Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 17. Istri Baru untuk Mas Restu.


__ADS_3

"Rain, bangun dulu sudah pagi. Kamu mau mandi atau tidak?" lima menit tak dihiraukan oleh isterinya.


"Jika kamu tidak bangun, aku akan menggendongmuke kamar mandi. Dan setelah itu aku akan memandikanmu, Rain."


Sontak, Rain langsung bangun dari tidurnya. Kurang lebih satu jam perempuan itu berada di dalam kamar mandi. Restu yang merasa jenuh karena Rain terlalu lama pun memilih mengotak-atik ponsel milik istrinya.


Tiing ....


Notifikasi sebuah pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau membuat Restu penasaran. Namun Restu urungkan niatnya. Ia tidak ingin lancang dengan barang milik sang istri.


Tiing ...


Lagi, pesan masuk dari aplikasi yang sama. Akhirnya Restu memberanikan diri untuk membuka pesan itu. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati isi dari pesan tersebut


0813xxxxxxxx : Apa kabar, Rain? Bagaimana kabar rumah tanggamu? Baik-baik saja? Baiklah, nikmati saja dulu semuanya. Karena setelah ini, aku punya kejutan teristimewa. Lihatlah gambar ini, Rain. Kuharap kau tidak terkejut.


"Ada apa, Mas? Apakah ada yang menghubungiku?" selidiknya.


Restu yang masih terkejut dengan pesan dan foto tersebut pun dikagetkan oleh kehadiran sang istri yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.


"Ah, ti-tidak ada, Rain. Aku turun dulu, ya. Ini ponselmu aku letakkan di sini."


Setelah berada jauh dari sang istri,


Restu pun segera menghubungi nomor telepon tak dikenalinya itu. Sebab tadi setelah membaca pesan tersebut Ia langsung menghapusnya. Pun tidak lupa untuk men-copy lalu mengirim ke contac teleponnya.


"Sialan! Tidak aktif! Ini pasti ulahnya keny! Apa yang harus aku lakukan? Aargh!"


"Ngapain, Kak. Rambutnya diacak-acak? Banyak kutu? Sepertinya kakak terkena kutukan Mak Lampir, deh. Hih."


Restu yang geram dengan ucapan adiknya pun ingin sekali mencabik-cabik mulut Yordhii. Tetapi, matanya tidak sengaja melihat pemandangan di depan. Yordhii, seseorang yang selalu mengutamakan fashionable di mana pun berada. Bahkan di toilet sekali pun. Namun kali ini pria itu hanya mengenakan sarung berwarna cokelat serta dada bidang tanpa balutan pakaian. Oh, sungguh ini wajib diabadikan.

__ADS_1


Cekrek ...


"Ngapain ketawa?"


"Abis sunat, Dik?" ledek Restu.


"Bodoamat! Aku mau makan!"


"Mas Restu ngirim nomor siapa ini, kok dikirim ke contacmu sendiri?"


Astaga! Kenapa aku bisa lupa. Kenapa tidak aku hapus sekalian!


"Oh, itu tadi ada nomor asing yang telepon kamu. Ya, sejenis penipuan gitu, Rain. Jadi aku kirim ke contacku supaya bisa aku hubungin. Tapi udah nggak aktif."


"Oh gitu."


"Iya, Sayang. Kamu ganti nomor telepon, ya. Sepertinya nomor ini sudah tidak aman lagi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa." Pinta Restu seraya menaikkan resleting baju sang istri. Lalu memeluk Rain dari belakang.


___________


Malam kembali menyapa, hari terus berganti seirinh dengan ketakutan yang Restu alami. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin pun terus membasahi sebab kecemasan jika Keny datang dan membeberkan apa yang kala itu terjadi.


"Ini, Mas wedang jahe dan bolu kukus pisangnya."


"Mas Restu sakit? Kok pucat sekali?"


"Nggak kok, Rain. Cuma lagi lapar aja." .


Ketika mereka sedang bercengkrama menikmati malam yang indah tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Mala dan perempuan asing yang sebelumnya tak pernah mereka temui.


"Mama, kok nggak bilang-bilang kalau mau kemari?"

__ADS_1


Tanya Rain yang berniat menyalami mertuanya tersebut. Namun yang didapat hanyalah dorongan. Sehingga tubuhnya terpental di atas sofa.


"Saya kemari tidak untuk bertemu kamu. Restu, mama sudah menemukan calon istri yang tepat untukmu. Ini adalah Gabriel. Dia anak teman mama. Bisa nggak bisa besok kamu harus menikah dengan Gabriel!"


"Mah! Apa-apa ini. Dan ngapain bawa-bawa Tarzan kemari. Restu nggak ngerti deh, sama jalan pikiran, Mama. Restu sudah beristri, Mah. Dan Restu tidak ingin menikah lagi. Tolong Mamah jangan seperti ini!"


"Heh! Enak saja mulutmu berkata! Aku sudah dandan cantik seperti ini kamu bilang Tarzan!" sahut gadis tersebut.


Restu enggan menanggapi ocehan perempuan itu. Ia pun segera berjalan entah ke mana. Dan kembali dengan membawa cermin yang berukuran cukup besar.


"Nih, coba kamu ngaca! Mirip Tarzan nggak? Kalau mau dibilang manusia jangan pakai baju sobek-sobek seperti ini, deh! Kasihan aurat kamu diumbar-umbar!"


Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kedatangan seorang lelaki paruh baya jua. Yang tidak lain adalah Pak Pradifta.


"Mama! Ayo pulang! Mamah ini sudah tua, jangan seperti ini, tidak baik, Mah."


Kemudian Pak Pradifta menarik paksa istrinya. Lalu meninggalkan rumah megah tersebut. Restu yang menyadari keresahan pada wanita tarzan itu segera mengode agar Ia juga ikut pergi.


"Ngapain masih di sini?" ketus Restu.


Kemudian, setelah orang-orang itu pergi, Rain berlari meninggalkan suaminya. Hatinya benar-benar hancur. Bagaimana mungkin mertuanya melakukan hal seperti itu.


"Apa mama tidak memikirkan perasaanku? Aku tidak mandul, aku juga tidak ingin dimadu, Yaallah. Aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya mas restu, aku tidak ingin ada wanita lain hadir di dalam rumah tangga kami," lirihnya.


Restu yang mendengar perkataan Rain pun langsung menghampiri istrinya. Kemudian, pria tersebut memeluk perempuannya. Ia mencoba menguatkan sang istri. Istrinya tidak boleh terus-terusan disakiti seperti ini.


"Kamu satu-satunya dan tidak akan pernah menjadi salah satunya."


"Aku capek, Mas. Di tempatkan di posisi seperti ini. Aku bukan Khadijah yang mempunya sejuta kesabaran. Aku ...." Rain menangis. Melemas dalam pelukan suaminya.


"Aku mohon, Rain. Jangan menangis. Jangan membuatku semakin merasa bersalah." Suara Restu kian bergetar. Sontak Ia semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2