
Hari ini Rain memenuhi janjinya, yaitu gamis untuk liza dan sari. Pukul sembilan pagi mereka sudah berada disalah satu butik di daerah Bekasi Utara.
Tidak hanya dengan dua karyawan dan adik iparnya. Tetapi Mario juga ikut. Mungkin Rain sudah terbiasa dengan Mario. Jujur diakuinya, kedatangan mario mampu menghapus luka dalam hatinya.
"Kak," sapa Yordhii.
"Iya, Dik."
"Aku ingin bilang sesuatu," katanya dengan sedikit ragu. Tampak jelas kegusaran bertengger pada wajahnya.
"Mengenai penyakit jantung kakak, ya? Kakak sudah tahu, waktu di rumah sakit kemarin kakak nggak sengaja dengar dan waktu di mobil juga."
Mario pun menyahut, "Kamu tahu dari mana, Rain?"
"Dari mamahu, Dokter Galend."
Mario celingukan, Ia menelan salivanya sendiri. Berusaha sebiasa mungkin agar Rain tidak curiga. Kemudian Ia mengalihkan pembicaraan, bertujuan agar Rain tak melulu membahas akan hal itu.
"Jusnya asin banget. Coba deh kalau nggak percaya."
"Rio! Kenapa kamu bisa menjadi dokter? Bukankah cita-citamu adalah pilot? Ayo ceritakan padaku," cecarnya dengan berpura-pura menjadi sangar.
"Iya tuh Bang Rio. Katanya kemarin mau cerita. Sudahlah nggak usah ditutup-tutupi lagi. Toh, Kakak ipar sudah tahu."
"Baiklah, aku akan cerita." Kata Mario, pun seraya melepas topi merahnya. Tidak dapat dipungkiri memang. Mario dengan rambut mowhaknya terlihat lebih dewasa nun berwibawa.
"Memang benar, Rain. Dulu cita-citaku adakah pilot. Aku ingin seperti papahku menjadi pilot yang hebat. Tapi suatu ketika hal buruk menimpa papahku. Papah meninggal dalam kecelakaan peswat lima tahun yang lalu. Dan kau tahu apa yang terjadi? Mamahku, perempuan paruh baya centil yang kalian temui kemarin sempat mengalami gangguan jiwa karena mamah merasa bersalah sebab tidak bisa mengembalikan nyawa papah. Aku sedih, Rain. Baru saja aku kehilanganmu. Setelah itu papahku. Dan lagi, aku harus di hadapkan dengan keadaan mamah yang seperti itu."
"Minum dulu, Yo."
__ADS_1
Ucapan Mario terhenti ketika Rain memberikan gelas berisi jus mangga tersebut. Setelah meminumnya, Mario mulai melanjutkan kembali ceritanya.
"Sejak saat itu aku benci dengan hal yang berhubungan dengan penerbangan. Aku memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan kedokteran. Aku tidak ingin melihat mamahku seperti itu. Dan setelah wisuda aku memutuskan pulang ke Indonesia. Saat di Bandara Hamburg, Jerman. Kau masih ingat Yordhii, saat kita bertemu di sana?" tanyanya pada Yordhi.
"Iya, ingat. Saat itu bodyguardmu menolongku untuk mencari dompetku yang hilang."
Kemudian Mario menyingsingkan senyum.
"Iya, saat itu aku berencana untuk membakar Bandara Hamburg. Tetapi naasnya seseorang mengetahui rencana busuk kami. Rain, maafkan aku, selama ini aku selalu mengawasimu di mana pun kamu berada. Tolong biarkan aku melakukan hal ini. Jika kamu tak mengizinkan aku untuk memiliki hatimu, setidaknya izinkanku untuk menjaga ragamu."
Mario berujar seraya menggenggam kedua tangan perempuan di hadapannya. Ucapannya begitu tulus, ada rasa kasihan yang menyelinap di relung hati Rain. Namun perempuan itu tak tahu harus berbuat apa.
"Santai saja, aku tidak memaksamu. Oh, iya, dua kutu kupret lama banget ya dandannya? Kalau begitu biar aku cari mereka."
Lima menit sudah, Mario juga tak kunjung datang. Yordhii merasa jenuh tersendiri akan hal itu. Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kedatangan wanita berhijab dengan mengenakan niqab¹ berwarna hitam.
"Waalaikummussalam. Ukhty, ada apa, ya?"
"Ana ja'iz yajlisu?"³
"Tafadhol, Ukhty,"⁴ jawab Rain sangat ramah.
"Ma ismika?"
"Ana ismi, Loovinka Rain."
Saat hendak berujar lagi, perempuan berniqab itu mendelik. Ketika menyadari pegawai butik tengah menghampirinya.
"Maaf, Mas. Anda sudah mencoba pakai itu terlalu lama. Jika berminat untuk membeli, silakan menghadap ke kasir."
__ADS_1
Yordhii yang sedari tadi merasa aneh dengan orang itu pun menarik paksa niqabnya.
"Mario?" ucap Rain terkejut.
Yordhii tertawa terbahak dengan sesekali memegangi perutnya. Ia tak habis pikir dengan apa yang akan di lakukan oleh Mario. Sekonyol itu kah?
"Maafkan, aku Rain. Aku hanya ingin membuatmu tertawa, sungguh."
Mario menunduk seraya mengangkat tangan kanannya dan membentuk tanda 'V'
"Tidak masalah, Mario. Kau terlihat lucu. Tapi tolong jangan diulangi lagi, ya. Lalu, kau fasih berbahasa arab?"
"Bukankah ketika kita mencintai seseorang maka kita harus mencintai semua yang ada pada seseorang itu?"
Rain hanya tersenyum mendengar penuturan Mario barusan. Kemudian Liza datang dengan mengenakan gamis berwarna mocca senada dengan jilbabnya
"Mbak Rain? Bagus nggak?"
"Cantiknya ...."
Yordhii yang tanpa sadar telah mengucapkan kata-kata tersebut pun membuat Liza langsung menghampiri dirinya.
"Apa Mas Tampan? Aku cantik? Mas Tampan tidak bohong, kan? Akhirnya Mas Tampan mengakuinya."
"Pede banget! Emang siapa yang bilang kamu cantik?"
"Tadi Mas Tampan."
"Bukan kamu yang aku maksud. Tapi tuh Mbak kasirnya!"
__ADS_1