Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 9. Lagi-lagi Ujian.


__ADS_3

"Gimana keadaan Rain?" tanyanya dengan tergesa-gesa. Namun bukanya dijawab justru Restu malah mendapatkan sebuah pukulan dari adik kandungnya tersebut.


"Kalau Lo emang nggak bisa bahagiain kakak ipar bilang ke gue! Gue yang akan nerusin tugas Lo. Nggak dengan cara seperti ini. Sudah berapa lama Lo ngelakuin hal bejat sama si ******?"


"Gue bisa jelasin nanti. Sekarang gue pengen ketemu Rain dulu."


"Peduli apa Lo sama kakak ipar? Pergi aja sana! Muak gue lihatnya. Seharusnya Lo itu mikir dan belajar dari pengalaman. Nggak malah ngelakuin hal sebejat itu."


Amarah Yordhii begitu menggebu-gebu. Urat lehernya sampai terlihat begitu jelas. Tangannya sudah terkepal namun Ia urungkan niat untuk melukai kakak kandungnya sendiri.


"Lo itu egois! Lo hanya mikir gimana senengnya diri Lo sendiri. Lo marah sama kakak ipar karena dia belum bisa kasih Lo keturunan? Tapi Lo sendiri selalu menolak ketika kakak ipar meminta untuk ke dokter spesialis. Lo itu udah bukan bocah! Apa cuma lo yang ngerasa sedih perihal keturunan? Kakak ipar juga!"


"Ngomong Lo! Jangan cuma diem. Mulut Lo masih berfungsi, kan?"


Buuugghh ...


Sebuah pukulan mendarat tepat di pelipis Yordhii. Darah segar mengalir dari pelipisnya.


"Lo didiemin malah ngelunjak! Lo itu nggak tahu apa-apa tentang rumah tangga gue. Lo masih bocah, Yordhii! Jadi nggak usah ikut campur."


"Gue sebenarnya nggak mau ikut campur, tapi gue kasihan sama kakak ipar. Dia terlalu berharga untuk di sakitin."


"Sudahlah, nggak usah ngebahas itu. Sekarang katakan gimana keadaan, Rain?"


"Rain masih ditanganin sama dokter. Tadi sekitar jam tiga pagi kakak ipar sadar. Lalu dia pingsan lagi karena tahu Lo tetap nggak ada," jelasnya pada Restu.

__ADS_1


"Lalu Lo bilang apa?"


"Gue bilang asal aja. Lo lagi nanganin proyek di Kalimantan," jawabnya tanpa melihat lawan bicara.


"Maaf, dengan keluarga ibu Loovinka Rain?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang di mana Rain dirawat. Hal itu secara langsung membuat kedua adik kakak menoleh menuju sumber suara.


"Saya, Dok. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri bapak mengalami gejal lemah jantung. Bapak bisa menemuinya sekarang. Tetapi jangan membuat pasien stres. Saya permisi dulu."


________________


"Masuk aja. Nggak usah kelamaan, kakak ipar nunggu Lo."


"Mas Restu, kenapa nangis?"


"Mas Restu?"


"Ah ... iya, Sayang. Kamu sudah sadar? Aku minta maaf Rain, lagi-lagi aku mengingkari janji."


"Mas Restu nggak perlu minta maaf. Mas Restu semalam nggak pulang, kan karena lagi ada udzur¹."


"I-i- iya Rain. Kamu tahu dari mana?"


"Dik Yordhii. Entah sudah sejak kapan dia menungguku."

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa sampai pingsan?"


"Mungkin kelelahan, Mas," katanya.


"Jadi, gue dilupain nih?" sela Yordhii dari sisi berlawanan.


"Yaudah, gue mending pulang aja. Minta kunci rumah. Gue mau numpang di rumah Lo."


"Itu pelipis kamu kenapa berdarah, Dik?"


"Biasalah, Kak. Bujang mah gini suka berantem. Apalagi sama orang jahat yang nggak tahu diuntung," jelasnya sedikit menyindir.


Lalu Restu menyerahkan kunci mobil dan kunci rumahnya. Adiknya memang benar, dia adalah orang jahat yang tidak tahu diuntung.


*****


"Awasi mereka. Secepatnya beritahu saya jika ada berita baru," pinta pemuda tersebut kepada ke empat pria yang bertubuh besar pun menggunakan tindik di telinganya.


"Baik, Tuan."


Bertahanlah, Sayang. Aku akan segera merebutmu kembali. Aku tidak akan membiarkanmu terus-menerus menitikkan air mata. Dan untukmu! Jangan harap bisa lebih lama bernapas!.


Pemuda tersebut berucap tatkala menatap lembaran foto usang milik wanita pujaannya.


****

__ADS_1


__ADS_2