Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 49. Siapkan Avicenna?


__ADS_3

Arumi berdiri di dekat balkon kamarnya, perempuan itu kembali terpuruk setelah putra tunggalnya menghilang beberapa bulan yang lalu.


"Tante, Rain benar-benar minta maaf. Rain tidak tahu dengan perasaan Rain sendiri."


"Mamah sudah memaafkanmu, calon menantu. Mamah mengerti, perasaan tidak bisa dipaksa. Mamah hanya kasihan dengan Mario." Arumi berkata seraya berjalan menuju sofa moccanya.


"Kau tahu, calon menantu? Mario pernah berkata kepadaku bahwa suatu saat nanti dia akan membawakanku menantu yang bernama Loovinka Rain. Dan benar sekali, anak itu tidak pernah ingkar dengan ucapannya. Dulu sewaktu kami masih di Jerman, Mario sempat dijodohkan dengan salah satu wanita cantik pilihan kakeknya, tetapi karena Mario tidak mau dan ayahku Cassthevo Drawgalend, lelaki yang mempunyai karakter keras pun akhirnya menghukum Mario. Dan Mario, Ia rela dikurung di gudang selama dua belas bulan. Kau tahu apa alasannya?" tanyanya. Rain pun hanya bergeleng kepala saja.


"Kamu adalah jawabannya."


Kemudian wanita itu berdiri dan terduduk lemas di lantai dengan tubuh yang disandarkan di dinding marmer. Wajar saja jika Arumi seperti ini, pasalnya sudah dua bulan Mario menghilang dan tidak ada sedikit pun kabar mengenainya.


Beberapa orang suruhan Arumi pun sudah dikerahkan semua. Baik yang di dalam negeri, mau pun yang di luar negeri. Tetapi percuma saja. Jejak Mario benar-benar tersapu bersih. Mario mempunyai beberapa keahlian di bidang tertentu, salah satunya adalah hacker. Sebanyak apa pun orang suruhan Mamahnya, itu dirasa tidak akan bisa menemukan keberadaan Mario.


*****


Pagi ini adalah jadwal kemoterapi dan radiasinya. Masih tante Arumi yang menangani kemoterapi Rain.


"Puji Tuhan. Kesehatan pada tubuhmu sudah mengalami kemajuan yang cukup drastis. Kamu mempunyai peluang sembuh lebih banyak lagi, calon menantu." Penjelasan Arumi mampu membawa pengaruh besar dalam diri Rain, sujud sukur pun sontak Ia lakukan.


Arumi yang merasa ikut bahagia pun segera mendekati Rain dan memeluk perempuan itu dengan rasa sayang. "Andai Mario tahu, pasti dia bahagia," imbuhnya.


"Rain rindu Mario, Tante."


____________


Dari hari ke hari toko kue miliknya semakin Ramai pembeli. Banyak para pengusaha luar negeri berdatangan hanya untuk sekedar mencicipi donat dan juga jenis kue yang ada di toko itu.


Saat sudah sepi pembeli Rain dan kedua karyawannya tengah duduk sembari beristirahat, tiba-tiba saja dering telepon memecah kesunyian mereka.


"Siapa, Mbak Rain?" ujar Sari.


"Abah dan ummi, Sar. Sebentar, ya. Mbak angkat telepon dulu."


"Rain, ummi minta Kamis besok kamu sempatkan untuk pulang, ya. Abah dan ummi ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."


"Kenapa nggak hari ini saja umi?"


"Gimana to kamu ini. Ummi, kan mintanya hari kamis. Ini masih hari Selasa."


"Baiklah, Ummi. Yasudah Rain tutup dulu, ya. Assalamualaikum."


********

__ADS_1


Siang itu Rain sudah berada di kediaman orang tuanya. Tiga jam yang lalu Ia baru saja sampai sontak langsung saja merebahkan tubuh kurusnya di kasur dorami berwarna kuning.


Setelah makan siang, ketiganya melakukan shalat Dzuhur berjamaah. Cukup lama sekali mereka tidak melakukan aktivitas bersama seperti ini. Duduk sembari bercengkrama dengan kedua orang tuanya merupakan hal yang jarang sekali Rain lakoni, tetapi sekarang ia tidak akan menyianyiakan hal itu.


Uminya pun mulai menceritakan sesuatu kepadanya ketika beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang datang kemari.


Jawa Tengah, Minggu, 09.44 Wib.


"Assalamualaikum."


Terdengar salam dari balik pintu kayu tersebut. Ummi Niar pun segera menghampiri sang suami yang tengah memberi makan perkutut kesayangannya.


"Bah, siapa yang salam?"


"Nggak tahu. Coba Ummi bukakan pintunya, abah mau beresin ini dulu."


"Assalamualaikum." Terdengar lagi salam untuk yang kedua kalinya.


"Waalaikumsalam."


Setelah berbincang beberapa saat, Ummi Niar pun mempersilakan pemuda tersebut masuk. Seperti tak asing dengan pemuda itu, tetapi tak ada waktu untuk memperhatikannya terlalu lama.


"Siapa namamu Anak Muda?" Tanya Abah Ruslan dengan sedikit menyelidiki.


"Saya Avicenna, Bah. Sebelumnya mohon perkenankan diri saya untuk menyampaikan maksud dan tujuan datang kemari. Yang pertama saya ingin bersilaturahmi dengan Abah dan Ummi, yang kedua saya ingin melamar putri Bapak yang bernama Loovinka Rain." Ujar pemuda tersebut dengan kepala tertunduk.


