
Tidak perlu dipukul dengan godam atau disayat dengan belati. Perlakuan suaminya saja sudah cukup untuk meremukkan hati perempuan yang tengah menikmati semilir angin pantai.
Dentuman ombak dan juga kicauan burung membuat Rain tersenyum ketir. Pandangannya hanya tertuju pada ombak pantai yang sedang menari-nari. Jari lentik itu sesekali memainkan pasir pantai. Mengukirnya dengan gambaran hati namun sengaja ia bela tengahnya.
Mungkin gambar itu adalah isyarat bahwa hatinya sudah hancur oleh perlakuan suaminya. Terkadang saat pikirannya dangkal, Ia menginginkan sebuah perceraian. Tetapi setelah Ia pikir-pikir lagi, Ia tidak mau menjadi pecundang. Hampir delapan tahun Ia dan Restu bersama. Membangun semuanya bersama-sama. Dan sekarang hanya karena ujian orang ketiga dirinya menginginkan sebuah perpisahan.
"Hai! Assalamualaikum."
"Waalaikummussalam," jawab ketiga perempuan itu bersamaan.
"Di mana-mana kok selalu ada orang ini sih!" kali ini Liza yang berujar.
"Karena aku berjodoh dengan, Rain. Jadi di mana ada Rain maka di situ juga ada aku," ungka Mario seraya tersenyum.
Pria tersebut duduk menghadap hamparan pantai dengan balutan kaos berwarna abu-abu serta boxer selutut pun tak lupa memakai topi yang menutup rambut hitam legamnya.
"Oh, iya, Mario. Kemarin lusa aku melihat seseorang yang sangat mirip denganmu. Tetpi dia dokter. Apa kau mengenalnya?"
"Tidak," singkatnya.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara Rain dan Mario. Karena Liza yang tiba-tiba memecah keheningan.
"Mbak Rain, pakai gamis dan jilbab lebar seperti ini nggak gerah, ya?"
"Nggak kok. Malah nyaman banget. Walaupun gerah, jika sudah kewajiban ya harus dilakukan."
"Aku suka lihat Mbak Rain dengan pakaian seperti ini. Adem gitu di hati. Sebenarnya aku juga ingin seperti Mbak Rain. Tapi apa aku pantas? Aku bukan orang baik, Mbak," kata gadis sembilan belas tahun tersebut.
"Liz, menutup aurat itu kewajiban untuk semua wanita muslim. Mau dia orang jahat, nggak pernah shalat, nggak pernah puasa, dan nggak pernah ngaji sekali pun, dia wajib menutup aurat."
"Liza suka kupu-kupu tidak?"
__ADS_1
"Suka, Mbak. Kupu-kupu itu cantik."
"Kamu tahu, metamorfosis kupu-kupu?"
Lalu Mario yang merasa diabaikan pun menjawab pertanyaan Rain.
"Dulu dia adalah ulat yang menjijikkan."
"Nah, ya itu. Hijrah sama saja dengan metamorfosis. Kupu-kupu dulunya adalah ulat yang menjijikkan. Ulat yang dijauhi oleh sebagian orang. Tetapi sebab metamorfosis, akhirnya dia menjadi kupu-kupu yang cantik. Banyak diminati orang. Kita jangan melihat masalalu kita yang buruk. Fokus saja membenahi diri, ampunan Allah ta'ala itu nyata, Liza. Jika dosa kita seluas dunia, maka ampunannya seluas langit."
Rain menjelaskan itu semua dengan mata berkaca-kaca. Dirinya selalu takut ketika mengingat dosa. Begitu juga dengan Liza, perempuan itu sudah menganak sungai sejak tadi.
"Aku nunggu dapat hidayah sajalah, Mbak. Belum siap soalnya. Pasti gerah banget kalau masih awal-awalan." Tukas Sari yang mulai bersua seraya memainkan air pantai yang jernih.
"Hidayah itu dijemput, Sari. Bukan ditunggu. Kalau ditunggu nggak bakalan datang."
Tampaknya obrolan mereka tidak akan berakhir sampai di situ. Liza sangat bersemangat dengan topik pembicaraan tersebut. Liza selalu menimpali ucapan demi ucapan.
"Perempuan sekarang banyak kok yang berhijab."
"Lalu bedanya di mana, Mbak?" sahut Sari.
"Berdirilah, Liz."
"Coba kamu cari perbedaan antara mbak dan Liza."
Sari dan Mario mengamati kedua perempuan di hadapannya tersebut dari ujung kaki hingga kepala. Beberapa saat kemudian, pria itu menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Kalau Rain, pakai hijab lebar menjuntai ke bawah, wajah tanpa make-up dan gamis lebar. Sedangkan Liza, pakai hijab pendek yang disampairkan di pundak, wajah menor, bibir merah cabai, baju street, dan celana jeans."
"Enak yang mana untuk di pandang?"
__ADS_1
"Aku nggak naif. Kalau penampilan Liza memang menggoda. Tapi kalau kamu, lebih adem dipandang."
Lalu diakhiri gelak tawa oleh Mario.
"Adikku, Liza. Perlu kau ketahui, perempuan yang sudah balig wajib menutup aurat. Kau tahu, sehelai rambut kita yang terlihat oleh pria lain, itu sama saja kita sedang mendorong ayah kita ke dalam neraka. Bukan kita yang menanggung dosanya, Liza. Tapi ayah kita, suami, adik laki-laki, dan kakak laki-laki."
"Mbak Rain,"
Kemudian Liza dan Sari menangis dalam pelukannya.
"Aku ingin hijrah, tapi di lemariku tidak ada gamis dan jilbab seperti punya Mbak Rain," ujarnya seraya terisak.
"Besok mbak belikan, ya. Tidak ada kata terlambat bagi Allah."
"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka." (QS. An Nur: 31)
Perempuan berhijab belum tentu akhlaknya baik. Tetapi perempuan yang berakhlak baik sudah pasti akan berhijab.
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab: 59).
Dari ayat di atas sudah dijelaskan bahwa berhijab itu merupakan tujuan mulia untuk menjaga martabat wanita.
____________
Setelah beberapa saat, Rain merasakan sakit luar biasa di bagian dadanya. Pandangannya mulai kabur dan Ia pun kontan jatuh pingsan tepat di pelukan Mario.
Ketiga manusia yang menyadari itu pun langsung panik. Terlebih lagi Mario, pria itu bergegas membawa Rain ke dalam mobilnya dan langsung menyiapkan beberapa peralatan medis.
"Rain bertahan, Rain. Kalian tunggu di situ saja. Dan cepat hubungi yordhii," kelakarnya.
Mario yang terlihat tak berwibawa, namun kini setelah bergulat dengan peralatan medisnya pun menjadi sosok yang tak pernah dilihat Rain. Mungkin jika Rain sadar dan melihat hal itu pun Ia akan terkejut jua.
__ADS_1
"Hah! Jantungnya tidak berdetak. Manusia purba, bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu."