
Dia adalah salaha satu penduduk bumi yang baru saja dipatahkan hatinya. Namun Ia percaya bahawa Sang Pencipta tidak hanya akan tinggal diam. Dan benar saja, saat ini Ia tengah mendapatkan hasil dari penantian. Suami yang baik juga merupakan rezeki, hadiah dari Tuhan, perlu dan sangat wajib untuk disyukuri.
"Kalian hati-hati, ya. Mamah dan Ummimu pasti setiap hari akan berkunjung ke rumah baru kalian."
"Iya, Mah, Ummi. Rain dan Mario berangkat dulu, ya. Nanti kalau sudah sampai bakalan Rain kabarain. Assalamualaikum."
*******
Setibanya di rumah baru mereka, Rain terkejut saat mendapati bagian dalam rumahnya. Bagaikan dunia dorami. Mulai dari warna cat, stiker dinding, figura, dan masih banyak lagi yang berbentuk boneka kucing.
"Kamu suka?"
"Suka sekali, terima kasih, Mario."
"Sama-sama, Sayang." Balasnya dengan sebuah kecupan lembut di kening sang istri.
Pihak Alam Sutera sempat menolak permintaan gila Mario mengenai design rumah yang didominasi dengan dorami. Beberapa pihak sempat tidak ingin meladeni Mario. Namun, lagi-lagi karena uang. Sebuah rumah dengan ribuan boneka dorami pun akhirnya tercipta.
"Baiklah, Sayang. Sekarang istirahatlah dulu, aku akan memasak untuk nanti makan malam."
"Aku saja yang masak, kamu pasti lelah berjam-jam nyetir," sanggahnya.
"Tidak ada kata lelah untuk membahagiakanmu, Rain." Mario berujar sambil memeluk pinggang sang istri dari belakang.
"Kenapa kamu suka sekali memelukku, Mario?"
"Karena aku nyaman waktu memelukmu."
"Oh, ya?" kata Rain.
"Iya. Tapi sayang."
"Sayang kenapa?"
"Nggak apa-apa kok, Sayang," katanya disertai tawa.
Malam hari di rumah baru duduk berdua di taman belakang dengan ditemani nyala api yang menjadi penghangat kedua bagi Rain. Sambil sesekali Ia rebahan di pangkuan sang suami sambil mencoba menikmati serta membiasakan diri. Satu bulan hidup dengan Mario membuat penyakitnya perlahan-lahan membaik. Bagaimana tidak, Mario begitu memanjakannya sebagai seorang istri.
"Rain, kamu tahu, apa keinginan terbesarku?"
"Apa?"
"Bisa terus bersamamu sampai ke surga. Tapi denganmu saja, jangan mengajak Restu!"
Bukannya menanggapi perkataan suaminya, Rain malah bangkit dari posisi awal dan tertawa dengan sesekali bergeleng-geleng.
"Memangnya kenapa jika aku juga mengajak mas restu?"
__ADS_1
"Rain! Kenapa kamu masih memanggil restu dengan sebutan mas! Aku yang suamimu saja tidak pernah kamu panggil mas!"
"Kamu cemburu, Dokter Galend?"
"Tentu saja, Nyonya Galend!"
Rain kembali tertawa saat suaminya berucap dengan suara yang dibuat-buat layaknya seorang wanita. Mario memang selalu pandai membuat istrinya tertawa. Apalagi dengan ekspresi yang seperti itu .
"Bibirmu lucu sekali, Mario. Jika bibirku seperti itu, pasti kamu akan berujar sungguh menggoda sayang."
Pada saat kalimat sayang terucap, Rain dengan sengaja mengatakannya lebih dekat, hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Kamu sudah berani menggodaku, Rain! Mari kita tempur di atas ranjang baru kita."
*******
Sudah hampir dua bulan pasca pernikahannya dengan Mario. Rain tidak pernah mendengar kabar tentang Restu dan juga Rara. Terakhir kali bertemu dengan Rara adalah saat gadis kecil itu ikut menghadiri acara walimatul 'ursnya di Jawa Tengah.
Pagi itu pun Rain meminta kepada Mario untuk mengantarkannya menemui Rara. Dengan senang hati, Mario pun memenuhi permintaan sang istri.
Lima menit setelah Ia sampai di sekolah Rara, bel istirahat sudah berbunyi. Rara yang melihat kehadiran Bundanya itu pun langsung berlari dan memeluk Rain.
"Sayang kenapa, Nak?"
"Rara mau ikut Bunda. Rara nggak mau di rumah daddy."
Kemudian Rain menggendong Rara dan mengajaknya duduk di kursi area taman. Dengan lembutnya Ia mengusap jejak air mata Rara dengan ibu jarinya.
"Rara takut, Bunda. Setiap hari daddy restu dan mommy keny berantem pecahin piring."
"Yasudah, nanti Rara ikut bunda dan Ayah Rio, ya. Udah dong anak bunda jangan nangis lagi."
