
"Haaaa!" kagetnya.
"Ini, Mas Restu yang masak?"
"Iya. Aku sengaja tidak membangunkanmu. Karena aku ingin memberikan kejutan kecil untuk istriku."
"Terima kasih, Mas."
Beberapa bulan setelah insiden pingsan di depan apotek membuat hubungan Rain dengan Restu berangsur membaik. Restu yang dulu sudah kembali lagi.
Hari ini Restu tidak berangkat ke kantor. Ia lebih memilih menemani istrinya di rumah.
Perasaan bersalah masih menghantui pikiran Restu. Walaupun kejadian itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu.
****
Aroma masakan Rain begitu menggoda, memaksa masuk kedalam rongga hidung siapa pun yang berada didekatnya. Menendang cacing pita yang sedang meraung manja, meminta makan pada sang empunya
"Nggak ke kantor lagi, Mas?" sembari mengaduk tumis kangkung dan melontarkan pertanyaan kepada seorang pria yang tengah mengelap meja.
"Enggak, Sayang."
"Kan, kemarin sudah tidak ke kantor, Mas. Dan hari ini tidak ke kantor lagi? Mas Restu masih ingat, kan. Dengan pesan ummi?"
"Mas Restu tidak boleh seenaknya memanfaatkan kekuasan."
"Iya, Sayang aku ingat. Semua sudah di handle oleh pak danu. Karena aku cuti selama satu Minggu kedepan, Rain."
"Benarkah?"
"Iya, Rain. Sekarang selesaikan masakanmu dan aku sudah sangat lapar."
________
Setelah selesai sarapan, keduanya pun duduk di ruang tamu. Entah menunggu siapa. Yang jelas keduanya terlihat sangat bahagia.
"Rain," sapanya
"Hem."
"Bersiaplah, kita akan ke pondok pesantren Darul Ulum Bandar Lampung."
"Apa! Hari ini, Mas? Mau ada acara apa, Mas? Dan mengapa dadakan memberitahuku?"
"Kau mau aku santap atau segera bersiap-siap, Sayang?"
_________________
"Rain, cepatlah sedikit. Kita akan menempuh perjalanan cukup jauh."
"Iya, Mas. Sebentar."
Rain menatap pantulan dirinya pada cermin berukuran besar. Sudut bibirnya tertarik ke atas, senyumnya mengembang. Terlihat seorang perempuan dengan balutan busana muslim berwarna dusty pink dengan jilbab senada. Bibir yang tipis, mata yang sipit, dan gingsul yang menawan. Terlihat sangat sempurna.
"Mas."
"Rain?" timpal Restu dengan mulut yang sedikit terbuka.
Kenapa kau selalu terlihat cantik, kenapa Kau selalu membuatku seakan-akan ingin menyantapmu, Rain.
Satu detik hingga lima detik, "Sepertinya kita harus membatalkan ini, Rain."
"Kenapa, Mas? Dandananku ada yang salah, ya?"
__ADS_1
"Kau seperti malaikat, Sayang."
"Berhentilah menggodaku, Mas. Sudahlah ayo berangkat."
"Aku tidak menggodamu, Rain. Tapi pesonamu yang menggodaku."
****
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh K.H Mukhlisin Amir selaku pemilik pondok pesantren tersebut.
"Abah kira kau hanya bercanda untuk menghadiri pengajian akbar di sini."
"Nggeh mboten to, Bah."²
"Yasudah ajak istrimu masuk, di dalam sudah ada ummi."
Setelah berada di kamar tamu yang berukuran tidak terlalu besar, Rain lebih memilih merebahkan diri. Perjalanan yang memakan waktu sepuluh jam itu dirasa membuat tubuhnya mengalami patah tulang.
"Jadi tujuan Mas Restu ke mari karena ingin mengikuti pengajian akbar?"
"Iya, Sayang."
Tak terpikirkan hal itu oleh Rain.
Jika suaminya juga mempunyai sisi positive tentang agama. Hatinya teramat sangat senang. Ternyata pria yang terkenal menjengkelkan itu juga mempunyai kepribadian baik.
****
Pukul setengah sembilan pagi, pondok pesantren tersebut sudah dipadati oleh ratusan orang dengan pakaian serba putih.
Acara pengajian akbar tersebut sudah dimulai. Setelah itu, seorang Kyai menyampaikan inti dari pengajian tersebut yang tak lain mengenai Riba.
"Hadirin Rahmatullah, mungkin kita tidak asing lagi dengan kata 'Riba'.
Di era modernisasi saat ini, riba sudah sangat mendarah daging dikalangan warga Indonesia. Jadi apa sih yang dimaksud dengan riba? Riba yakni, akad yang terjadi dengan pertukaran tertentu. Tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara' atau terlambat salah satunya.
Misalnya, saya meminjam uang kepada Pak Zainuddin. Lalu Pak Zainuddin meminjami uang tersebut kepada saya. Dengan syarat, saya harus bersedia mengurus hewan peliharaannya.
Lalu kenapa dikatakan, riba? Karena pada akad tersebut, salah satu pihaknya memberikan syarat. Dan mengambil keuntungan dari akad pinjam meminjam tersebut. Riba itu haram.
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran" (Q.S Al-Baqarah ayat 276)
Saya sengaja tidak membaca ayatnya.
Supaya nanti para hadirin membuka kitab suci Al-Qur'an dan membacanya.
Kalau tidak seperti itu, nanti para hadirin tidak dapat kesempatan membaca Al-Qur'an. Apalagi yang jarang-jarang ngaji tuh.
Sindir Sang Kyai dengan nada bicara bercanda. Lalu diakhiri dengan sebuah gelak tawa.
