Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 20. Mataku Saksi Pernikahan Suamiku.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore hari. Restu sudah sejak tadi tidak ada di rumah. Ia sedang menyiapkan beberapa keperluan untuk menikah. Namun Restu tidak pergi sendiri, ba'da ashar tadiMala dan Keny sudah stay di rumah. Dan Mala meminta agar Restu pergi bersama Keny.


Gelapnya malam pun tiba. Kian mencekik relung hati Rain. Perempuan bergamis longgar tersebut pun hanya duduk termenung sembari meratapi qadarullah.


"Kamu jangan bersedih, ya. Aku melakukan ini hanya karena permintaanmu. Aku tidak akan lagi mencintai keny. Cukup dulu, Rain." Restu berujar seraya menangis di hadapan sang istri.


"Jangan bicara seperti itu. Kita hanya manusia. Kita tidak berhak menentukan takdir."


____________


"Kakak Ipar yang sabar, ya. Kebaikan pasti akan menang."


"Doakan kakak, Dik."


Ruangan itu sudah dipenuhi dengan kerabat dari Restu. Sekaligus kerabat Keny. Sebab, Restu dan Keny mereka masih kerabatan. Terlihat jelas dari sorot mata Pak Difta, lelaki paruh baya itu menghampiri Rain, Ia mengusap pundak menantunya. Pak Diftha memang sangat menyayangi Rain seperti putri kandungnya sendiri.


"Yang sabar, ya, Nak. Papah tahu, kamu wanita hebat, kamu pasti bisa menjalani semua ini."


"Iya, Pah," ucapnya seraya membingkai senyum ketir.


Ba'da Maghrib sudah tiba, acara sudah dimulai. Rain terdiam pikirannya entah kemana. Manik matanya bertemu dengan milik Restu. Keduanya saling mengunci. Entah mengisyaratkan apa, yang Rain tahu hanyalah kehampaan saat itu.


Saya terima nikahnya Mary Kenysha binti Arlan Guswandi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


Seperti ada yang membelah dadanya. Perih, sesak, juga saki ketika Ijab Qabul itu terucap dari bibir sang suami. Detik itu juga Rain resmi dimadu, detik itu juga Restu bukan sepenuhnya milik Rain, dan detik itu pula Rain harus siap jika suatu saat Restu tak lagi sepenuh hati mencintai dirinya.


Sekuat apa pun Rain menahan air mata, namun nyatanya jatuh juga. Ia menangis, tubuhnya lemas. Acara belum selesai, tetapi Rain lebih memilih meninggalkan semua dan menuju kamar. Kamar yang mulai saat ini akan Ia tempati sendiri.

__ADS_1


Setelah melaksanakan shalat isya, Rain menangis sejadi-jadinya kepada Allah, Ia tumpahkan semua keluh kesahnya. Hanya dengan Allah Ia mengadu.


"Ya Allah, mampukah aku menjalani semua ini? Baru melihat Mas Restu mengucapkan Ijab Qobul sajahatiku sudah seperih ini apalagi nanti. Ya Allah jika memang ini takdirku, tolong berikan aku kekuatan serta keikhlasan untuk menjalani semua ini. Jika aku tidak mampu, tolong jangan hukum aku. Aku hanya wanita biasa yang mungkin akan sakit hati ketika melihat suaminya berbagi rasa."


Ia menangis dalam sujudnya. tangisnya sungguh pilu, Ia benar-benar tidak kuat. Kemudian Ia pun memutuskan untuk tidur. Saat hendak memejamkan mata, Ia merasakan ada getaran di atas kasur, Ia yakin jika itu adalah suaminya. Namun Rain enggan untuk membuka mata, Ia lebih memilih berpura-pura tidur.


Restu mencium kening dan bibir sang istri. Lepas itu mulai merebahkan diri seraya memeluk Rain yang tengah membelakanginya. Rain hanya bisa tersenyum ketir. Menahan agar isaknya tak terdengar oleh sang suami.


Pukul satu dini hari, Rain terjaga. Saat netranya melihat ke samping tak lagi Ia temui sang suami. Ia yakin, jika suaminya sedang berada di kamar Keny.


"Astaghfirullah, kenapa aku egois seperti ini, bukankah mbak keny sekarang juga istri Mas Restu?"


_________


Pagi ini arunika enggan berpendar langit berwarna kelabu, sepertinya hendak turun hujan. Ia melihat jam di ponselnya, ternyata ini masih pukul lima pagi. Wajar saja jika matahari belum menampakkan dirinya. Ah, efek dimadu rupanya pedih jua.


Cup ....


Rain mengedarkan pandangan. Ia mendapati suaminya tengah memakai boxer tanpa dada tertutup dan dengan rambut yang basah. Sepertinya Restu baru saja keramas. Rain bukan lagi perempuan polos. Pikirannya langsung saja tertuju kepada hal itu.


Hatinya berkata, mungkin semalam Mas Restu memang benar menemui mbak keny, dan mereka ... Astaghfirullah.


"Maaf, Mas. Aku harus segera bangun dan menyiapkan sarapan."


Tak seperti pagi-pagi kemarin. Pagi ini mereka sarapan berempat. Biasanya yang duduk di kursi sebelah Restu adalah Rain. Namun karena keduluan Keny, Rain pun mengalah. Ia tidak ingin terjadi keributan. Ia sebisa mungkin untuk menutupi kecacatan rumah tangganya.


"Dik Yordhii mau ke mana?" tanyanya kepada Yordhii yang hendak pergi meninggalkan aktivitas sarapan pagi.

__ADS_1


"Mau cari makan di luar, Kak."


"Memang masakan kakak tidak enak, ya?"


"Masakan kakak ipar selalu nikmat. Hanya saja selera makanku hilang, karena perempuan itu!" tudingnya pada Keny.


"Sialan kau! Aku sekarang kakak iparmu, jadi kau harus berlaku sopan terhadapku!"


Yordhii menghentikan langkahnya, kemudian kembali dan menghampiri Keny yang masih tersulut oleh api emosi.


"Kakak iparku? Jangan ngimpi deh! Kakak iparku hanya, Kak Rain. Kamu di sini tidak lebih dari sebuah benalu yang menggangu rumah tangga orang!"


Setelah itu, ketiganya hening. Tidak ada yang berbicara. Restu juga tampak kikuk.


"Aku berangkat dulu, Mas."


"Wedang jahenya dipanasin lagi kalau sudah dingin."


"Kamu mau kemana Rain? Makanmu saja belum habis?"


"Aku harus ke toko. Ada yang perlu aku urus," katanya.


"Yasudah aku antar, ya?"


"Nggak usah, Mas. Aku bisa berangkat sendiri." Kemudian Rain melangkah meninggalkan suaminya dan perempuan itu.


"Rain, tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2