
"Liza, Sari, kalian pulang saja dulu, ya. Biar nanti toko mbak yang tutup."
"Lah, memangnya Mbak di sini mau sama siapa, kalau kita berdua pulang?"
"Mbak mau pulang sama mas Restu, Za. Tadi pagi mas Restu bilang katanya mau jemput mbak."
"Cie, Mbak Rain, mau dijemput sama pak Restu loh. Yasudah kalau begitu aku dan Sari pulang dulu, ya, Mbak Rain. Assalamualaikum."
"Waalaikum'mussalam, hati-hati, ya. Jangan lupakan Allah."
Setelah kepulangan mereka, toko menjadi sepi. Ditambah senja yang sudah berjalan menuju malam. Ia menelisik arloji digitnya. Keresahan mulai terlihat. Tetapi suaminya belum kunjung datang. Padahal, tadi pagi Restu berkata padanya jika Ia akan pulang lebih awal.
Sembari menunggu Restu datang, Rain pun memilih membaca Al-Qur'an. Lima lembar sudah dirinya baca. Tetapi masih sama sang suami tak kunjung datang. Hingga langit gelap pun menjatuhkan air hujan. Udara yang cukup dingin, petir kian menggelegar, gelap yang kian pekat berdatangan membuat Rain benar-benar ketakutan. Lagi, gadis berjilbab lebar itu sangat takut dengan hujan. Apalagi saat Ia sedang sendirian seperti saat ini.
Lain halnya dengan Rain, lain lagi dengan Restu serta Keny. Mereka malah tertidur pulas dalam satu selimut. Setelah Restu menyadarinya, Ia pun segera bangun dan melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul enam sore hari.
"Hujan? Rain?"
Sembari memakai kemejanya, Restu terus bermonolog. "Astaga! bukannya tadi aku berjanji akan menjemput rain."
****
"Mas, kamu di mana, Mas. Aku nggak kuat," ucapanya dengan sangat lemas.
Rain yang kedinginan tak tahan dengan rasa sakit yang melanda kepalanya. Seperti tengah berputar-putar, pening tidak karuan. Nyeri pada kepalanya kian tak tertahan. pandangnya kabur dan gelap menyapa. Tak lama kemudian tubuhnya pun ambruk di dekat pintu berbahan dasar kayu.
____________
Rain, Maafkan aku, Rain.
Setelah sampai di depan toko, Ia langsung menghampiri Rain yang sudah pingsan dengan hidung yang terus mengeluarkan darah segar. Matanya nanar, karena keegoisannya sang istri menjadi korban.
__ADS_1
****
Keesokan harinya, Rain masih belum sadar. Wajahnya yang pucat pasi namun tidak menghilangkan aura kecantikan pada wanita itu. Restu yang melihat keadaan sang istri sangat tidak tega. Berkali-kali Ia mengucapkan sumpah serapah untuk dirinya sendiri.
Ya. Seperti itulah, penyesalan memang selalu hadir ketika semuanya sudah tersayat dalam buah dari keegoisan sebelumnya.
Drreett drreeettt ....
-Keny-
"Darl, bisa ke apartemant nggak? Penting."
Tak membalas pesan tersebut, Ia justru langsung menon-aktifkan benda pipihnya.
Setelah Rain sadar, nama yang Ia sebut pertama adalah suaminya.
"Iya, Sayang. Ini aku Restu"
"Mas ke mana saja, kenapa tidak menjemputku? Aku takut, Mas."
"Maafkan aku, Rain. Di kantor ada beberapa urusan penting dan aku tidak bisa meninggalkannya."
"Apa ini cara Mas Restu menghukumku? Karena sampai sekarang aku belum memberikan keturunan untuk, Mas Restu?"
"Kenapa diam, Mas. Ayo jawab?"
"Jawab, Mas!" katanya lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Aku harus jawab apa lagi! Aku sudah meminta maaf, aku juga sudah jelaskan jika aku sibuk dengan pekerjaan. Apa kurang jelas!" bentaknya.
"Jika masalah keturunan, aku memang kecewa denganmu. Tapi aku tidak pernah menyinggungnya, kan!" tegas nya dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Aku tahu hal itu, Mas. Tetapi sebagai suami kenapa Mas Restu tidak membelaku? Kenapa Mas selalu meninggalkanku ketika keluarga Mas Restu mencaciku?"
Kalimatnya terasa tertahan dalam kerongkongan. Lidahnya kelu, bibirnya ketir dalam getar sebab isak tangis yang begitu mendalam. Rain leleh dengan semua ini. Merasa jika kejadian buruk demi kejadian sangat nyaman bersandingan dalam kehidupannya.
"Mas, apakah janji yang pernah Mas Restu ucap hanyalah kata penenang saja? Apakah itu hanya berlaku dulu? tidak, kah itu berlaku untuk sekarang, Mas?"
Hati Rain benar-benar hancur kala itu. Ujian demi ujian selalu menghampiri rumah tangganya. Seperti halnya badai topan. Yang mencoba memporak porandakan sebuah gubuk kecil yang sedang berusaha dibangun oleh pemiliknya.
"Apabila seorang laki-laki membuat seorang wanita menangis karenanya, maka setiap langkah laki-laki tersebut akan dikutuk oleh malaikat,"
-UMAR BIN KHATTAB R.A-
___________
Sampai tengah malam, Ia masih terdiam di sudut ruang kerjannya. Batin dan nafsu terus berperang. Saat itu juga Ia merasa sangat bersalah kepada istri dan juga Tuhannya.
Terkadang manusia memang lucu.
Mereka selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Sampai-sampai mereka lupa, bahwa di atas langit masih ada langit.
Begitu juga dengan cinta.
Mereka selalu menginginkan yang terbaik. Namun mereka lupa bercermin perihal dirinya.
Mohon maaf masih banyak typo.
Aku harap kalian vomet yaa.
Biar aku semangat ngelanjutnya.
Sambil dengar lagunya Hanindhya 'asmara terbuang' ya supaya feel-nya dapat. Jangan lupa vote.
__ADS_1