
Keny POV
Namaku adalah Marry Kenysha.
Aku kerap dipanggil Keny oleh keluaragku, pun dengan keluarga Restu Pradifta. Kebetulan aku dan Restu masih kerabatan. Entahlah dari mana asalnya, aku sudah lupa perihal Silsilah¹ kekeluargaan kami.
Bagiku, Restu adalah sosok pria luar biasa. Dia sangat penyayang terhadap wanita. Bisa dikatakan aku sangat beruntung mempunyai Restu pada saat itu.
Namun karena egoku, aku kehilangan dirinya. Mengingat beberapa tahun lalu membuat dadaku sesak seketika. Lagi-lagi semuanya hanyalah kenangan.
Yang tidak pernah aku sangka adalah
Restu pradifta menikah dengan adik kelasku yang dahulu sempat aku temui di koridor sekolah kami.
****
"Dia siapa, Rif?" tanyaku pada pria berbadan gembul yang tengah melepas ikat sepatunya.
"Dia Rain. Lo lama sekolah di sini masa nggak kenal sih sama adik kelas sendiri! Beuh parah."
"Sayang, ngapain diam di sini?"
"Eh ... enggak kok, Sayang. Tadi lewat aja dan kebetulan ketemu sama si arif."
"Yasudah ke kantin yuk, lapar."
Kami pun meninggalkan kelas itu dan lebih memilih menuju surganya para siswa. Kantin itu, kantin yang sampai sekarang masih tetap aku kunjungi. Hanya agar aku dapat melihat coretan-coretan namaku dan Restu. Setiap aku pulang ke Indonesia, aku tak pernah absen mendatangi kantin itu.
Kantinya masih sama, masih dengan cat tembok yang sama dan kenangan yang sudah berbeda. Sekarang yang duduk di sana hanya aku seorang.
__ADS_1
Seperti biasa, sembari menunggu pesanan kami datang, Restu meraih tanganku dan Ia mengusapnya lembut. Entahlah, apa yang sedang ada di dalam pikirannya kala itu.
"Aku benar-benar mencintaimu, Ken. Jadi tolong jangan lirik lelaki lain selain aku."
"Berjanjilah, Ken," sambungnya lagi.
"Baiklah darl, aku berjanji."
Ah siapa yang harus aku salahkan sekarang ini jika bukan diriku sendiri. Namun aku benci dengan siapa pun yang berhasil memiliki Restu. Termasuk anak kecil itu!
Baikalah, akan aku ceritakan lagi, kenangan manisku bersama, Restu. Semuanya masih tergambar jelas di memori ingatan ini. Bagaiman tidak, sembilan tahun lebih, aku bersama dia. Dari seragam merah putih, yang menjadi saksi cinta kami, sampai seragam biru putih yang menjadi saksi penghianantan cintaku kepada Restu.
Kenangan demi kenangan malah memaksaku untuk mengingatnya. Namun bukan keny namanya jika kalah dan berhenti dalam hal ini. Hanya perkara kecil bagiku untuk dapat menyingkirkan perempuan tersebut.
Tunggulah aku restu. Aku akan pastikan, jika tidak lama lagi kamu akan menjadi milikku. Dan untuk perempuan tengil itu, hah! Jangan harap bisa memiliki Restu Pradifta. Kamu terlalu bocah untuk bisa memiliki Restu.
Memang bukan sekarang waktunya. Tapi lihatlah, kehancuran akan mulai menggerogoti rumah tangga kalian.
____________
Itu semua adalah khayalanku. Dan sekarang aku telah mendapatkan semuanya. Mendapatkan Restu Pradifta, kebahagiaan, dan mertua yang menyayangiku. Aku memang gila, bahkan lebih dari sekedar gila. Melakukan hal bejat yang seharusnya tidak pernah aku lakukan.
Tapi ini hidup, bukankah kita berhak memilih jalan kita masing-masing. Perkara dosa, itu urusan nanti. Yang utama adalah mendapatkan kebahagiaan. Jangan pernah kalian tiru! Ini adalah prinsipku. Suka tidak suka, aku yang menjalaninya.
Beberapa bulan yang lalu, ketika aku masih di Jerman. Malam itu aku tengah berada di bandar udara internasional Frankfurt am Main, Jerman guna pulang ke Indonesia.
Keesokan harinya, aku sudah tiba di bandar udara internasional Soekarno Hatta. Sesaat aku segera bergegas menuju kediaman Tante Mala.
Tante Mala cukup antusias ketika mendengar penuturanku. Bahkan raut wajahnya masih tergambar jelas di memori otak ini. Dan malam itu, Tante Mala memintaku untuk menginap di kediamannya.
__ADS_1
Saat itu, jika tidak salah adalah hari pernikahan Rain dan Restu. Dan hari itu juga aku akan mengukir sejarah baru di dalam rumah tangga mereka. Kicauan burung seakan mengerti tujuanku datang ke sana
______________
"Kamu ada apa senyum-senyum sendiri?"
"Hanya ingin, Darl."
"Oh." Lalu restu melenggang, dan keluar dari kamarku. Sialan! Pikirku. Ternyata dia hanya mengambil tuxedo miliknya yang tertinggal semalam.
Cuaca hari ini begitu panas, kota Bekasi memang selalu seperti ini. Aku yang tengah berada di balkon kamarku hanya memakai daster bermotif kupu-kupu dan rambut yang sengaja aku gelung ke atas.
Sekitar lima langkah dari tempatku duduk, ada sebuah meja kecil berwarna silver yang di atasnya terdapat dua botol wine. Aku memang ibu hamil. Tapi jangan sekali-kali mencoba untuk menjauhkanku dari minuman tersebut.
Yakni suatu catatan atau bahan yang menggambarkan asal usul dalam hubungan kekeluargaan sampai beberapa generasi.
Pisikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pisikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pisikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/pisikosis) karena seorang pisikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya.
Biasanya seorang pisikopat akan senang ketiga melakukan hal yang merugikan orang lain.
__ADS_1
__________