Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 6. Inikah Cinta?


__ADS_3

"Selamat pagi sayang, cuup."


Matanya masih tertutup rapat.


Namun sinar matahari memaksanya untuk segera membuka mata. Ah, bukan sinar matahari, lebih tepatnya adalah kecupan yang baru saja mendarat di bibir wanita itu.


"Mas," sapanya lirih disertai mata yang mengabsen sekeliling kamar. Lebih tepatnya melihat benda pipih yang berada di atas nakas.


"Astaghfirullah haladzim! Jam enam pagi!"


Rain berteriak dengan bibir yang membulat sempurna, serta mata mendelik tajam seakan-akan hendak loncat dari sarangnya.


"Kenapa nggak bangunin sih, Mas?" protesnya.


"Kan lagi nggak shalat, jadi aku pikir bangun agak siang bukanlah masalah."


Rain pun menyibak selimut doraminya lekas beranjak dari ranjang dan menyambar jilbab biru muda yang tergantung di lemari kayu. Lalu perempuan pecinta kucing itu memakainya dengan asal.


"Tetap saja, Mas. Aku harus bangun lebih pagi. Aku ini istrimu. Jadi sudah kewajibanku untuk bangun lebih pagi dan menyiapkan segalanya untuk, Mas Restu. Memangnya Mas Restu mau setiap pagi nyiapin sarapan?"


Bibirnya terus menggerutu kesal py sang suami, sembari berjalan meninggalkan kamar dan juga penghuninya. Rain pun lebih memilih menuju kamar mandi karena ada sesuatu yang harus Ia ganti.

__ADS_1


________________


Setelah selesai membersihkan diri, perempuan itu hendak keluar.


Namun, langkahnya terhenti ketika dikagetkan dengan kehadiran sang suami yang berada di balik pintu.


"Astaghfirullah, Mas Restu! Ngapain sih di sini? kamar mandi sebelah, kan kosong!" kesalnya, sambil nyelonong meninggalkan tubuh jangkung yang terkekeh geli.


"Aku, kan merindukan kamu."


Jawaban yang tidak masuk akal


Umpatnya dalam hati, berhenti sejenak guna menatap pelupak mata sang suami, lepas itu berlalu tanpa henti.


Setelah selesai sarapan, mereka bersiap-siap untuk beraktivitas.


Restu menuju kantor dan Rain menuju toko kuenya. Beberapa hari ini memang toko kue miliknya amat sangat ramai. Terlebih lagi ada potong harga dan menu baru yang tak kalah nikmat dari menu sebelumnya.


"Hati-hati, Mas."


Teriaknya kepada sang suami setelah berpamitan. Dari seberang sana terlihat dua karyawannya yang tengah tersenyum menggoda. Seolah-olah ingin merecoki sang empunya toko.

__ADS_1


"Ciiee yang lagi bahagia."


"Makanya buruan sukses biar bisa cepat-cepat nikah." Katanya di sela-sela gelak tawa. Hal itu kontan mendapat wajah lawan bicaranya memanas sempurna


"Beuh, mukamu, Liz. Mbak cuma bercanda," ungkapnya lagi.


_________________


Hari sudah semakin sore. Toko kue itu pun sudah tutup sejak setengah jam yang lalu. Rain dan Restu sudah berada di dalam mobil, namun keduanya tidak saling bertegur seperti biasanya, hanya bungkam yang menemani perjalanan.


Seorang pria yang tengah menduduki kursi kemudi terlihat sangat frustasi. Pun, Ia mencoba menyembunyikannya dari seorang wanita yang tengah menguap, pertanda ingin secepatnya tidur.


Rain yang menangkap perubahan aneh pada diri suaminya pun memilih mengalah untuk bertegur. Tetapi rasa ingin tahunya begitu menggebu-gebu.


"Mas Restu kenapa? Sakit ya, Mas?"


tanyanyaa antusias. Namun tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.


"Mas Restu dengar aku bicara, kan?"


"Eh ... iya Rain gimana? Maaf tadi konsen ke jalan sih, jadi nggak dengar kamu ngomong."

__ADS_1


Rain hanya mengiyakan alasan suaminya tersebut. Mungkin suaminya sedang kelelahan atau memang sedang ada masalah. Tetapi mengapa Restu tidak bercerita kepadanya.


"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menanyai sang suami," gumamnya lirih.


__ADS_2