"Benar, Bah."


"Apa kamu mengetahui sesuatu hal tentang anak saya?"


Percakapan mereka terhenti beberapa saat, ketika Ummi Niar datang membawa sebuah nampan berisi dua gelas teh dan satu toples makanan ringan.


"Diminum dulu, Nak."


"Terima kasih, Ummi."


Setelah menyeruput teh hangat tersebut, percakapan mulai terjadi lagi antara Abah Ruslan dengan Pemuda itu.


"Saya tidak mau jika nanti kamu menyesal setelah mengetahui perihal yang sesungguhnya mengenai putri saya. Putri saya itu janda, dia bukan perempuan sempurna seperti perempuan lainnya. Dia mandul. Dan saat ini, pramedis telah mendiagnosa dengan penyakit kanker jantung. Apakah kamu yakin masih ingin melamarnya?"


Abah Ruslan dengan beratnya menyampaikan perihal itu kepada pria lain. Sebenarnya ada rasa tidak rela ketika mengetahui takdir putrinya sepahit ini. Tetapi Abah Ruslan yakin jika Sang Pencipta itu maha adil, suatu saat nanti pasti putrinyaa akan mendapatan kado terindah.


"Saya tetap akan melamar putri Abah. Saya percaya takdir, jodoh, hidup, mati, bahkan perihal keturunan sekali pun, itu sudah Allah tentukan."

__ADS_1


Dari kejauhan Ummi Niar terlihat tersenyum bahagia. Saat keadaan anak semata wayangnya seperti ini, ternyata masih ada lelaki yang dengan ikhlasnya ingin menyunting putrinya.


"Apa alasanmu ingin melamar putri saya?"


"Karena dia adalah jawaban dari istikharah saya."


Ummi Niar pun mencoba menimpali percakapan kedua lelaki tersebut. "Kalau ummi boleh tahu, apa agamamu, Nak?"


"Agama saya sama dengan Abah dan Ummi."


"Baiklah, semoga keputusanmu diridhai oleh-Nya. Kamu bisa kemari lagi besok hari Minggu untuk bertemu dengan putri saya."


Rain tak bergeming sedikit pun saat mendengar cerita umminya. Dia benar-benar terkejut ketika ada lelaki yang ingin mengkhitbah meskipun sudah mengetahui semua perihal dirinya. Apakah Tuhan menjadikanku sebagai jawaban atas istikharah seseorang? Jika memang benar siapa Avicenna itu?


"Kamu bisa memberikan jawaban kepada pemudia itu besok lusa, karena hari Minggu besok Ia akan kemari lagi."


"Tapi Rain, kan belum tahu pemuda itu, Bah," sanggahnya secepat mungkin.


"Ya lusa, kan dia kemari lagi, jadi kamu bisa melihat wajahnya. Lalu, berdoa dan minta petunjuk Allah, kok bingung to, Rain.''


________


Malam harinya seperti biasa. Setelah melakukan makan malam ketiganya tengah bersantai di teras depan rumah mereka. Dengan di temani sawut singkong dan kacang godok kesukaan Abah Ruslan.


Rain tidak terlalu semangat saat terlibat percakapan dengan kedua orang tuanya. Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada Mario. Mario sedang apa? Mario lagi di mana? Apakah Mario benar-benar marah? Dan haruskah aku menerima lamaran Avicenna? Astaghfirullahhaladzim.


"Lagi mikirin apa, Rain?"


"Nggak mikirin apa-apa kok, Bah," dustanya.


"Di sebelahmu itu ada malaikat Atit loh. Nggak takut daftar dosamu ditambah lagi?" Abah Ruslan memang selalu seperti itu ketika putri sematawayangnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Huft, Abah selalu saja seperti itu."


"Rain hanya takut jika pemuda yang bernama Avicenna itu sama seperti Mas Restu."


"Beda kepala itu beda isinya, Sayang. Kamu jangan samakan dengan Restu. Kubur semua masa lalumu. Jangan jadikan momok yang menakutkan untuk masa depanmu. Besok setelah kamu melihat pemuda itu, mintalah petunjuk Allah, karena petunjuk-Nya itu maha benar, Nak." Ummi Niar berujar seraya meraih kepala Puterinya dan membenamkan di dalam pelukannya. Rain yang merasakan itu pun tersenyum seraya memejamkan mata.


"Abah Rasa bukan itu alasanmu! Apa kamu sedang suka dengan pemuda lain?"


"Tidak, Bah. Abah ini selalu saja tidak percaya."


"Subahanallah. Putri abah ternyata masih sama seperti dulu. Suka ngambek. Abah hanya bercanda, Sayang. Yasudah ayo segera tidur, ini dibereskan dulu tapi, ya. Abah mau ngasih makna perkutu dulu."

__ADS_1


_________________________


Yaaaaahhhhhh, Kok Avicenna sih, Ku kira Mario atau siapa gitu. Lah ini Avicenna siapa coba? Ciee Rain jatuh cinta sepertinya dengan Doktor Galend. Tapi telat Rain. Doktor galend udah pergi. jangan lupa vomentnya ya. Supaya aku semangat buat update. Eh tor, katanya ini cerita udah selesai sejak dulu dan tinggal publish? Yup benar sekali, karena hape author rusak dan nggak ada satu pun yang author paste di draft wp, jadi mau nggak mau author harus ngetik lagi, untungnya ingatan author tajam hehehehe. Dan untuk segala kesalahan dalam penulisan akan aku revisi setelah tamat. TbC


__ADS_2