
Sudah empat hari setelah insiden di apartemen membuat Restu semakin frustasi. Sebab, ia tahu betul siapa pelakunya. Ditambah lagi dengan keadaan sang isteri yang semakin sering mengeluhkan rasa sakit di bagian kepala dan perutnya.
"Sayang, makan dulu, ya. Aku nggak tega lihat kamu seperti ini. Titahnya halus sambil sesekali tangannya mencium buku-buku tangan sang istri.
"Nanti malam siapa dong yang akan menjadi lawan mainku?" ungkapnya menghibur.
Tetapi hanya dibalas tawa oleh mahluk bernama Loovinka Rain yang sedang terkapar lemas bagaikan mayat hidup. Namun hal itu tidak merubah pesona cantiknya.
"Aku sudah sembuh kok, Mas. Hanya saja aku masih lemas." Rain berkata dengan disertai senyuman yang semata-mata agar dirinya terlihat baik-baik saja.
Kamu harus makan yang banyak. Supaya lekas sembuh." Restu berkata setengah berbisik pada telinga sang istri. Kontan hal itu menimbulkan reaksi geli bagi lawan bicaranya.
"Kamu paham, Sayang?" selanya lagi dengan ujung jari telunjuk yang menoel hidung istrinya.
Rain hanya menjawab dengan isyarat anggukan, enggak bersua. Benda berbentuk pipih yang sedari tadi menyaksikan adegan pasangan suami isteri tersebut nampak berdering. Sepontan sang empunya pun mulai mengambilnya.
"Iya. Waalaikumsalam. Ada apa kok pagi-pagi menelpon?"
"Mbak Rain, aku ada kabar gembira ini, Mbak."
Terdengar suara di seberang sana.
Yang entah sedang membicarakan apa. Pasalnya, suara itu tidak terlalu jelas. Tetapi Restu masih saja mencoba menerka-nerka siapa seseorang yang tengah menelepon istrinya tersebut.
__ADS_1
"Kabar apa sih kok sepertinya bahagia betul. Ayo segera katakan!"
"Siapa sih! Kok sepertinya asik banget ngobrolnya? Itu laki-laki atau perempuan yang sedang meneleponmu?"
Lihatlah wajah cemburu Restu sangat lucu. Tak dapat dipungkiri jika Rain tidak tertawa.
"Itu suara siapa ya, Mbak Rain? Kok sepertinya suara lelaki," sahut seseorang dari seberang sana.
"Itu su-"
Belum sempat Rain menyelesaikan kalimatnya. Suara perempuan di seberang sana membuat Rain mau tak mau harus diam dan mendengarkan Ia berbicara.
"Mbak Rain selingkuh, ya! Ya ampun Mbak Rain. Jangan-jangan itu suara tetangga Mbak Rain, ya? Memangnya Pak Restu kemana, Mbak Rain? Astaga mbak Rain."
Sebab setelah Restu menekuk wajahnya, Rain tidak langsung menjawab. Ia lebih memilih mendekatkan benda pipih tersebut kepada suaminya.
"Ya Allah, Liza. Itu tadi suara Mas Restu. Bagaimana mbak mau jawab, jika tadi ucapan mbak kamu potong terus."
"Hehehe ... maafin Liza, Mbak. Habisnya liza terbawa suasana sih."
"Memangnya berita apa yang hendak kamu sampaikan, Liz?"
"Toko kue Mbak Rain dapat tawaran dari caffe di Jerman mbak. Pemilik cafe itu pagi-pagi betul datang ke toko. Dia bilang, dia ingin mengadakan kerja sama dengan toko kue, Mbak Rain selama satu tahun. Dan parahnya lagi itu orang memberikan uang muka sebesar satu miliyar."
__ADS_1
"Be-be-benarkah, Liz?"
"Benar sekali, Mbak," sergahnya begitu yakin.
"Alhamdulilah Ya Allah. Yasudah nanti kalau mbak sudah agak mendingan, mbak akan ke toko. Kalian berdua hati-hati, ya. Mbak nitip toko."
"Apakah di Jerman tidak ada toko kue, sampai-sampai rela jauh-jauh ngadain kerja sama dengan toko kue di negara lain," ujarnya.
"Mas Restu, seharusnya Mas Restu berayukur."
"Iya aku bersyukur, Rain."
Ungkapnya lagi, dengan mimik wajah cemburunya, "Tapi aku waspada saja, kalau-kalau itu hanya sebuah penipuan, atau bisa jadi itu orang jahat," ucapnya dengan menggebu-gebu.
"Astaghfirullah, Mas Restu. istighfar, Mas. Jangan suudzan, nanti dosa."
"Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-napa, Rain."
"Serahkan saja semuanya kepada Allah, Mas. Kita sebagai umat-Nya hanya perlu berdoa dan waspada. Selebihnya ya, terserah Allah."
"Aku tidak mau tahu, Rain. Yang terpenting adalah kamu tetap bersamaku sampai kapan pun. Jika tidak, dapatku pastikan jika aku akan menjadi salah satu penghuni rumah sakit jiwa."
Dan setelah itu, Ia lebih memilih mendekap sang istri kemudian, mendaratkan sebuah kecupan di keningnya dengan hangat.
__ADS_1