
Setelah kejadian beberapa Minggu yang lalu, Rain enggan pergi bersama Restu. Ia masih trauma jika dia mengalami hal serupa. Ada kalanya kita harus memberi pelajaran seseorang melalui lisan. Apabila dengan kode tak mereka indahkan.
Pagi ini, masih sama seperti pagi sebelumnya. Rain lebih memilih bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan serta keperluan suaminya. Setelah itu Ia memilih untuk bergegas menuju toko kue.
"Bik, tolong, ya. Kalau bapak sudah bangun disuruh cepat-cepat mandi. Lalu sarapan dan minum wedang jahenya. Tetapi kalau wedang jahenya sudah dingin tolong segera di panasi."
"Iya, Bu. Tetapi apa tidak sebaiknya Ibu sarapan dulu di rumah? Takutnya nanti Ibu masuk angin."
"Tidak usah, Bik. Nanti aku sarapan di toko saja. Yasudah, Bik aku berangkat dulu, ya. Bibi jangan lupa sarapan."
_____
Jalanan masih sangat lenggang, karena memang ini masih pukul lima pagi. Tidak terlalu macet, sebab tidak terlalu banyak mobil berlalu lalang. Udaranya juga masih bagus bagi pernapasan makhluk hidup.
Udara ibu kota terasa sejuk. Ditambah dengan alunan shalawat Hatsbi Rabbi.
Salah satu shalawat yang Ia sukai.
Hatsbi Rabby, jalallaah ma fi Qalbi Ghairullah.
Nur muhammad... Shalallah..
laa Illa haa illalah.
Bibirnya bergerak mengikuti alunan shalawat tersebut. Terdengar begitu merdu, menenangkan siapa saja yang mendengarkannya. Bukankah seorang ulama pernah berkata. Barang siapa membaca shalawat, maka dia adalah bagian dari umat Rasulullah yang kelak di Yaumil Kiamat akan mendapatkan syafaat.
Restu terbangun dengan wajah gelisah, sudah beberapa pekan ini Rain mendiamkannya. Pergi pagi dan pulang pada saat senja sudah menuju peraduanya.
****
"Eh, Bapak sudah bangun. Tadi ibu pesan sama bibik. Bapak disuruh segera mandi, pakaiannya sudah bu rain siapkan. Dan setelah itu Bapak disuruh sarapan."
"Hem, ibu sudah berangkat sejak kapan, Bik?"
"Sejak satu jam yang lalu, Pak."
"Ibu tadi sarapan nggak?"
"Tidak Pak, ibu bilang mau sarapan di toko saja."
"Hem, yasudah, Bik," gumamnya lesu.
Langkanya gontai saat kembali menuju kamar. Saat sudah di dalam kamar mandi, Restu mengguyurkan air hangat ke seluruh tubuhnya. Ia merutuki segala kebodohan yang sudah Ia lakukan. Restu frustasi mengacak pelan rambut hitam legamnya.
Mau sampai kapan semua ini terjadi! Aargh!
"Halo, ada apa, Ken?"
"Ke apartemant sekarang bisa nggak, darl?"
"Yasudah tunggu. Aku akan segera ke apartementmu."
"Oke, Darl. Hati-hati. Love you and see you."
_________________
"Bik, tolong dimasukin ke dalam kotak bekal, ya. Aku makan di kantor saja."
__ADS_1
"Baik, pak."
"Ibu nggak buatin aku wedang jahe, ya, Bik. Kok tumben nggak ada?"
"Oh, buatin kok, Pak. Tetapi masih bibik panasin. Sebentar, ya. Bibik ambilkan dulu."
****
Sesampainya di apartement Keny, Restu bergegas masuk. Jaga-jaga saja jika ada yang melihatnya. Dia terkejut bukan main ketika melihat Keny dengan pakaian minim. Balutan singlet tanpa bra yang membuat miliknya tercetak samar
"Kenapa, darl? Tenang saja, aku nggak akan macam-macam kok." Keny berucap sedikit mendesah tepat di telinga Restu. Kontan hal itu membuat kejantanannya sedikit berdiri.
"Ada apa memintaku kemari?"
"Darl, aku butuh uang. Mama lagi sakit dan harus menjalanin perawatan di Singapore."
"Tante Losca sakit apa?"
"Kanker hati, darl."
"Baiklah, kamu bisa menggunakan uang perusahaanku dulu untuk mamamu. Tapi ingat! Gunakan uang dengan bijak, Ken."
****
"Mbak Rain mending pulang saja kalau sakit."
