ADS_1


Revisi setelah tamat. Jadi jangan berharap kalau tulisannya bagus. Ini masih sungguh amburadul 😁


__ADS_2