
Rain POV
Sudah tiga bulan ini rumah tanggaku kehadiran orang ketiga. Perubahan sudah mulai terasa. Mas Restu sudah dua bulan ini tidak bermalam denganku. Aku memang sudah yakin jika lambat laun perasaan Mas Restu akan berubah.
Malam ini Mas Restu memintaku untuk ikut menghadiri acara pernikahan temannya. Aku kira hanya akan berdua denganku, nyatanya tidak. Saat aku sudah turun dari lantai atas, aku sudah mendapati Mbak Keny yang tengah menggandeng lengan Mas Restu.
Aku duduk di kursi belakang. Lagi-lagi aku tersingkirkan. Kursi yang biasanya aku duduki setiap melakukan perjalanan sekarang bukan lagi aku yang mendudukinya. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, Mas Restu juga nampak cuek dengan apa yang netranya lihat.
Mas Restu menengok ke belakang, "Ayo Rain turun." Katanya seraya tersenyum dan membuka pintu mobil.
Dari sekian banyak orang-orang yang berada di ballroom, mungkin ada beberapa teman-teman Mas Restu yang mengenali aku. Pun, tatapan iba mulai menyelimuti diriku. Bayangkan saja, aku lebih memilih berjalan di belakang Mas Restu serta Mbak Keny.
Aku, Mbak Keny, dan juga Mas Restu sedang duduk berbincang dengan salah satu tamu undangan. Salah satu dari mereka menatapku dengan aneh. Mungkin mereka pernah bertemu denganku atau bahkan mereka mengenaliku.
"Perempuan berjilbab ini siapa, Pak Restu? sepertinya saya tidak asing," tanya salah satu teman Mas Restu.
Lalu Mas Restu merasa kikuk, dia tidak segera menjawab, justru beliau malah memandangku. Mungkin Mas Restu menanyakan jawaban apa yang tepat untuk dilontarkan
"Ini Adik sepupu saya." Mbak Keny berdusta seraya mengusap punggungku.
"Bukankah istri Pak Restu dulu berjilbab, ya?"
"Iya, dulu saya berhijab. Tapi karena sekarang saya sedang hamil, jadi saya melepas hijab saya. Mungkin ini keinginan calon anak kami."
Munafik sekali kamu, Mbak.
Sudah aku duga jika Mas Restu tidak akan menyangkal jawaban Mbak Keny. Aku tersenyum saja. Tidak ingin membuat kebahagiaan Mas Restu hilang. Tapi seperti ada kilatan petir yang menyambar dadaku Ya Allah sakit sekali rasanya. Sesak tidak karuan. Dan mataku, kini mulai berkaca-kaca.
"Aku pamit ke toilet dulu, Mas," ujarku pada Mas Restu.
Aku menyadari seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku. Aku menoleh ke belakang, namun aku tidak melihat siapa-siapa. Sudahlah aku tidak peduli. Rasa sakitku lebih besar dari ketakutan ini.
Aku sengaja tidak mempermasalahkan hal tadi, aku hanya tidak ingin jika aib Mas Restu sampai terdengar ke telinga orang lain. Bukankah menutupi aib sesama muslim itu sudah kewajiban kita. Apalagi ini suamiku sendiri. Sejahat apa pun Mas Restu, Ia tetap suamiku, surgaku ada di sana. Aku tidak mungkin melawannya, aku tidak ingin menjadi istri durhaka.
__ADS_1
Aku rasa sudah lebih dari dua puluh menit berada di toilet. Aku pun memutuskan untuk kembali, namun aku tidak mendapati Mas Restu dan Mbak Keny.
Beberapa tamu undangan sudah pulang. Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan. Rupanya sudah pukul sepuluh malam.
Ketika tanganku mencari aplikasi berwarna hijau tiba-tiba saja ponselku mati. Aku mengingat satu hal, bahwa aku lupa mencharger ponsel ini.
