Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 58. Kukira


__ADS_3

"Mah, tolong cepat ke sini. Rain tadi pingsan dan sampai sekarang belum sadar. Galend sudah memberikan penanganan tapi Rain tetap tidak sadar."


"Ok. Kamu tenang dulu jangan panik. Mamah akan ke situ, selama mamah belum sampai kamu pastikan denyut nadinya dan jangan biarkan dia tidur dengan bantalan apa pun."


Mario berpikir jika Rain sedang hamil. Pasalnya sudah sepuluh hari ini sang istri sering pingsan, mual-mual, dan bahkan sering bersikap aneh seperti ibu hamil pada umumnya. Namun ketakutanya semakin bertambah, saat ba'da maghrib tadi Rain pingsan dan sampai sekarang belum juga sadar.


Kurang lebih tiga puluh menit Arumi telah berada di rumah Mario. Doktor cantik itu mulai bergelut dengan alat-alat medisnya. Setelah beberapa saat memeriksa kondisi sang menantu, Arumi mulai mendekati anak semata wayangnya itu dan menjewer telinga kanannya.


"Aduh, Mah. Sakit."


"Kamu beri menantu mamah makanan apa?"


"Ya, seperti yang Mamah katakan sebelumnya. Aduh, Mah lepasin, sakit."


"Galend rasa Rain itu hamil, Mah. Karena pada dasarnya hamil muda akan cenderung mengalami mual yang disebabkan oleh peningkatan hormon estrogen. Kalau masalah sering pusing itu juga galend rasa pengaruh dari kehamilan. Sebab perempuan yang sedang hamil muda wajar bila mengalami pusing. Pusing itu sendiri karena perubahan hormon. Dan hormon kehamilan yang diproduksi membuat pembuluh darah semakin melebar."


"Kamu yakin menantu kesayangan mamah hamil?" Arumi sedikit memicingkan matanya seraya berjalan ke arah sang menantu dan menyelimutinya.


"Apa kamu sudah menyarankan Rain untuk melakukan test pack? Belum! Ya, kamu memang seperti itu, Galend!" Arumi sepertinya sudah terlalu hafal dengan jawaban apa yang akan diutarakan oleh putranya.


"Anak Mamah yang tampan, kamu tunggu apa lagi? Ayo silahkan ke apotek dan beli test pack!"


Meski pun sudah tiga puluh tahun, namun Arumi ada kalanya memanjakan sang anak bak putra kecilnya dulu. Benar saja, Mario yang tadinya menunduk pun kini perlahan-lahan mulai mendongakkan kepala dan mengitari peralatan medis yang ibunya bawa.


"Kenapa harus beli, Mah. Itu, kan Mamah bawa banyak. Ya Allah pelit banget sih sama anak sendiri!" kesalnya dengan bibir yang sedikit dimajukan.


"Enak saja ngatain mamah pelit! Kalau mamah nggak seperti ini nanti kamu tuman!"


"Tuman? Apa tuman?"


"Kebiasaan! Sudah cepat berangkat. Kamu mau mamah jewer lagi?"

__ADS_1


"Yasudah galend ke Rumah sakit aja. Lagian di Rumah sakit masih banyak stock test pack."


"Jangan! Kamu nggak boleh ambil yang di Rumah sakit. Mamah nggak mau tahu, kamu harus beli di apotek!"


"Ya Allah, emang kenapa sih, Mah?"


"Supaya kamu bisa merasakan momen indah ini, Sayang. Banyak dari seorang suami yang begitu bahagia dan bersemangat ketika membeli test pack untuk istrinya. Dan mamah tidak ingin kamu melewatkan momen ini."


*****


Tak tidur, Mario masih terjaga di samping sang istri. Dengan sesekali berdzikir kepada Allah. Memohon agar segala kecemasan yang ada segera berlalu. Tak terasa waktu begitu cepat. Kumandang Adzan subuh sudah mulai terdengar saling bersahutan dan tak luput dari nyanyian jangkrik yang begitu nyaring.