"Kok mboten enten sing tanglet maksud surah Al-Baqarah ayat 276? Nopo sampun ngantuk? Nopo sampun ngelih? Nopo sampun ngeroso pinter?"³ tanya Sang Kyai dengan bahasa Jawa halus khas orang Bandar Lampung.
"Enten, Mbah Kyai, enten."⁴
"Alhamdulilah kalau masih ada yang bertanya. Berarti masih tetap menjadi manusia yang haus akan ilmu."
Pada ayat tersebut dikatakan bahwa Allah sangat membenci orang-orang yang tetap dalam kekafiran. Maksud dari kekafiran tersebut adalah, orang-orang yang masih melakukan riba.
Intinya riba itu dosa yang sangat dibenci Allah. Dosa riba itu nge(riba)nget. Kita nggak akan kuat nanggung dosanya.
Suasana di pondok pesantren tersebut tampak hikmat. Ditambah udara kota Bandar Lampung yang sang sejuk. Udara yang belum terkontaminasi dengan polusi, panas matahari juga tidak terlalu menyengat. Berbanding dengan di kota tempat Rain tinggal.
Mengapa saya katakan dosanya sangat berat? Karena riba juga memakan yang bukan haknya.
__ADS_1
Rasullulah Saw bersabda : "Satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan sepengetahuannya, itu lebih berat dosanya, daripada tiga puluh enam kali berbuat zina" (H.R Ahmad dengan sanad Shahih)
Lalu, saya pernah diceritakan seperti ini oleh guru ngaji saya. Beliau bercerita tentang Nabi Ibrahim A.s dan satu biji kurma. Kenal, kan dengan Nabi Ibrahim? Itu loh, bapaknya Nabi Ismail A.s.
Dulu pada saat Nabi Ibrahim A.s
Sedang beribadah di Mekkah.
Lalu beliau sempat membeli satu kilogram buah kurma, pada kakek tua yang berumur sekitar tujuh puluh tahun. Lalu, saat sedang ditimbang, Nabi Ibrahim A.s melihat satu buah kurma tergeletak di sebelah timbangan. Karena beliau mengira itu adalah bagian dari kurma yang Ia beli, beliau pun memakannya. Setelah itu beliau kembali ke Mekkah.
Pada saat itu, Nabi Ibrahim A.s sedang berdoa. Namun, beliau tidak sengaja mendengar percakapan dua malaikat.
"Bukankah, itu Nabi Ibrahim A.s? Yang doanya selalu dikabulkan oleh, Allah?"
"Iya. Namun itu dulu. Sekarang sudah tidak. Karena empat bulan yang lalu, beliau memakan satu buah kurma yang bukan haknya."
Hati Nabi Ibrahim A.s seketika remuk. Beliau merasa sia-sia selama empat bulan ini. Baik shalatnya, puasanya, dan semua ibadahnya tidak diterima lagi oleh Allah.
Kemudian, beliau bergegas menuju ke pedagang kurma tersebut. Namun, si pedagang kurma sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Nabi Ibrahim A.s pun panik, bagaimana beliau bisa meminta pengikhlasan untuk satu buah kurma tersebut. Akhirnya beliau meminta pengikhlasan kepada anak pedagang kurma. Nabi Ibrahim A.s pun lega, karena sudah mendapat pengikhlasan. Namun, kata si anak pedagang kurma itu, Nabi Ibrahim A.s harus meminta pengikhlasan kepada ketujuh saudaranya yang bertempat tinggal sangat jauh.
Akhirnya pun, Nabi Ibrahim mencari kediaman ketujuh saudaranya. Nabi pun merasa lega karena akhirnya ketujuh anak si pedangan kurma juga memberikan pengikhlasan pada Nabi Ibrahim A.s
Para Hadirin Rahmatullah.
Itu hanya sebiji kurma. Mampu menghalangi segala doa dan menghambat diterimanya ibadah kita. Lalu, sudah berapa banyak hak milik orang lain yang kita makan?
Na'uzubilahmindzalik.
Semoga Allah ta'ala mengampuni segala dosa kita. Mungkin, itu saja yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apa bila banyak kesalahan yang disengaja atau tidak. Karena kesempurnaan hanya milik Allah ta'ala.
Wabillahhitaufik walidayah wassalamu'alaikum warahmatullahiwabarakattuh.
Sekitar pukul empat sore, mereka telah sampai di kota tempat mereka tinggal. Udara yang dihirup pun sudah berubah. Tidak sesegar di kota tapis berseri. Hal indah di kota Bandar Lampung akan terus Ia patri dalam hati.
Aku serius, sayang. ( Terjemahan dari bahasa Inggris )
Ya tidak lah, Bah. ( Bahasa Jawa halus, orang di daerah Bandar Lampung khususnya di daerah pondok pesantren biasanya menggunakan bahasa ini. Ketika hendak berbicara kepada orang yang lebih tua )
Kok tidak ada yang bertanya? Apa sudah ngantuk? Apa sudah lapar? Apa sudah ngerasa pintar. ( Bahasa Jawa halus, orang di daerah Bandar Lampung khususnya di daerah pondok pesantren biasanya menggunakan bahasa ini. Ketika hendak berbicara kepada orang yang lebih tua )
Ada, Mbah Kyai, ada. (Bahasa Jawa halus, orang di daerah Bandar Lampung khususnya di daerah pondok pesantren biasanya menggunakan bahasa ini. Ketika hendak berbicara kepada orang yang lebih tua )
Jangan lupa vote dan komentar ya. Supaya author semangat ngetik.
__ADS_1
Jangan jadi pembaca gelap ya. Ngetik juga butuh ide myread.
Please klik icon bintang.