
Hari ini Rara kecil sudah berumur lima bulan, sekitar pukul lima sore, Rain dan Restu kedatangan tamu. Yakni, Abah dan Umminya. Rain yang merasa panik pun sesegera mungkin memanggil Restu yang tengah menguras kolam.
"Mas, Abah dan Ummi ada di depan. Bagaimana ini?"
"Kamu serius, Rain?"
"Serius, Mas."
Kemudian keduanya menuju ruang tamu dan bersikap sebaik mungkin agar Abah dan Ummi tidak mencurigai hal itu.
"Abah dan Ummi kemari kok nggak bilang-bilang?" tanya Restu seraya menyalami kedua mertuanya tersebut.
"Tadinya abah mau meneleponmu, Nak Restu. Tapi kata Ummimu tidak usah, nanti nggak kejutan."
"Kamu kenapa, Rain. Kok gugup seperti itu?" tanya Ummi Niar kepada Rain yang sejak tadi tampak gusar.
Rain yang melupakan sesuatu pun merasa ketakutan. Pasalnya mereka belum menyembunyikan Keny. Dan perempuan itu masih berada di dalam kamar, tepat di lantai bawah dekat ruang tamu.
"Mas Restu, iguanamu, kan baru, ya. Biar aku ajak Abah dan Ummi untuk melihatnya, boleh?"
"Hah! Iguana? Memangnya aku punya iguana, Rain?"
Sudah kutebak. Pasti Mas Restu tidak akan mengerti dengan kodeku. Batinnya.
"Aduh. Abah, Ummi. Maafkan Mas Restu, ya. Sekarang Mas Restu jadi pelupa."
Kedua orang tuanya merasa aneh dengan gerak-gerik anak pun juga menantunya. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Restu punya Iguana? Wah! Abah pengen lihat nih."
__ADS_1
Kemudian, Rain berujar lagi dengan sesekali menginjak kaki suaminya.
"Itu loh, Mas. Iguanamu yang besar. Yang Mas Restu beli ditanggal pernikahan kita kemarin."
"Aarrgghh!"
"Oh, i-iya. Iya benar sekali. Yasudah kamu ajak Abah dan Ummi ke belakang dulu sana. Biar aku cari iguananya, Sayang." Kata Restu dengan terbata-bata pun seraya merangkul pundak istrinya.
"Nak Restu kenapa menjerit?"
"Digigit kadal, Ummi," dustanya.
"Yasudah mari Abah, Ummi, kita makan dulu yuk," ajaknya.
Akhirnya Restu berhasil menyuruh Keny ke apartemant. Walau sempat adu mulut sesaat. Lepas itu Ia bergegas menuju dapur guna menyusul sang istri. Kemudian mereka saling bercerita bahwa iguananya sudah diadopsi oleh tetangga mereka.
_________________________
"Rain ... Rain, ummi mendengar suara bayi menangis, Rain."
Kemudian Abahnya menyahut, "Bayi?"
"Iya, Bah. Ada bayi. Tadi ummi mendengar ada tangisan bayi," jelas Umminya dengan antusias.
Astagfirullah. Rara? Kenapa bisa kelupaan sih. Ujarnya dalam hati.
"Oh, iya. Ummi, jadi itu adalah Rara. Anak angkat aku dan Rain. Kemarin kami baru saja mengambilnya dari panti. Sebentar aku ambil dulu," kata Restu seraya melenggang pergi.
"Kenapa tidak bilang ke ummi? Kalau begitu, ummi mau menginap di sini selama satu bulan, ya, Bah?"
__ADS_1
"Hah! Satu bulan, Mi?" Rain sukses dikagetkan dengan penuturan Umminya barusan.
"Mi, jangan aneh-aneh. Jika kita di sini selama satu bulan lalu siapa yang akan mengurus rumah?"
"Nah, benar sekali apa yang Abah katakan," tukas Rain mendukung penuturan Abahnya.
"Yasudah. Kalau begitu, Rain, Restu, dan Rara saja yang ikut ke rumah ummi. Lagian, kan urusan kantor bisa ditangani oleh yordhii ya, Nak Restu," kata Ummi niar kepada Restu yang baru saja kembali dari kamar Rara.
Akhirnya pun mereka sudah berada di rumah orang tua Rain. Untuk tiga puluh hari kedepan mereka harus melakukan sandiwara. Rain yang merasa takut karena hal ini pun menjadi lemas seketika. Dadanya berdegup cukup kencang naik turun tidak beraturan.
"Tenang saja, Rain. Semuanya akan baik-baik saja," kata Restu menenangkan sang istri seraya mencium keningnya.
Pagi harinya mereka tengah melakukan sarapan pagi. Meja makan yang beberapa tahun belakangan terasa mati kini menjadi hidup kembali. Sesekali Restu dan Abah bercanda dan saling melempar tawa. Rain terlihat sangat bahagiaz walaupun hanya tiga puluh hari. Setidaknya Ia bisa merasakan keluarga yang sesungguhnya dan menjadi ibu untuk Rara.
"Sekarang hati-hati, tetangga sebelah kita, Pak Rudi, beliau terserang penyakit aneh," ujar Abah Ruslan yang memecah keheningan.
"Penyakit aneh apa, Bah?" sahut Restu.
"Pak Rudi itu terserang penyakit apa, Mi namanya?" tanya Abah Ruslan kepada istrinya dengan sedikit perpikir.
"Abah lupa nama penyakitnya. Tapi itu menyerang sisi baik pada korban. Pak Rudi itu sering marah-marah bahkan menganiaya istrinya sendiri. Tapi kalau pas nggak kambuh, ya orangnya baik. Kemarin malahan beliau sempat meminta menikah lagi."
Deg! Restu menelan salivanya sendiri.
Ia selalu ketakutan jika ada yang membahas mengenai poligami. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Rain yang menyadari gelagat Restu pun hanya diam. Dengan sesekali menimpali obrolan Abahnya.
"Kok bisa seperti itu, Bah?" Rain ikut menimpali seraya menggantikan popok Rara kecil.
"Katanya sih, diracun sama istri keduanya."
__ADS_1
"Syafakallah¹ Pak Rudi. Dan semoga kita dijauhkan dari hal-hal seperti itu," sahut Rain.