"Yasudah aku pulang dulu, ya. Kalian kalau sudah capek tutup saja tokonya."
Menuju arah pulang Rain merasakan nyeri pada bagian kepalanya. Ia khawatir jika memaksakan untuk tetap mengemudi maka dapat terjadi hal yang tak Ia inginkan.
Alhasil, Rain memutuskan untuk berhenti di salah satu apotek guna membeli obat.
"Astaghfirullah haladzim. Ya Allah, jauhkanlah suami hamba dari dosa zina."
Rain mencoba mengelabuhi hati melalui doa yang Ia panjatkan kepada Rabbnya, berharap jika ini adalah ilusi dalam sepi. Gelap kian pekat sat itu pula tubuh Rain semakin melemah dan ambruk di depan suami serta selingkuhannya.
"Astaga, Rain!" sontak Restu langsung melepas rangkulannya dan menghampiri sang istri yang sudah terkulai lemas.
"Rain, bangun, Rain. Ini nggak seperti yang kamu kira. Aku mohon bangun, Rain. Aku merindukanmu."
_______
Dari ambang pintu Restu melihat wajah pucat sang istri. Perasaan bersalah kembali menyelinap di dalam hati. Apa pun yang terjadi, Ia harus memohon ampun serta berjanji untuk tidak mengulangi.
"Sayang," panggilnya.
"Apa Mas Restu menyembunyikan sesuatu dariku? Katakan yang sebenarnya, Mas."
Restu bungkam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mungkin merasa bersalah, Ia kontan menunduk serta menghujami punggung tangan istrinya dengan ciuman.
"Kenapa Mas Restu selalu tidak menjawab pertanyaanku? Jawab saja, Mas. Insyaallah aku akan ikhlas menerima kenyataannya."
"Aku memang dekat dengannya akhir-akhir ini, tetapi aku dan dia tak ada hubungan apa-apa, Rain. Percayalah."
"Apakah parfum perempuan yang selalu tertinggal di baju Mas Restu adalah parfum perempuan itu? Lalu apakah maksud dari pelukan yang aku lihat tadi siang?"
Rain masih belum bisa menerima kenyataan ini. Susah sekali memang, jika harus belajar ikhlas ketika melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain yang jelas-jelas bukan mahramnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya mencintaimu, tolong jangan ceraikan aku, Rain. Aku tidak akan bisa bertahan hidup jika tanpa kamu," selorohnya.
Lelaki itu berkata seraya menitikan air mata dari kelopak hitamnya. Yang sontak membuat hati Rain menjadi luluh hanya dengan air mata dari orang yang dia cintai.
Rain tahu dia tidak berhak menghakimi suaminya. Mengingat ada Allah yang lebih berhak atas itu. Namun, tidak dipungkiri jika Rain kecewa terhadap apa yang sudah Restu suguhkan padanya.
Ya Allah, Maafkan suamiku.
Batinnya.
Air matanya masih mengalir deras.
Menandakan hatinya benar-benar hancur, bak dipukul dengan godam dan disayat menggunakan belati tajam.
****
Malam semakin larut dentingnya kian berjalan menuju terang. Namun perempuam bertubuh sintal itu belum juga bisa memejamkan mata. Hatinya serasa terbakar. Amarahnya semakin memuncak ketika melihat kepedulian Restu terhadap istrinya.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia dengan restu! Sampai kapan pun restu adalah milikku."
"Aarrgghhh! Sialan, awas kau ******! Aku akan membuatmu menderita. Tunggu saja permainanku," kelakarnya dengan kemarahan yang terus membara.
****
Dalam sujud, Ia mengadu kepada Allah. Ia menangis sejadi-jadinya. Tak henti Ia memanjatkan segala doa, berharap Sang Kuasa mengabulkan doanya.
Setelah selesai melaksanakan shalat malam, Rain lebih memilih tidur kembali. Badannya terasa lemas. Udara dingin menyusup ke dalam tulang sumsumnya. Namun sebelum memejamkan mata Ia sempatkan untuk membaca doa kepada Allah Ta'ala
"Ya muqaliball kulub, Tsabit Qalbi ala dinik."³
Berprasangka buruk.
Berprasangka baik.
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati manusia.
Teguhkan lah aku pada agamamu.
Haaaaiiii bagaiaman? Aku harap kalian tinggalkan vote dan komentar yang membangun yaa. Bakal aku next kalau banyak yang vote.
Jangan lupa sambil dengarkan lagu Hanindhya 'Asmara terbuang' supaya sad nyaa lebih berasa.
__ADS_1
Happy reading. Muach