
Arum menangis...
" Romo tidak adil...."
Ia berlari....tidak mau menoleh ke belakang. Tidak ia pedulikan panggilan kedua orang pelayan yang mengejarnya.
Arum sakit hati....selama ini ia sudah cukup bersabar. Ia merasa selalu di" anaktirikan" oleh Romonya.
Arum berlari jauh meninggalkan kedua pelayannya yang terengah- engah, mereka berhenti mengejar Karena kecapekan.
Setelah cukup jauh berlari, Arum berhenti lalu duduk di pinggir jalan.
Ia menghapus air matanya, diam menenangkan gemuruh di hatinya. Ia berpikir keras.
"Aku harus menemui Kanda Bondo, harus kutanyakan padanya apa ia menyetujui perjodohannya dengan Anum, kakaknya," bisiknya dalam hati.
Arum segera berdiri, ia ingin mencari Raden Bondo kekasihnya.
Raden Bondo biasanya berada di ladang jagung milik keluarganya, mengawasi para pekerja yang berladang.
Arum membelokkan kakinya ke arah Raden Bondo sedang bekerja.
Dengan melewati jalan pintas yang sudah dikenalnya, Arum terburu- buru setengah berlari untuk bertemu Raden Bondo.
Selang waktu tak berapa lama, dari jauh Arum sudah melihat Raden Bondo sedang duduk di pondok yang ada di pinggir ladang, sambil mengawasi para pekerjanya.
"Kanda Bondo...," panggil Arum.
Raden Bondo menoleh, dari wajahnya ia tidak bisa menyembunyikan keheranannya melihat Arum datang ke tempat itu.
Raden Bondo segera berdiri menyambut Arum yang datang menghampirinya.
" Arum...kenapa kamu ada di sini? duduk sini," Raden Bondo mengajak Arum duduk di dalam pondok.
Arum duduk lalu memandang hamparan luas ladang milik keluarga Raden Bondo, ia melihat para pekerja ladang sedang sibuk bekerja.
Arum lalu beralih menatap kekasihnya yang sedang menatapnya bingung.
Arum menghela napasnya sebelum membuka pembicaraan.
" Kanda...Arum mau tanya, apa kanda sudah tau tentang perjodohan kanda Bondo yang diatur ayahanda Kanda dengan kakakku Anum?"
Raden Bondo menelan salivanya.
" Maaf Arum....aku sudah tau," jawabnya dengan suara pelan.
"Lalu kanda menerimanya?" Arum menatap tajam mata kekasihnya.
"Ayahandaku sudah memberitahukan hal ini padaku, aku sudah sempat menolaknya...," jawab Raden Bondo dengan perasaan bercampur- aduk.
__ADS_1
"Lalu kanda kemudian terima?" mata Arum mulai berkaca- kaca.
" Aku sudah jelaskan pada ayahandaku Arum...bahwa yang aku cinta adalah kamu bukan Anum, aku sudah katakan kalau kita sudah pacaran...tapi ayahanda tidak mau mendengarnya?"
" Apa alasannya? apa karena aku tidak pantas? apa karena Anum yang pantas untuk jadi pendamping kamu?" Arum mulai emosi.
" Bukan begitu..."
" Lalu apa sebabnya?" tanya Arum yang mulai terisak.
" Ayahanda bilang karena kami adalah sama- sama anak sulung, di dalam keluarga kami percaya kalau anak sulung menikah dengan anak sulung maka akan selalu berkelimpahan rezeki dan keturunan."
Arum menggigit bibirnya...hatinya teramat sakit seperti tertusuk ribuan jarum.
"Lalu Kanda tidak mau memperjuangkan aku?"
"Maafkan aku Arum...aku bersalah kepadamu," Raden Bondo tertunduk.
" Apa selama ini hubungan kita tidak berarti buatmu kanda?"
" Aku sangat mencintaimu Arum...sungguh...tapi aku tidak mungkin menentang kehendak ayahandaku...tolong maafkan aku..."
" Kamu jahat kanda.....aku benci kamu....," Arum menangis kencang.
"Aku menyesal.... aku harap kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku Arum...aku ingin kamu bahagia," Raden Bondo berkata lembut.
"Arum...jangan begitu. kumohon...lupakan kisah cinta kita...kumohon jangan kau sumpahi aku...," ucap Raden Bondo dengan sendu.