"Mario? Kamu sedang apa? Ayo kita jamaah," ajaknya.


Mario yang menyadari akan hal itu sesegera mungkin menghampiri Rain yang masih bergulat dengan selimut dorami. Kemudian Ia mengecup kening, pipi, bibir dan tidak lupa mencubit hidung sang istri.


"Moorning, Baby. Kau sudah tidur terlalu lama dan itu membuatku benar-benar khawatir, Rain!"


"Iya. Aku hampir saja gila jika kamu tidak bangun."


"Terima kasih, Mario. Kamu selalu menghawatirkanku."


"Apakah hanya terima kasih?" 


"Lalu?" tanyanya dengan kening yang dikernyitkan.


Mario pun tersenyum dan mulai mencairkan ide-ide konyolnya.


"Pipi dan bibirku sudah lama sekali tidak kau jamah, Rain."


Cup ....

__ADS_1


Dulu sewaktu masih dengan Restu, Rain memang jarang sekali melakukan shalat subuh berjamaah dengan suaminya. Ia lebih sering seorang diri saat menghadap Sang Khaliq. Namun tidak sedikit pun Ia permasalahkan hal itu. Dan sekarang semuanya sudah benar-benar berubah, subuhnya dan shalat sunah mau pun fardhu lainnya selalu Ia kerjakan bersama Mario, sang suami dambaan wanita. 


Biasanya setelah shalat subuh berjamaah, keduanya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke area Sky House Alam Sutera. Area jalanan Alam Sutera Bumi Serpong Damai memang sangat sejuk, asri, serta tidak terlalu bising. Rumput-rumput hijau dan beberapa pepohonan yang tumbuh tertata juga menjadi daya tarik tersendiri bagi keduanya.


"Aku suka tinggal di sini, damai banget," katanya.


"Alhamdulillah kalau kamu suka. Kalau nggak nyaman dan mau pindah, nanti bilang ke aku, ya." Mario yang berjalan beriringan dengan Rain pun merasa gusar ketika akan menyampaikan pesan Arumi semalam. 


"Memang mau pindah ke mana lagi?"


"Ke Planet Pluto. Biar nggak ada yang gangguin kita." Ujarnya disertai tawa halus. Kemudia Mario menghentikan langkahnya dan meraih kedua tangan sang isteri.


"Sayang, tadi malam mamah ke rumah kita. Mamah khawatir sekali sewaktu kamu pingsan dan kamu sering seperti ini. Lalu, mamah titip ini untuk kamu."


Lelaki dewasa itu mulai mengeluarkan dua pcs benda panjang berbentuk pipih yang masih rapi dengan kemasannya. Mario yang menyadari perubahan pada wajah istrinya pun langsung mengusap pucuk kepala Rain dan memeluknya. Kekhawatiran yang membuatnya gusar akhirnya terjadi juga. Mario sudah menebak jika sang istri akan seperti ini. Ia takut jika Rain berpikir negatif kepada dirinya dan Arumi.


"Aku tidak mau test pack, Mario. Ini hanya akan mengecewakanmu dan juga Mamah Arumi. Sudahlah jangan paksa aku untuk melakukan hal ini. Aku ini sudah jelas-jelas mandul, Mario."


"Kamu tahu dari mana kalau kamu mandul? Memang sudah didiagnosa seperti itu?"


"Mbak Keny dan Mas Restu."


"Jangan suka putus asa sebelum kamu tahu realitanya." 


Cahaya mentari mulai menyusup melalui bilah-bilah pepohonan. Cahayanya mulai menghangatkan. Menandakan bahwa pagi sudah benar-benar datang dan menggantikan tugas sang fajar. Kedua insan yang masih asik berdiri di tempat itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang.


"Kamu harus percaya atas kesembuhan dirimu. Jika kamu sendiri tidak percaya, lalu bagaiamana Allah mau memberikan kesembuhan itu."


"Iya, Sayang."


"Nice! Ternyata efek pingsanmu semalam memberikan dampak positif, Baby."

__ADS_1


*********


__ADS_2