
Jarak tempuh antar kota Jawa Tengah dengan Bekasi memang memakan waktu cukup lama. Baru setengah perjalanan, awan sudah menyiapkan dirinya untuk membasuh jalan. Udara yang cukup dingin pun membuat sepasang suami istri tersebut memutuskan untuk berteduh di masjid terdekat sembari menunaikan fardhu tiga rakaat.
"Shalat dulu saja, ya."
"Iya, Mas."
"Rara tidur, ya, Rain? Kalau begitu biar aku yang gendong Rara, ya."
Kemudian Restu turun dari mobil sambil menggendong Rara dengan sedikit berlari. Lalu disusul Rain yang membawa rantang berisi makanan pemberian Umminya tadi.
"Apa mau jamaah, Mas?"
"Iya, Rain. Rara di sini saja aman kok."
Setelah berwudhu keduanya cepat-cepat menunaikan perintah Allah. Karena disadari waktu shalat Maghrib akan segera habis. Shalat pun sudah selesai, mereka menghampiri Rara yang masih tertidur pulas. Tak mereka sia-siakan kesempatan itu keduanya pun segera melaksanakan makan malam dengan bekal yang masih dalam rantang.
"Nunggu isya sekalian, ya, Rain. Lagian hujannya malah semakin deras."
"Iya, Mas."
"Kamu nggak takut sama hujan?"
__ADS_1
"Takut sebenarnya. Tapi malu sama Rara."
"Sini mendekat. Mumpung Rara masih tidur."
Rain merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia berharap tiga puluh hari ini tidak berakhir begitu saja. Ia masih ingin merasakan kebahagian bersama suaminya. Tiba-tiba Rain menangis dalam dinginnya semesta.
Samar-samar indra pendengarnya mendengar derap langkah kaki seseorang. Rain pun melepas pelukan tersebut. Meski dengan suaminya sendiri Ia tetap merasa malu jika dilihat orang lain.
"Sudah isya, Mas."
"Aku ke toilet dulu, Rain."
________________
Pukul sembilan malam mereka melanjutkan perjalanan. Keduanya tengah asik berdialog di tengah-tengah guyuran hujan.
"Rain, terima kasih untuk tiga puluh harinya."
"Sama-sama, Mas. Aku berharap kita akan tetap seperti ini. Oh, iya. Mbak keny tahu nggak kalau kita hari ini pulang?"
"Tahu. Tapi dia nggak ada respon apa-apa."
__ADS_1
"Rain, kamu tahu nggak? Ternyata shalat sunah Qabliyah dan Ba'diyah itu pahalanya besar loh. Tadi aku sedikit sharing dengan bapak-bapak yang tadi."
"Terus, katanya?"
"Jadi shalat sunah Qabliyah itu dianjurkan agar jiwa kita memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib. Jika kamu bertanya kenapa? Jawabnya adalah karena jiwa kita sebelumnya telah disibukkan dengan berbagai urusan duniawi. Maka lebih baik shalat Qabliyah dulu."
"Lalu, untuk shalah sunah Ba'diyah?" tanyanya lagi.
"Nah, tadi kata bapak itu manfaat shalat sunah Ba'diyah untuk menyempurnakan shalat fardu. Apabila dalam shalat fardu tersebut terdapat kekurangan, maka dengan dilaksanakannya shalat sunah ini diharapkan bisa maksimal."
"Alhamdulillah, kita dapat ilmu lagi, ya."
*****
Restu dan Rain kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Kedatangan mereka tak dihiraukan oleh Keny. Rumah itu terlihat buruk. Kulit kacang di mana-mana, serta bau alkohol menyeruak menjadi penyambut indra penciuman mereka.
"Selamat datang di rumah setan ini! Kakak Ipar dan Kak Restu kaget, ya? Salah sendiri melihara ****** di rumah!" ketus Yordhii yang tiba-tiba datang dengan wajah masam tak ada manis-manisnya.
"Inalilahi. Bik tinah dan Mbak Keny ke mana, Dik. Kok rumah sampai seperti ini?"
"Bik tinah dipecat! ****** lagi tidur!"
__ADS_1
Restu pun tersadar dari lamunannya, "Kita ke kamar dulu yuk."
Seharusnya hari ini Rain beristirahat. Perempuan itu juga kembali merasakan nyeri di bagian dada. Tapi lagi-lagi karena rasa tanggung jawab yang tinggi pun dia menyadari akan kewajibannya. Alhasil Ia pun bergegas membereskan rumah serta menyiapkan makan siang untuk semuanya.