
Restu tengah duduk di kursi ruang tamu, siang ini Ia sudah berada di rumah sejak lima menit yang lalu. Ia kesepian ketika mendapati kedua istrinya tidak ada di rumah. Keny entah pergi ke mana, sedangkan Rain masih berada di toko kue.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Loh, Rain. Kok sudah pulang?"
"Sudah. Mas Restu sendiri tumben pulang siang?"
"Iya Rain. Karena aku rindu kamu. Sini duduk." Kata Restu sambil tangannya menepuk sofa kosong di samping.
"Tidak, Mas. Aku ke kamar dulu."
Rain melangkah meninggalkan suaminya, Restu yang tidak mau kalah pun lekas berdiri dan menyusul tubuh sang istri. Kemudian, Restu memeluknya dari belakang. Restu mencium tengkuk sang istri dari balik jilbab lebarnya.
"Aku menginginkan kamu, Rain. Aku Rindu denganmu."
"Lepaskan, Mas. Aku gerah ingin mandi."
"Kenapa kamu selalu menjauhiku, Rain. Aku ini masih suamimu."
"Aku juga masih istrimu, Mas," balasnya tak kalah sengit.
"Lalu kenapa kamu selalu menjauhiku?"
__ADS_1
"Tanyakan saja pada diri Mas Restu. Apakah selama enam bulan ini Mas Restu memperlakukan aku layaknya istri?"
Rain merubah posisi. Keduanya kini saling bersitatap. Perempuan tersebut terus menghujami sang suami dengan tatapan. Kontan, hal itu membuat Restu semakin tidak paham.
"Kenapa Mas Restu berani seperti ini hanya ketika mbak keny tidak ada di rumah? Aku tahu. Mas Restu tidak ingin, kan melukai perasaan cinta pertama Mas Restu?" segelintir air mata telah mengalir dari kelopaknya, Rain menangis.
"Aku hanya menjaga perasaan kedua istriku, Rain."
"Kedua istri? Mungkin lebih tepatnya mbak keny saja yang Mas Restu jaga perasaannya!"
"Sudahlah, Rain. Hentikan. Jangan seperti ini."
"Sudahlah, Mas. Hentikan. Aku tahu selama kurang lebih tujuh bulan iniMas Restu selalu mengelabuhiku, kan? Mas, tidak perlu berpura-pura tidur denganku, jika tengah malam harus mengendap-endap menuju kamar mbak keny. Tidak perlu seperti itu, Mas." Rain menangis, awalnya ia tidak ingin mengatakan semua itu kepada Restu. Namun Restu sudah semakin keterlaluan. Hatinya sudah benar-benar sakit.
"Rain, aku tidak seperti itu."
Kemudian Rain menuju kamarnya dan mengunci pintu tersebut dari dalam. Jika awalnya Restu berkata tidak akan mencintai Keny, sungguh. Itu mustahil sekali. Tinggal satu atap dengan perempuan yang tengah mengandung anaknya sudah dapat dipastikan rasa cinta akan tumbuh seiringnya waktu. Apalagi, Keny adalah cinta pertamanya.
**************
"Duh, Bik. Nggak usah sok-sokan baik, deh. Aku tahu Bibik ini nggak suka sama aku. Besok-besok nggak usah buatin susu, aku nggak suka minuman seperti ini!" kelakarnya, seraya menyiramkan susu ke tubuh Bik Tinah
"Tapi, Nyonya. Ini wajib diminum karena Nyonya sedang mengandung."
__ADS_1
"Jika memang Mbak Keny tidak suka, letakkan saja di meja. Jangan seperti itu. Ini bukan salah Bik Tinah. Karena yang membuat susu selama ini adalah saya."
"Aku nggak butuh minuman macam itu!"
"Mas Restu, tolong ajari istrimu sopan santun. Katanya mau jadi ibu, susu ibu hamil saja dia tidak kenal. Jangan hanya wine yang diminum. Kasihan janinmu!"
Rain berujar dengan sedikit sarkastik, sejak tadi malam Ia sudah mempertimbangkan semuanya. Ia tidak ingin semakin lama diinjak-injak oleh Keny.
"Ayo, Bik. Nanti kita sarapan di luar saja."
"Wa'alqaitu alaika mahabbatamminnii walitushna'a alaa ainii."
Syahwat yakni dalam KBBI nafsu atau keinginan bersetubuh; keberahian
Artinya: "Dan aku telah tanamkan dari kemurahan-Ku perasaan kasih sayang orang terhadapmu; dan supaya engkau dibela dan dipelihara dengan pengawasan-Ku." (Qs Thaha: 39)
__ADS_1