
"Mas Restu bangun shalat dulu," lirihnya seraya mengusap kulit pipi sang suami.
"Kamu kalau mau shalat, ya sholat aja! Nggak usah gangguin aku tidur. Nggak peka banget sih jadi istri!"
Lagi-lagi sebuah penolakan dan cacian yang Rain dapatkan. Sudah hampir dua tahun setelah pernikahannya yang belum juga dikaruniai keturunan membuat sikap Restu menjadi dingin. Rain sadar, ini juga kesalahannya yang sampai sekarang belum bisa memberikan anak pada Restu. Tapi ini juga qadarullah tak mampu dirinya menolak.
"Yasudah, Mas Restu tidur lagi, ya. Maaf sudah mengganggu tidur nyenyakMas Restu."
Setelah menunaikan shalat tahajud dan shalat subuh, Rain tidak kembali tidur. Ia lebih memilih menuju dapur guna menyajikan masakan. Selama menyandang status sebagai istri dari Restu Pradiftha, Rain sudah melakukan kewajibannya dengan sangat baik. Lepas tersaji di meja makan, Rain melangkah menuju kamarnya guna membangunkan sang suami.
"Assalamualaikum, Mas."
"Sudah jam 06.00 pagi. Buruan bangun terus mandi. Nanti telat loh."
"Eeumm ... kamu dari mana saja, Rain?" gumamnya seraya memeluk pinggang ramping sang istri. Hal itu kontan membuat Rain kaget.
Memang, ini bukan kali pertama bagi mereka. Tetapi, tetap saja ada rasa heran. Sebab baru beberapa jam yang lalu sang suami memaki dirinya. Eh, kini berubah seperti bunglon saja.
"A-aku tadi."
Cup ....
"Morning kiss untukmu, Rain."
____________
Setelah selesai sarapan, mereka pun pergi menuju tempat kerjanya masing-masing. Namun kali ini Restu meminta agar Rain berangkat bersamanya. Karena memang toko kue Rain searah dengan kantor milik Restu.
"Nanti pulangnya aku disuruh naik taxi apa Mas jemput?"
"Aku jemput saja. Lagian nanti aku pulang lebih cepat."
"Oh, baiklah, Mas."
Mobil sport yang mereka tumpangi pun berhenti di depan toko kue milik Rain. Sebelum keluar, Rain pun berpamitan kepada suaminya. Tetapi Rain tidak langsung turun, Ia berharap suaminya akan meninggalkan jejak kehangatan di kulit keningnya. Rupanya tidak, hatinya pun teriris perih.
"Ngapain ngelihatin aku seperti itu? Katanya mau turun? Nunggu apa lagi!" ketus Restu.
__ADS_1
*****
"Mbak, ruangan Pak Restu di mana?" tanya perempuan itu kepada resepsionis kantor.
"Mbak ada perlu apa dengan, Pak Restu?"
"Kasih tahu saja jangan banyak tanya!"
Setelah mendapat petunjuk, perempuan itu pun mencari ruangan Restu. Seketika senyum piciknya mengembang ketika Ia mendapati sebuah ruangan berukuran 8x8 dengan fram kucing tercantol sejajar.
"Halo! Darling apa kabar?"
Restu kaget bukan main ketika mendapati sosok perempuan yang ada di hadapannya.
Jantung berdetak kian tidak beraturan, amarah yang sudah tidak mampu Ia tahan pun ingin sekali dilontarkan. Namun Restu sadar, tak sepantasnya berlaku seperti itu kepada perempuan.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Kangen kamu, darl."
Dengan tingkah manjanya yang tiba-tiba memeluk Restu, anehnya tak ada penolakan dari dalam diri CEO tampan berkumis tipis. Alih-alih menolak, tangan Restu malah membalas pelukan itu dan melingkarkannya di pinggang Keny.
"Aku mau minta maaf sama kamu, Darl. Dan aku ingin memperbaiki semuanya. Kamu mau, kan. Maafin aku?"
"Perihal itu aku sudah memaafkanmu."
"Oh Lord! Thank you darl." Lagi, Keny kembali memeluk Restu dan menghujaminya dengan kecupan panas.
Restu yang sedari tadi menikmati perlakuan Keny pun bersikap sangat luluh bak orang yang sedang dihipnotis.
Setelah saling bertukar nomor telepon, Keny pun memutuskan untuk pulang ke apartementnya.
Di lain sisi, Rain sangat menikmati kehidupan fatamorgana ini bersama para donat dan juga kuenya. Rain memang sangat mahir dalam hal masak memasak. Tak diragukan jika donat buatan gadis berparas ayu tersebut disukai oleh banyak orang.
"Mbak Rain," sapa salah satu karyawannya.
"Iya, Za."
__ADS_1
"Mbak Rain, gimana sudah isi atau belum?"
"Belum, Za. Mungkin belum rezekiku."
"Sudah coba konsultasi sama dokter, Mbak? Saudara saya di kampung juga ada yang seperti Mbak Rain. Malahan dia sudah tujuh tahun menikah belum dikasih rezeki loh, Mbak."
"Belum sih, Mas Restu suka nggak ada waktu dan, ya tahu sendiri, kan. Mbak suka sibuk. Terus saudaramu itu gimana, Za? Sudah punyai anak atau belum?"
"Alhamdulillah, Mbak. Sekarang sudah mempunya anak. Karena setiap satu Minggu sekali mereka ke terapi herbal," jelas Liza dengan penuh keyakinan yang membuat Rain tersenyum lega. Setidaknya masih ada harapan untuknya mempunyai anak.
"Terus terapi itu di mana, Za?" tanya Rain penasaran.
"Di kampung saya, Mbak."
"Oh, terima kasih infonya, Za."
______
"Kamu di mana, Ken?"
"Aku di apartemant, darl. Ada apa? Kamu merindukanku?"
"Kirim alamat apartemantmu sekarang, aku akan ke sana."
Setelah mendapat alamat tersebut, Restu pun segera melesat menuju apartement Keny. Menyisiri keramaian ibu kota dalam gelapnya bahagia dalam rumah tangga. Setelah sampai, Restu segera menemui Keny. Selama berada di dalam apartement, keduanya pun saling mencumbu. Tanpa Restu sadari ada hati yang sedang Ia sakiti.
"Darl? ngapain ke sini sih?"
"Apa aku tidak boleh bertemu dengan perempuan yang aku cinta?" entah berasal dari mana kata-kata itu. Tiba-tiba terucap dari mulut Restu dengan begitu mudah.
"Kau masih mencintaiku, Darl? Ah, tampaknya tak perlu kau jawab aku pun sudah tahu jawabannya."
Kepalang sudah bagi Restu untuk menarik kata-katanya kembali. Mereka pun menghabiskan waktu di dalam apartement hanya berdua. Menghabiskan sisa senja dengan cara mereka masing-masing. Tanpa keduanya sadari, malam tiba menebar sunyi. Saat sadar, Restu terlonjak sebab Ia lupa jika Ia sudah melupakan janji untuk menjemput istrinya.
.
.
__ADS_1
Ig : Aiir_Wattad.
Fb literasi : Pena Senja