Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 13. Maafkan Aku.


__ADS_3

Sudah dua hari ini sejak kedatangan Malasemua menjadi kacau. Rain terlihat pucat, bekas air matanya masih tertinggal pada kulit pipi. Rain juga enggan untuk menyapa suaminya. Ia lelah jika harus seperti itu terus. Dibiarkan ketika dicaci merupakan hal yang tidak disukai siapa pun.


Sore itu, Ia bergegas menuju dapur guna memasak untuk makan malam suami dan adiknya. Rumah megah itu terlihat sepi, sunyi seperti tak bertuan dan lagi, terlihat menyakitkan dengan ingatan kejadian kemarin lusa.


"Kirain nggak akan keluar kamar, Kak. Aku pikir mau bertelur."


"Dik Yordhii ini ada-ada saja. Sudah sana cepat mandi, keburu adzan Maghrib," lirihnya.


"Kakak ipar sudah baikan sama, Kak restu? Kak restu memang brengsek. Maafin kak restu, ya?" ucapannya, seraya menatap manik mata istri kakaknya tersebut. Yordhii merasa kasihan.


"Kami baik-baik saja, Dik. Sudah cepat mandi. Bujang tidak boleh mandi malam-malam."


Aku salut dengamu, Rain. Setelah apa yang terjadi, kamu masih bisa tersenyum. Kamu wanita yang kuat. Yaallah, berikan aku istri seperti dia.


_____________


"Dik Yordhii, kamu jangan makan dulu, ya. Nunggu kakakmu pulang. Supaya kakakmu ada temannya."


"Terus Kakak ipar mau ke mana? Nggak makan lagi?" selidiknya.

__ADS_1


"Kakak mau shalat dulu, lagian kakak masih kenyang."


Setelah selesai membaca Al-Qur'an, perempuan itu kembali berdialog kepada Tuhannya melalu dzikir malam. Alunan tastbih itu bagaikan nyanyian alam, begitu menenangkan, menyejukkan jiwa-jiwa yang lalai akan kewajiban.


___________


"Kak! Cepat ke sini. Gue udah lapar banget!" panggil Yordhii kepada Restu yang terlihat baru saja pulang.


"Salah sendiri nungguin gue!"


"Kalau nggak karena kakak ipar juga, gue nggak sudi!"


"Istri Lo pucat banget, samperin gih di kamarnya."


Restu pun bergegas menemui istrinya. Pintu tidak terkunci, netranya menangkap sosok perempuan dengan mukena solat tengah meringkuk di atas hamparan sajadah. Restu menghampiri perempuan tersebut. Dipandangi wajahnya, tampak jejak air mata yang mengering. Mungkin Rain baru saja menangis.


Restu merasa gagal menjadi seorang suami. Ia selalu saja menyakiti perempuan setegar istrinya, Ia juga selalu membuat istrinya menangis. Pria itu menangis, tangisnya terlihat tulus. Tanpa Ia sadari air matanya terjatuh di wajah ayu sang istri. Rain yang merasakan hal itu pun, sontak terjaga.


"Mas Restu? Ada apa menangis?"

__ADS_1


"Hukum aku, Rain. Aku ini bukan suami yang baik untukmu. Aku selalu membuatmu terluka. Tapi sungguh, Rain. Aku tidak pernah mempunyai niat untuk menjauhimu seperti ini, aku hanya malu dengan diriku sendiri. Silakan, Rain. Tinggalkan aku, carilah lelaki yang bisa membawamu ke jannah-Nya. Dan yang bisa membahagiakanmu, bukan seperti aku, selalu menyakitimu. Carilah rumah ternyaman yang sesungguhnya."


"Istighfar, Mas. Jangan main-main dengan perceraian. Perceraian memang halal, namun itu perkara yang dibenci Allah. Jangan biarkan setan berpesta atas kemenangan menggoda rumah tangga kita. Aku istrimu, sudah kewajibanku untuk ta'at kepada Mas Restu."


Tangan kanan Rain mulai menyentuh dada bidang suaminya, "Jangan memintaku untuk mencari rumah ternyaman lagi. Karena rumah ternyamanku ada di sini."


"Tapi, Rain?"


"Sudah, Mas. Jangan kau bahas lagi. Dan berhentilah menangis. Aku bahagia menjadi istrimu. Pun, aku juga tidak akan meninggalkanmu, apa pun yang terjadi."


"Terima kasih atas semua baktimu kepadaku, Rain. Kamu adalah istri dunia jannahku. Kamu adalah bidadari jannahku. Maafkan semua kesalahanku. Aku benar-benar mencintaimu," ucapnya seraya terisak.


Tumpukan awan kelabu sudah mulai berdatangan. Saling menghiasi langit malam menjadi tak terang benderang. Sepertinya, alam juga merasakan, betapa pilunya wanita yang sedang bersemayam di dalam pelukan.


Rasullulah bersabda "Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci oleh Allah adalah perceraian."


"Singgasana raja itu, kita ketahui betapa kokohnya. Terlebih singgasana Allah, kokohnya tidak dapat terbayangkan. Jika terjadi perceraian maka singgasana Allah yang demikian hebat kokohnya itu, akan bergetar. Hal itu dapat diilustrasikan bahwa Allah sangat membenci perceraian dan menahan amarahnya sehingga bergetar singgasananya. Bukankah orang yang menahan amarah tubuhnya gemetar dan singgasana tempat bersemayamnya bergetar?"


___________________

__ADS_1


__ADS_2