Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 39. Kau Buang Emas Demi Sebiji Jagung.


__ADS_3

Hari itu adalah hari pertama Rara masuk sekolah. Rara kecil sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Rara selalu meniru semua yang ada pada diri ibu tirinya. Mulai dari cara berpakaian, berjilbab, pun cara berbicara. Dan bahkan Rara lebih nyaman ketika bersama Rain. Dibandingkan dengan Keny, ibu kandungnya sendiri.


"Bunda, rara sudah siap, ayo berangkat." Rara berujar dengan logat khas anak kecil yang lucu nan menggemaskan.


"Habiskan dulu susunya, setelah itu salim sama Daddy, ya, Sayang. Bunda tunggu di luar."


Rara pun menghampiri Restu yang tengah mengenakan dasi.


"Daddy, Rara berangkat dulu, ya."


"Iya, Sayang. Bilang sama Bundamu, ya. Bunda, kata daddy nggak boleh cemberut terus, nanti hidungnya tambah pesek."


"Baik, Daddy, assalamualaikum."


Setelah mengantar Rara ke sekolah, Rain segera bergegas menuju toko kue. Rain lebih suka berlama-lama menghabiskan waktu di sana. Setiap kali Rain duduk sendiri, perempuan itu selalu meratapi semua. Kemarin malam Ia telah mendapatkan jawaban atas shalat istikharahnya. Rain mencoba meyakinkan diri perihal keputusan tersebut.


"Bismillahirahmannirrahim. Ya Allah semoga keputusanku ini benar."


Rain tidak dapat menjemput Rara, Ia masih enggan untuk pulang lebih cepat. Bukan karena apa-apa, hanya saja Rain belum siap jika harus bertemu suaminya. Selama beberapa tahun terakhir, Ia hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang istri.


"Halo assalamualaikum, Bik. Nanti tolong jemput Rara, ya. Mungkin saya akan pulang sedikit malam."


"Waalaikummussalam. Baik, Bu."


*****


Hujan kembali membasahi jalanan kota Bekasi. Kedua karyawanya sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Hanya tinggal Rain dan beberapa kehampaan yang tengah menemani gelapnya malam. Saat-saat seperti itu memori otaknya kembali memutar butir-butir kenangan bersama Restu. Begitu pula dengan hati kecilnya, yang selalu bertanya apakah dirinya masih mencintai Restu? Namun pertanya tersebut tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Ngelamun terus, kesambet baru tahu rasa!"


"Astaghfirullah. Mario?"


"Iya manusia purba, ini aku Dokter Galend tertampan seantero Indonesia."


"Kenapa nggak pulang?" ujarnya lagi.


"Nungguin mobil."


"Mobilnya rusak?"


"Iya, tapi sudah dibawa ke bengkel sama dik yordhii. Yasudah, keluarlah, aku juga mau pulang." Rain berdiri dari duduknya dan segera mengemasi beberapa barang dan memasukkannya ke dalam tas berwarna cokelat.

__ADS_1


"Aku antar, ya?" ucap Mario seraya melahap donat yang baru saja Ia ambil dari dalam toples. Kemudian, Mario berjalan mengikuti Rain.


Rain tampak sedikit berpikir. Bagaimana pun juga Ia harus tetap menjaga jarak dengan lelaki lain yang bukan mahramnya. Mario yang menyadari sesuatu pada diri Rain pun berucap seraya memasukkan potongan donat terakhirnya.


"Tenang saja aku nggak bakal aneh-aneh kok."


Akhirnya Rain menyetujui tawaran tersebut. Tak ada percakapan. Hanya sesekali Mario melantunkan nyanyian yang bagi Rain itu sangat mengganggu pendengaran.


"Kamu udah nggak takut hujan, Rain?"


"Enggak," dustanya.


Kemudian Mario menepikan mobil dan memasangkan jaket yang Ia kenakan ke tubuh mungil Rain.