" Aku sumpahi kamu akan menderita...aku sumpahi kalian berdua tidak akan bahagia. Aku benci kamu...benci...," Arum berteriak histeris.
Para pekerja semua melihat ke arah mereka, Arum tidak peduli. Ia sangat marah dan sakit hati.
" Tenangkan dirimu Arum...," Raden Bondo membujuk Arum yang histeris.
Raden Bondo memegang tangan Arum, Arum langsung menepisnya.
"Aku membencimu....sungguh membencimu...ingat Kanda kata- kataku...kau akan hidup sengsara bersama Anum, sengsara sampai kalian akan menangis darah....ingat itu...ha...ha...," Arum tidak bisa menguasai dirinya lagi.
Tiba- tiba terdengar suara petir menyambar di angkasa.
Raden Bondo terkesiap. Ia memandang ke arah langit.
"Lihat...langitpun mendukungku..," Arum tertawa.
Rasa cinta di hatinya dengan sekejap telah berubah menjadi benci.
Di hatinya telah tumbuh dendam yang membara.
Hubungan manis yang selama ini mereka jalani dalam sekejap menjadi bara dendam yang siap menjadi bom waktu di kemudian harinya.
__ADS_1
Arum berlari meninggalkan Raden Bondo yang dulu pernah sangat dicintainya.
Raden Bondo mengusap bulir keringat yang menetes dari keningnya.
Ada perasaan tidak enak menyusup dalam hatinya.
" Arum cuma emosi...ia tidak sungguh- sungguh menyumpahi ku," ucapnya dalam hati menghibur hatinya yang mulai resah.
Arum berlari tanpa arah, ia sudah kalah dari kakaknya Anum.
Hatinya sakit dan kecewa, tidak ada lagi rasa cinta untuk Raden Bondo. Semua rasa cintanya sudah berubah menjadi dendam yang membara.
Arum ingin pergi meninggalkan rumah dan kehidupannya sekarang.
Ia tidak punya tujuan. Ia tidak punya siapa- siapa lagi. Tidak ada yang benar- benar mencintainya.
Bunda yang mencintainya sudah tiada. Romonya tidak pernah menyayanginya, bahkan Anum kakaknya sendiripun tega menyakitinya. Kekasihnya tidak mau memperjuangkan cinta mereka.
Semua bekerja sama untuk menyakitinya, lalu untuk apa ia masih berkumpul bersama para pengkhianat itu.
Arum mengepalkan kedua tangannya, ia bersumpah untuk membalaskan sakit hatinya.
Tak akan ia biarkan orang- orang yang menyakitinya hidup dengan bahagia, mereka akan hidup sengsara. Ia bersumpah....
Kakinya mengikuti kemanapun kakinya melangkah, Arum hanya berjalan lurus.
Matanya merah, wajah cantiknya berubah menjadi pucat. Arum sudah tidak menangis lagi, yang tampak cuma kemarahan yang terlihat dari raut wajahnya.
Entah sudah berapa lama ia berjalan, ia berusaha menahan rasa dahaganya.
Ia hanya ingin segera menjauh dari tempat tinggal dan orang- orang yang telah membuatnya sakit hati.
Arum melihat dari kejauhan, nampak hutan belantara berada di depan matanya.
Arum berjalan ke sana, hanya tempat itu yang menjadi tempat tujuannya sekarang.
Hutan itu adalah hutan yang "terlarang" bagi masyarakat di sekitar.
Selain sangat rimbun dengan pepohonan dan semak belukar, tempat itu sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut menyimpan banyak cerita yang bersifat mistis.
Dari cerita menjadi tempat pesugihan, banyaknya binatang buas, serta tempat tinggal segala makhluk astral yang tidak terlihat.
Selain itu dari cerita yang sudah lama beredar, hutan itu menjadi tempat orang- orang yang menganut dan belajar ilmu hitam.
Arum sudah sering mendengar cerita mengenai hutan itu, mungkin dalam keadaan biasa ia akan merasakan takut untuk mendekati hutan itu.
Tapi sekarang, ia berada dalam keadaan emosi marah dan dendam.
Arum malah berharap, di hutan itu ia akan bertemu "sesuatu" yang bisa ia jadikan alat untuk membalaskan dendam kesumat di dalam hatinya.
__ADS_1