Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 62. Alam Sutera Saksi Cinta.


__ADS_3

Rutinitas yang hampir ditinggalkan di dalam keluarga Pak Diftha. Semenjak Restu menalak Rain, keluarga Pak Diftha tidak lagi sering berkumpul. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Mala Rahajeng, perempuan itu kini tak lagi selaras dengan menantu pilihannya itu.


Ruang keluarga tersebut kini tengah ramai dipadati oleh keluarga Pak Diftha. Mereka tengah berkumpul sambil mencoba membangun keluarga yang sedikit bermasalah. Karena dirasa semua masalah selalu menghampiri mereka. Lain dengan Mala, perempuan paruh baya itu memilih duduk di sofa pojok ruang tamu dengan tangan yang menopang dagu dan bibir yang dikerucutkan.


"Opa, Rara sebentar lagi mau punya adik loh."


"Keny hamil lagi?" pekik Mala dengan suara yang menggelegar, kemudian Mala berjalan menghampiri Keny yang merasa risih dengan tatapan sang mertua.


"Punya anak satu saja nggak bisa mengurus. Kok sok-sokan mau punya anak lagi!"


"Mamah jangan lancang, ya kalau ngomong! Siapa juga yang mau hamil lagi! Rara, maksud kamu bicara seperti itu apa?"


"Bunda Rain hamil, Oma. Tadi Bunda Rain datang ke sekolah Rara dan bawa nasi goreng untuk rara." 


Restu yang terkejut dengan perkataan Rara barusan pun sontak menimpali, "Rain hamil?"


"Kak Restu belum tahu? Ah, telat Kak! Hebat ya Bang Rio!"


*****


Jalanan kota metropolitan yang tidak pernah mati. Lalu lalang kendaraan yang silih berganti menimbulkan suara-suara yang berdendang manja. Menikmati senja di balkon kamar merupakan rutinitas yang tidak pernah Rain tinggalkan.

__ADS_1


Bukan hanya taman dengan ribuan bungan anggrek. Tetapi duduk di kursi kayu dengan di temani sang suami merupakan kenikmatan tiada tara.


"Aku kangen dengan liza dan sari. Aku ingin ke Bekasi, Mario."


"Besok kita ke Bekasi, mau?"


"Tapi, kan besok kamu mau ke luar kota untuk menangani operasi pasienmu," lirihnya.


"Jadwal operasinya masih lusa, Sayang. Besok kita ke Bekasi sekalian ke sekolah Rara, ya?"


Rain tersenyum dengan perlakuan suaminya. Perempuan itu kemudian menghadap Mario dan membalas pelukannya. "Terima kasih, Mario."


Alam Sutera Bumi Serpong Damai memang selalu memberikan kesan baik pada pasangan itu. Bagaimana tidak, udara malam yang sangat sejuk, pancaran bintang yang seolah-olah ingin ikut mengawal mereka pun hadir begitu banyak menghiasi sang bumantara.


"Boleh aku jujur?"


"Boleh."


"Kamu setiap detik selalu cantik," jujurnya kepada sang istri dengan tatapan yang penuh cinta nan ketulusan.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Apa perempuan yang sedang hamil selalu menyebalkan?" gerutunya.


"Kenapa?"


Sejak tadi memang perempuan dengan daster bermotif dorami itu hanya menanggapi perkataan suaminya dengan satu atau dua kata saja. Mario yang merasa geram pun kontan membopong tubuh istrinya seraya melangkah meninggalkan area taman.


"Karena hari ini kamu menyebalkan, maka malam ini kita harus bermain. Supaya galend junior ikut olahraga malam."


"Rain?"


"Iya, Mario?"


"Dengar, ya. Cintaku ke kamu itu seperti idzhar syafawi, sangat jelas dan tidak samar-samar."


Mario yang kala itu mengenakan sarung bermotif catur dan kemeja navy tengah menggombali istrinya yang sedang melipat mukena.


"Kenapa kamu suka sekali bercanda, Mario, ini masih terlalu pagi!"


"Dengarkan dalil ini, Rain. Supaya kamu tahu bahwa bergurau dengan istri adalah ibadah."


Rain pun duduk dengan kaki menjuntai dan seraya membacakannya.

__ADS_1


__ADS_2