Mario tersenyum saat Rain menyebutnya dengan sebutan Ayah. Apakah Rain sudah benar-benar mencintainya?
"Rara sayang, mau makan apa?"
"Nasi goreng boleh nggak, Om?"
"Ok, kalian tunggu sebentar, ya."
Saat dalam perjalanan pulang, Mario menghubungi Yordhii bahwa hari ini Rara ikut dengan Bundanya untuk bermalam di rumah Alam Sutera. Yordhii yang mengiyakan perkataan Mario pun memutuskan untuk ikut berkunjung ke kediaman mantan kakak iparnya esok hari.
"Ok, Sayang. Sekarang ke sini dulu Rara ganti baju dulu, ya."
Rara yang mendengar ucapan Rain pun secepat mungkin menghampirinya. Rara memang sangat penurut terhadap Rain. Wajar saja sejak kecil Rainlah yang mengurus Rara. Anak kecil sudah pasti akan nyaman ketika diperlakukan dengan lembut. Tanpa harus dibentak pada saat menasehatinya. Karena pada dasarnya tanaman akan tumbuh dengan siraman air hujan, bukan dengan gemuruh petir.
"Ini baju sekolah Rara sobek? Sejak kapan, Nak?"
__ADS_1
"Ini udah lama, Bunda. Rara mau jahit nggak bisa."
"Memang mommy keny nggak ada ya, Nak?"
"Mommy jarang di rumah, Bunda."
Hati siapa yang tidak teriris ketika mendengar penuturan dari gadis kecil yang tidak berdosa. Sesibuk itukah sampai-sampai tidak memperdulikan sesuatu yang ada pada anak? Untuk apa dihadirkan di dunia jika hanya untuk di sengsarakan.
____________
Pukul sepuluh pagi, Yordhii dan Jason sudah berada di kediaman Mario. Mereka terlihat asik dengan obrolan-obrolan ringan mereka. Sesekali Yordhii mengamati seisi ruangan rumah tersebut. Mungkin dia heran atau merasa aneh dengan apa yang tengah dilihatnya.
"Yordhii berasa lagi di dunia lain. Ajaib banget deh idenya Bang Rio. Besok Yordhii sama liza mau buat rumah undur-undur deh."
"Oh, jadi perempuan itu adalah liza, Dik?"
Tak berani memberikan jawaban, Yordhii pun mengalihkan bicaranya dan mulai mengeluarkan sesuatu yang tengah Ia letakkan di dalam kantung plastik berwarna hitam.
"Bang, beberapa bulan yang lalu yordhii kembali menemukan barang seperti ini terkubur di halaman belakang."
"Coba deh Bang Rio cari tahu ini benda apaan."
"Lusa bakalan aku teliti lagi. Beberapa partnerku mungkin ada yang bisa bantu. Kalau tidak, kamu bawa ke rumah mamah Arumi saja."
Rain datang dengan membawa segelas susu cokelat untuk Rara. Kemudian perempuan itu menyisiri rambut putri mantan suaminya. Sembari menyisir rambut Rara, Ia pun juga ikut sesekali menimpali percakapan mereka.
"Mungkin itu obat hama, Dik."
"Nggak ada, Kak obat hama seperti ini."
"Dik, apa Mbak Keny dan Mas Restu jarang di rumah, ya? Kenapa baju Rara sobek sampai tidak ada yang tahu?"
"Maaf, Kak. Yordhii udah lama nggak tinggal di rumah Kak Restu. Yordhii nggak kuat kalau tiap hari harus dengerin orang berantem."
"Kak Restu sekarang nggak waras. Dia seperti orang gila. Kak Restu sekarang berubah menjadi Restu yang dulu sebelum bertemu dengan Kak Rain. Semenjak Kak Rain menikah dengan Bang Rio, dia lebih sering mengurung diri. Sekali pun Ia keluar, pasti jarang pulang," sambungannya.
"Kalau pun pulang pasti dalam keadaan mabuk. Begitu juga si ******, setiap pulang dari pemotretan, Ia akan membawa laki-laki lain ke rumah. Dan hal itu yang membuat keduanya berantem. Semua piring, gelas, dan apa pun yang ada di sekitar mereka pasti akan hancur. Yordhii sebenarnya nggak tega lihat Kak Restu seperti itu. Tapi kata papah, ini adalah hukuman dari Allah untuk kak restu."
Mario pun berucap dengan sedikit menimpali perkataan Yordhii, "Sebenarnya bukan Allah yang menghukum Restu. Tetapi dirinya sendiri."
"Mamah dan papah tahu kalau Mbak Keny seperti itu?"
"Orang rumah semuanya sudah tahu. Mamah juga sekarang nggak mau ambil pusing soal ******."
_________________________________________
Akhirnya bisa update walaupun tambah absurd karyanya
__ADS_1