Mau tak mau aku harus berjalan, kebetulan halte bus tidak terlalu jauh dari sini. Malam sudah semakin larut, udara malam juga tidak bersahabat. Aku dongakkan kepalaku ke atas, aku tidak mendapati bintang atau pun bulan. Sudah aku pastikan jika sebentar lagi akan turun hujan.
Aku merasa jenuh ketika tidak ada bus yang melintas. Jam juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku melihat mobil yang menepi menghampiriku, ketakutan mulai menyelimuti diri. Aku takut jika itu orang jahat, atau entahlah, tidak sempat aku melihat apa yang terjadi selanjutnya tubuhku sudah ambruk.
****
"Perempuan itu siapa? Kenapa mama merasa tidak asing dengannya?"
"Dia Rain yang delapan tahun lalu aku ceritakan kepada, Mamah. Dan yang fotonya selalu aku gunakan sebagai wallpaper."
"Oh Lord! Benarkah? Dia cantik sekali. Mamah ingin menemuinya."
"Jangan, Mah. Biarkan dia istirahat."
Aku mencoba bangkit, tetapi tubuhku benar-benar lemas, kemudian aku mendengar derap langkah kaki yang sepertinya menuju kemari.
"Manusia purba, Kau sudah sadar?"
Aku mengenali suara dan sebutan itu. Tapi siapa pemuda tersebut? Lalu, mengapa topinya sama seperti pemuda yang berada di toko pekan lalu?
"Kamu ... Kamu siapa?"
Sosok tersebut bungkam, justru mulai mendekatiku. Setelah lebih dekat, pemuda itu membuka topinya. Dan benarkah yang aku lihat saat ini?
"Mario?"
"Kamu masih mengenalku, Rain?"
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Yo? Mengapa aku ada di sini? Tolong antarkan aku pulang," pintaku memelas. Aku takut jika terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan.
"Tenanglah, Rain. Aku tidak akan menyentuhmu," ucapnya.
"Semalam sekitar pukul sebelas, Kamu pingsan di halte. Dan aku membawamu kemari. Karena aku tidak mengetahui alamat rumahmu."
"Dari mana kamu tahu semua itu?"
"Maafkan aku. Karena saat di pesta, aku tengah mengikutimu."
"Aku ucapkan terima kasih, Yo. Karena kamu sudah menolongku. Tapi aku harus pulang sekarang juga. Suamiku pasti sudah menunggu."
"Mengapa Kamu masih menyebut Restu sebagai suami setelah apa yang Ia perbuat padamu, Rain?"
"Maaf, Mario. Kamu tidak perlu tahu. Ini urusan rumah tanggaku."
Kemudian aku bangkit dari tempat itu, kulihat waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Itu tandanya sudah lebih dari satu jam aku tidak kembali ke rumah.
Pada saat aku bangkit dan melepas selimutku, aku kaget ketika melihat pakaian yang tengah kukenakan. Mengapa gamisku berubah? Dan jilbabku? Astaghfirullah. Jika Mario yang menggantikan pakaian ini, itu artinya ...?
"Jangan mempunyai pikiran kotor. Aku tadi meminta asisten rumah tanggaku untuk mengganti pakaian dan kerudungmu."
______
"Berhentilah di gang itu. Aku tidak ingin orang-orang yang melihat ini menjadi ghibah¹."
"Baiklah."
Aku pun turun dan berjalan menuju gerbang rumahku. Setelah sampai di lantai atas, aku mendapati Mas Restu yang tengah tertidur di kamar kami. Aku sempatkan memandang wajahnya, sungguh tampan dan menenangkan wajah suamiku. Tapi sekarang, Ia bukan milikku sepenuhnya.
Menurut bahasa adalah menggunjing. Sedangkan menurut istilah, ghibah adalah membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya, baik jasmani, qgama, akhlak serta kekayaannya.
__ADS_1
________