
Jika minggu lalu Rain liburan dengan Restu dan Rara, maka hari ini Jason mengajak Rain, Rara, Mario, serta kedua karyawan Rain untuk berlibur ke salah satu tempat wisata di tanah tapis berseri.
Tidak ingin mengingat kenangan beberapa tahun silam saat Rain pergi ke Lampung bersama Restu, kali ini Ia ingin benar-benar membuang semua perasaannya dan juga semua kenangan bersamanya.
Saat mereka sudah berada di pelabuhan Merak Banten, mereka segera masuk ke dalam ruangan yang telah di sediakan. Mungkin karena kelelahan, Rain tanpa sadar telah tertidur dengan menyandar di pundak Mario. Mario tersenyum saat menyadari hal itu.
"Tidurlah. Aku harap setelah bangun nanti, kamu akan mencintaiku." Dalihnya seraya mengecup kening Rain.
"Lancang banget sih, Om. Orang tidur main cium-cium. Awas, ya, bakalan saya aduin ke Mbak Rain!"
"Aduin aja. Lagian sebentar lagi aku dan Rain bakalan nikah. Tunggu aja deh, nanti kamu dan Yordhii yang akan jadi pagar ayu serta pagar bagusnya."
Ba'da Maghrib mereka telah sampai di salah satu tempat wisata kota Bandar Lampung. Tepatnya di Bukit Sakura, Lampung Selatan. Mario sengaja memilih tempat tersebut karena dia ingin Rain lebih relaxs ketika melihat jutaan bunga sakura berwarna pink.
Setelah meletakkan barang-barang mereka di dalam vila, Liza dan Sari sudah pergi terlebih dahulu. Kemudian di susul oleh Jason dan Rara yang sedang menikmati jagung bakar. Mario dan Rain berjalan beriringan menyusuri tempat tersebut.
"Enak jadi manusia purba, ya, Rain?"
__ADS_1
"Apa enaknya?"
"Karena bisa hidup berdua denganmu saja."
"Nggak jelas deh, Yo."
"Yasudah, ayo makanya kita perjelas status hubungan kita."
Mario dengan santai dan tanpa beban menyanggah perkataan Rain. Rain tidak ingin munafik, tanpa dia sadari senyuman telah terbingkai dari bibir mungilnya. Namun Ia tetap terlihat jual mahal. Perempuan dengan long jacket muslimah itu kemudian melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Mario.
_________________
Namun lain dengan perempuan berjilbab merah, sejak kejadian tadi malam dengan Mario, perempuan itu tidak bisa memejamkan mata sampai pukul tiga dini hari. Entah mengapa Ia merasakan perasaan yang berbeda ketika sedang bersama Mario.
"Mau foto prewedding, ya, Mas?" tanya Mario pada pria asing tersebut.
"Iya, Mas."
__ADS_1
Lalu Mario merapatkan tubuhnya agar tidak ada celah antara dia dan Rain.
"Kita mau foto prewedding kapan, Rain? atau sekarang saja?"
Rain yang merasa kesal dengan sikap Mario pun menjulurkan tangannya dan secepat mungkin menggelitik pinggang kurus Mario. Mario yang kaget pun sontak menjerit dan menggeliat bagaiakan ulat bulu. Rain tertawa sambil berlari dari jangkauan Mario.
"Berlarilah sejauh yang kamu mau, Rain. Karena aku akan tetap bisa mendapatkanmu."
"Benarkah?" lepas itu Ia kembali berlari dengan irama hati yang lain dari biasanya.
"Tentu. Cobalah berhenti sebentar saja."
Saat Rain menghentikan langkahnya, Mario secepat mungkin berlari dan memeluk tubuh kurus Rain dari belakang. Kemudian pria itu membisikkan sesuatu pada wanita pujaannya.
"Ana uhibbuka fillah itu artinya apa?" Mario mengucapkan kalimat itu dengan sangat lembut. Aroma tubuh Mario kian menguar membuat Rain mau tak mau harus menyesap wanginya.
"Aku mencintaimu karena Allah."
__ADS_1
Rain menjawab pertanyaan Mario tanpa memikirkan sesuatu hal. Setelah Ia menyadari ucapan tersebut Rain membalikkan tubuh. Kontan hal itu membuat keduanya saling bersitatap.
________________