"Maaf." Ujar Mario seraja memakaikan jaket tersebut.


"Nggak usah dilepas, pakai saja. Dari pada nanti kamu ketakutan sampai pingsan, kan aku juga yang repot," timpalnya lagi kemudian kembali melajukan kendaraannya.


Baru beberapa menit melajukan kendaraan keduanya terjebak macet. Cukup lama dan membuat Rain menggerutu kesal. Pikiranya kalang kabut entah tertuju ke mana. Yang Ia tahu Ia harus segera pulang dan bertemu dengan Rara.


"Rain!"


"Hem," gumamnya.


"Apa?" Rain yang geram dengan sikap Mario pun menolehkan wajahnya ke hadapan Mario.


"Nikah yuk!"


Sontak bola mata Rain melebar seakan-akan ingin keluar. Lidahnya kaku, entah apa yang harus Ia katakan kepada Mario. Tak ingin ambil pusing, Rain memilih mengalihkan pembicaraan tersebut.


Tin ... tin ...


Bunyi klakson menjadi penyelamat bagi Rain. Pasalnya beberapa kendaraan di depan sudah melaju cukup jauh.


"Jalan, Yo di belakang antre tuh!"


Alhamdulillah. Dasar pria gila! Makinya dalam hati.


Beberapa saat setelah itu, Rain telah tiba di depan gerbang putih rumahnya. Setelah mengembalikan jaket dan turun dari dalam mobil, Rain dikagetkan dengan kemunculan Restu yang secara tiba-tiba dari balik pagar besi berwarna putih tulang tersebut.


"Dasar perempuan gila nggak tau diri kamu, Rain. Jadi ini alasan kamu selalu pulang lebih malam. Sudah sejauh mana hubungan kamu dengan pria brengsek itu? Atau sudah sejauh mana pria brengsek itu menjamah tubuhmu, Rain? Ayo katakakan!"

__ADS_1


Rahangnya mengeras, sorot matanya menyalurkan sebuah kemarahan. Dan Rain, perempuan itu hanya berdiri seraya memegangi dadanya. Rasa nyeri kembali menepi, mengguncang hebat ulu hati. Tetapi Ia mencoba menahan agar Restu tidak mengetahu semuanya.


"Maaf untuk semua kelancanganku. Seburuk apa pun diriku, aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu. Diriku bukan seperti Mas Restu yang selalu menghianati pasangan pun mempermainkan janji sakral."


"Ah, sudahlah, Rain. Kau jangan membalikkan fakta. Dengar, Rain. Aku ini suamimu, aku berhak atas dirimu. Aku berhak marah jika mengetahui dirimu bersama lelaki lain. Seharusnya kau sadar jika kau masih bersuami. Apakah pantas seperti itu!"


"Kau menjijikkan, kau tak lebih dari seorang *******, Rain. Lepas saja hijabmu, kau tak pantas memakainya!"


Kali ini ucapan Restu benar-benar membuatnya melemas, bisa-bisanya Restu berujar seperti itu kepada istrinya sendiri. *******? Apakah wanita harus selalu disalahkan? Apakah wanita harus selalu mengalah? Tidak!


"Jangan bawa-bawa hijabku! Tahu apa tentang hijabku, jika berlaku adil saja tidak bisa. Mas Restu masih menganggap diri Mas Restu sebagai suami? jika memang benar, lantas mengapa selama beberapa tahun ini tak melakukan tugas layaknya suami? Sudahkah Mas Restu adil kepadaku? Aku kurang sabar apa lagi, Mas? Kau madu diriku, aku terima, aku ikhlas. Aku tidak minta lebih, Mas. Aku hanya ingin Mas Restu adil kepadaku, Aku tak apa jika rasa cinta Mas Restu sudah berkurang untukku, dan lebih banyak untuk Mbak Keny, sungguh, aku tidak akan mempermasalahakan hal itu. Mas Restu juga masih menyadari, kan jika aku masih berstatuskan istri, Mas Restu. Lantas mengapa kau lalai dengan kewajibanmu. Aku istrimu! Kau jangan lupa itu, aku juga ingin diperlakukan layaknya seorang istri." Linangan air mata telah mengalir dari kelopak matanya. Rain terduduk lemas tanpa alaskan apa pun. Perempuan itu menangis di bawah rintikan air hujan.


