
Saat jam makan siang mereka menyempatkan untuk mengisi perut mereka dengan makanan khas Jepang yang di mix dengan makanan khas Jawa. Nuansa pada tempat itu lebih dominan dengan negara Jepang. Mulai dari piring saji, sendok, tempat duduk, figura, dan masih banyak lagi.
"Yang Bunda makan itu apa?"
"Mochi, Sayang. Kamu mau?"
Rain pun memotong mochi tersebut dan menyuapkan ke dalam mulut Rara. Mario yang melihat hal itu pun segera melahirkan ide-ide konyolnya.
"Rain?" sapa Mario.
Rain hanya mengiyakan panggilan tersebut tanpa menolehkan kepalanya.
"Itu yang kamu makan apaan?"
"Kan, tadi Rara sudah tanya, ini namanya mochi. Kamu mau?"
"Iya-iya. Aku mau."
Doktor muda tersebut tersenyum ketika Rain menawarinya. Ia berharap Rain juga akan menyuapi seperti yang beberapa menit lalu Ia lakukan pada Rara.
"Yasudah, aku pesankan, ya?"
"Lah, kok malah mau dipesankan sih! Kan cuma mau nyobain dikit aja. Kenapa nggak disuapin seperti Rara tadi?"
Beberapa orang yang ada di situ terlihat tersenyum dengan penuturan Mario. Rain juga tak beda jauh, perempuan dengan gamis adhisa maroon tampak bergeleng seraya menegak minuman di sampingnya.
"Rain?"
__ADS_1
"Iya, Jason?"
"Tadi kenapa orang tua Rara tidak diajak sekalian?"
"Orang tuanya sedang ada urusan, jadi tidak bisa ikut."
******
Hari kedua berada di kota Siger membuat Rain semakin dekat dengan Mario. Mungkin jika dikatakan, gombalan Mario sehari bisa lebih dari tiga kali. Jika dipikir-pikir sudah seperti minum obat saja.
"Aku sih nggak suka kopi manis, Rain. Karena bisa-bisa diabetesku semakin tinggi."
"Kamu punya riwayat diabetes?"
"Iya. Semenjak aku mengenalmu. Dan semenjak itu pula aku didiagnosa diabetes."
"Kok aku?"
Rain tertawa kala mengingat ucapan Mario petang kemarin. Tak ingin menyia-nyiakan hari terakhir di kota Siger. Mereka membuat video dan menghabiskan detik dengan berfoto.
"Rain, foto yuk? Dari kemarin hanya kita berdua yang belum foto."
Setelah beberapa kali berpose, Mario meraih kedua tangan Rain yang terbalut denga kain handsock. Setelahnya, Ia mengeluarkan benda berwarna maroon yang berbentuk hati.
"Rain, will you marry me?"
Tidak hanya Rain yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Mario. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka juga sontak mengalihkan pandangan menuju keduanya. Rain benar-benar mati kutu kala itu.
__ADS_1
Tidak ada persiapan di dalam hatinya, semua terjadi secara tiba-tiba. Mario masih bertahan dengan posisi awal. Pria tersebut sepertinya masih menunggu jawaban dari Rain. Namun perempuan itu tak kunjung memberikan jawaban.
"Mario, aku ... aku tidak bisa, aku tidak-." Kalimatnya terhenti ketika Mario menempelken jari telunjuknya pada bibir cherry Rain
"Kenapa, Rain? Apa karena aku nonmuslim?"
"Bukan seperti itu. Tapi ...," lirihnya dengan perkataan yang sengaja Ia gantung.
"Karena kamu memang tidak akan pernah bisa mencintaiku lagi? Katakan, harus dengan cara apa lagi, Rain?"
Mario terlihat hampir putus asa. Berkali-kali Ia mengusap wajah dan mengacak rambutnya dengan kasar.
Mario menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya secara pelan. Lawan bicaranya tak lagi berucap barang sekata pun. Rain tidak mengerti dengan hatinya. Jika Ia menerima lamaran tersebut, apakah kedua orang tuanya akan merestui hubungan mereka.
"Pesan Abah dan Ummi, kelak jika kamu sudah dewasa, carilah lelaki yang baik agamanya. Agar kamu bisa lebih mudah menuju surga Allah. Dan carilah lelaki yang ketika marah tetap akan memperlakukanmu dengan baik."
"Its ok. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab. Baiklah aku berhenti untuk semuanya, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Tidak masalah, jika memang kita berjodoh, aku yakin kelak kita akan bersama."
Mario berucap dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Setelahnya, Dokter muda tersebut mendaratkan sebuah kecupan lembut pada keningnya. Lepas itu, Mario berlalu meninggalkan semuanya.
Ada Rasa tidak rela dengan kalimat terakhir Mario. Ada rasa yang menginginkan agar Mario tetap berada di dekatnya dan ada rasa yang menginginkan agar ciuman itu tidak berakhir. Namun entahlah, Ia tidak mengerti dengan hatinya.Ia hanya tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya.
******
Sore itu mereka pulang ke Bekasi tanpa sosok Mario. Rain yang merasa bersalah dengan pria itu pun diam-diam sedang menitikan air mata.
"Iidha kan hu rafiqiun yajlib qalbah 'iilaa qalbiin , 'iidha lam yakun lil almubarat , qalbi qaliqat mae' ahkamik."
__ADS_1
Jika Dia jodohku maka dekatkan hatinya dengan hatiku, jika bukan jodohku maka damaikanlah hatiku dengan ketentuanMu. (Terjemah dari bahasa arab)
________________________