Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 51. Penyesalan 2


__ADS_3

Di lain tempat, Yordhii telah berada di kediaman Restu. Pemuda itu telah kembali dari Jerman beberapa hari yang lalu. Tak sengaja berjalan-jalan menyusuri area kebun belakang rumahnya, manik mata hitam pekat tersebut menemukan sesuatu yang tengah terbungkus oleh plastik hitam.


Setelah Ia buka, Yordhii sangat terkejut karena banyaknya botol kecil yang sama. Botol yang pernah Ia temukan beberapa Minggu yang lalu.


"Sebenarnya ini apa sih? Kenapa bisa ada banyak benda seperti ini?" gerutunya seraya mengambil plastik tersebut.


"Perlu dicari tahu ini. Nggak beres."


Yordhii pun bergegas menemui Kakaknya yang berada di dalam kamar. Dari balik daun pintu yang sedikit terbuka, Ia mendengar monolog Kakaknya. Pria itu pun mau tak mau harus berhenti di depan pintu dan menunggu sampai orang tersebut berhenti bermonolog.


"Kak Restu ngapain sih, kayak orang gila," gumamnya lirih.


"Saat aku merindukannya, saat itu pula aku tersadar, bahwa dia tidak lagi ku punya."


"Setelah aku terbangun dari tidurku, aku tetap berspekulasi bahwa itu adalah mimpi buruk tentangmu yang akan segera aku hapus setelah bangun nanti. Namun, setelah cahaya matahari menyilaukanku, aku baru tersadar bahwa beberapa waktu yang lalu kamu bukan lagi milikku."

__ADS_1


"Jika senja indah dengan warna orangenya, berarti kamu indah karena tutur katanya."


"Dari sekian banyak orang bodoh, ternyata aku adalah salah satunya. Bagaimana tidak, saat aku mencari sesuatu dengan susah payah, begitu aku mendapatkannya langsung aku buang dengan mudah."


Yordhii yang merasa geram pun akhirnya memutuskan untuk masuk. Dengan langkah gontai dan bibir yang dikerucutkan, pemuda itu langsung meletakkan plastik hitam yang beberapa menit lalu Ia temukan.


"Ngapain sih? Mau jadi agen quotes, Kak? Nih quotes yang pas buat Kak Restu!" hardiknya ketus. Kemudian Yordhii mulai ikut duduk di samping kiri Kakaknya.


"Saat-saat seperti ini kamu harus belajar cara mengikhlaskan sebuah kepergian. Sama halnya dengan ribuan induk rerumputan yang dipangkas secara sembarangan. Itu bukan kepergian atas dasar takdir Tuhan, melainkan kepergian atas dasar kecerobohan. Bersiaplah menjadi manusia paling menyesal sejagat raya. Setelah kau hancurkan sesuatu yang beratas namakan cinta."


"Kak Restu tanya siapa?"


"Kamulah!" jawab Restu.


"Kakak nyesel?"

__ADS_1


"Bisa dibilang seperti itu."


Yordhii kemudian bangkit dari duduknya. pemuda tersebut menatap lekat sejak pada Kakaknya. Kemudian mulai berucap.


"Telat!"


__________


Awan berwarna hitam pekat, membuat penerangan di rumah itu menjadi terhalang. Beberapa saklar lampu sudah pemuda itu nyalakan. Restu yang masih asik dengan posisi duduknya pun enggan meninggalkan balkon kamar. Pria sekitar tiga puluh tahun itu masih ingin menyaksikan rintik air hujan yang membasahi bumi manusia.


Rumah yang berukuran cukup besar kini menjadi terasa sepi mencekam. Terasa gelap meski pun cahaya terang benderang. Terasa tak bertuan, meskipun setiap hari banyak terjadi percakapan.


Lintasan kenangan yang masih berkubang meninggalkan luka, kesakitan serta kehancuran yang mendalam. Saat bumi mulai muak dengan bualan-bualan penduduknya, saat itu pula Ia akan melakukan sesuatu sesukanya.


Sama saja dengan hati, pemiliknya hanya mampu meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun kenyatannya, semua tak berbeda, hingga sebuah kekecewaanlah dalang utamanya.

__ADS_1


Ok, Gimana sudah clear, kan. Siapa si Avicenna itu. Avicenna itu panggilan untuk bapak doktor sedunia yang bernama Ibnu Sina. Dulu di pelajaran Sejarah islam ada kan kayaknya. Oke satu persatu problem akan terpecahkan. Dan oh iya, tadi ada yang dm author dan kasih beberapa nama pemeran yang cocok, dan kebetulan author demen banget sama salahsatunya, besok deh atau kalau nggak nanti malam bakalan author publish. Kyaaaaaaaa. Yaelah si Restu sok-sokan bikin quotes buat si Rain. Move on bang, move on huahahah. Tapi bener juga, kan quotesnya si Babang Yordhii.


__ADS_2