Restu yang baru saja tertampar oleh perkataan Rain pun tampak terdiam dan sesaat setelah itu Ia berteriak frustasi seraya mengacak rambutnya sendiri.


"Aku membencimu, Rain. Enyah dari hadapanku! Aargh."


Entah setan mana yang sudah merasuki tubuh Restu, pria itu benar-benar marah. Dan semua perkataannya mampu membabat habis perasaan sang istri. Tubuh Rain gemetar pun mulutnya menjadi kelu. Belum sampai di situ saja makian suaminya, Restu menarik paksa lengan Rain dan kembali mengeluarkan kata-kata kasarnya.


"Aku ingin kita cerai. Aku menalakmu, Rain!"


Bagai disambar petir, ucapan Restu memang hanya beberapa kata, namun berhasil menghantam diri perempuan itu. Rain kembali mencoba mengumpulakan semua kekuatannya. Sudah cukup Ia diperlakukan layaknya binatang oleh sang suami.


"Baiklah, Mas. Jika itu permintaanmu. Ini ... ini adalah surat cerai yang sudah aku persiapkan beberapa hari yang lalu, silakan tanda tangan di di sini, Mas."


Tangannya gemetar saat menyerahkan kertas tersebut. Hujan malam itu menjadi saksi berakhirnya rumah tangga yang sudah kedua insan tersebut bina selama bertahun-tahun. Restu terkejut dengan benda yang baru saja diberikan oleh istrinya.


"Apa maksudmu, Rain. Kau jangan bercanda. Di mana rasa baktimu kepadaku, Rain!"


"Bakti? Mas Restu masih membahas mengenai bakti. Untuk apa, Mas. Aku berbakti kepada seseorang yang tak sedikit pun menghargai baktiku. Bukankah selama ini baktiku seperti sampah di mata Mas Restu? Terkadang seseorang harus berhenti mempertahankan bukan karena sudah tak cinta. Tetapi karena seseorang itu sudah cukup lelah menahan luka. Besok kita urus semuanya di pengadilan. Ini, kan yang Mas Restu inginkan?"


Setelah mengucap kata-kata tersebut Rain bergegas menuju kamar dan mengemasi beberapa pakaiannya. Sesaat setelahnya Ia keluar dari rumah kepedihan tersebut. Namun, saat hendak melangkahkan kaki, Rara menghampiri dirinya. Gadis kecil itu menangis. Mungkinkah Rara mendengar pertengkaranya dengan Restu?


"Bunda mau ke mana? Bunda jangan pergi." Gadis kecil itu menangis dan meronta. Hati Rain hampir saja luluh oleh tangisan Rara, namun segera Ia tepiskan jua.


"Maaf, bunda harus pergi."


"Jangan, Bunda. Nanti kalau bunda pergi, Rara nggak punya bunda lagi."


"Kan ada mommy keny dan Daddy Restu. Bunda janji, nanti bunda bakalan sering-sering jengukin Rara."


Dari kejauhan tampak Restu melihat kedua perempuan yang Ia sayangi tengah berderai air mata. Tiba-tiba saja bulir bening terjatuh dari kelopaknya. Rara yang menyadari kehadiran Restu pun berlari menghampiri Daddynya.

__ADS_1


"Daddy, bilang sama Bunda jangan boleh pergi," rengeknya dan kesempatan tersebut Rain gunakan untuk pergi. Apa pun yang terjadi Ia harus tetap meninggalkan rumah kepedihan tersebut.


__ADS_2