Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Lagi dan lagi


__ADS_3

Anum dan Ningrum dalam perjalanan pulang.


" Ningrum...tolong jangan ceritakan apa yang sudah aku alami tadi kepada bunda, ayanda, maupun suamiku...mereka akan tau aku tidak menemanimu dari awal," pesan Anum dengan khawatir.


"Bunda pasti akan memarahiku karena melepas tanggung jawabku untuk menjagamu," tambah Anum lagi.


Ia takut Raden Bondo nantinya akan banyak bertanya, siapa teman yang sudah ditemui Anum, ia takut rahasianya dengan Dimas akan terbongkar.


" Tenang Mbakyu, Ningrum janji tidak akan memberitahu orang di rumah...ini akan menjadi rahasia kita bertiga dengan Ki Anjar," jawab Ningrum menenangkan Anum.


"Ki Anjar juga...tolong simpan rahasia tadi ya jangan sampai orang di rumah tau Ki...," mohon Anum pada Ki Anjar.


" Iya Gusti ayu...saya janji akan menutup rapat- rapat mulut saya," jawab Ki Anjar.


Anum terlihat lega, ia harus pandai- pandai menyimpan segala sesuatunya agar tidak ada yang mencurigainya.


Di rumah ia akan berusaha untuk berperan sebagai isteri dan menantu yang baik dan penurut.


Di dalam hati kecilnya Anum tersenyum, ia akan menemui Dimas lagi.


Dimas bisa memanjakannya dan mem**skan n*f** bi***i nya, Anum tersenyum- senyum sendiri membayangkan apa yang sudah dilakukannya dengan Dimas.


Dengan Raden Bondo, ia hanya diperlakukan seperti patung, suaminya itu tidak ada manis- manisnya.


Tidak ada tatapan penuh kasih sayang yang didapatkannya dari Raden Bondo.


Raden Bondo begitu kaku dan dingin, tidak pernah merayunya dengan kata- kata manis dan rayuan.


Berbeda sekali dengan Dimas...Dimas berusaha mengimbanginya dan menyenangkannya dengan senyuman dan tatapan penuh cinta.


"Mbakyu mikirin apa? kok senyum- senyum sendiri...bukannya tadi baru ngalamin hal yang menyeramkan?" tanya Ningrum yang langsung membuyarkan lamunan Anum tentang Dimas.


"Tidak ada apa- apa...hanya Mbakyu hari ini senang bisa keluar dari rumah untuk melihat- lihat," Anum berkelit...


" Lain kali Mbakyu masih mau keluar? tidak takut?" tanya Ningrum.


" Kenapa harus takut? kamu juga tidak takut lagi kan?" tanya Anum balik.


"Iya Mbakyu...nanti kita akan cari waktu lagi untuk keluar...aku juga kasihan lihat Mbakyu selalu terkurung di rumah sejak menikah," jawab Ningrum.


"Ningrum akan mencari alasan agar bunda mengizinkan kita keluar lagi...Mbakyu bisa bertemu dengan teman- teman mbakyu," janji Ningrum.


Anum bersorak dalam hatinya, ia bisa memanfaatkan Ningrum untuk bisa bertemu dengan Dimas lagi.


"Terima kasih Ningrum, kamu yang paling mengerti Mbakyu," kata Anum.


Mulai hari ini ia akan bersikap baik kepada Ningrum, ia bisa keluar dengan bantuan dari Ningrum.


" Sama- sama Mbakyu...Ningrum juga tau Mbakyu pasti bosan di rumah terus," jawab Ningrum tersenyum.

__ADS_1


Anum memeluk Ningrum.


" Kamu memang adik Mbakyu yang paling baik....," di belakang Ningrum, Anum tersenyum licik.


"Mbakyu juga baik kok," sahut Ningrum senang.


Ningrum yang polos tidak menyadari, ia hanya dimanfaatkan oleh Anum untuk memuluskan tujuannya.


Andai Ningrum tau, kakak iparnya itu sudah mengkhianati keluarga mereka...tentu Ningrum akan berpikir dua kali untuk membantu Anum agar bisa keluar dari rumah.


Ningrum tidak tau teman yang ditemui oleh kakak iparnya itu adalah laki- laki yang akan menghancurkan rumah tangga Anum dan Raden Bondo, abangnya.


Ningrum adalah gadis polos yang belum berpengalaman, ia tidak bakalan mengira kakak iparnya itu adalah orang yang tidak setia.


*********


Beberapa hari kemudian, Anum membujuk Ningrum untuk keluar jalan- jalan.


Anum meminta Ningrum untuk meminta izin pada mertuanya Raden Ayu Ditha.


Ningrum pun tidak keberatan, ia senang- senang saja diajak keluar.


Ningrum yang meminta izin pada Raden Ayu Ditha seakan- akan dirinyalah yang ingin keluar.


" Pergilah, ajak kakak iparmu untuk menemanimu," jawab Raden ayu Ditha.


"Baik Bunda...Ningrum akan mengajak Mbakyu untuk menemani Ningrum."


Mereka langsung mencari Ki Anjar...lalu mereka segera diantar dengan kereta kuda.


Anum minta diantar di belokan pasar, lalu ia turun di situ.


Ningrum ingin jalan- jalan ke pusat kota untuk melihat- lihat orang yang banyak berjualan di situ.


Ki Anjar lalu mengantar Ningrum ke pusat kota.


Sementara Anum langsung menuju rumah Dimas, sebelum mengetuk pintu ia melihat sekeliling.


"Sepi..." gumamnya.


Tok...tok...tok...


Anum menunggu sebentar, ketika orang yang dirindukannya membuka pintu.


"Anum...kamu sudah datang?" Dimas langsung menarik tangan Anum untuk masuk.


Dimas dengan terburu- buru lalu segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Anum tertawa melihat Dimas yang seakan tidak sabar.

__ADS_1


"Bapak dan mbok mu masih belum pulang mas Dimas?" tanya Anum karena melihat keadaan rumah yang sepi.


" Dapat kerjaan membuka ladang di kampung sebelah, kemarin cuma pulang ambil pakaian dan peralatan...lama lagi baru pulang," jawab Dimas yang langsung memeluk Anum.


"Sabar mas, belum juga aku duduk," tawa Anum.


Dimas langsung membungkam mulut Anum dengan c*u**n panasnya.


Dan Anum langsung menyambutnya dengan penuh semangat dan ia sangat berg****h.


Mereka saling membalas....tidak peduli dengan pakaian mereka yang mulai kusut dan berantakan.


Dimas membopong tubuh Anum menuju kamar tidurnya yang ada di bagian belakang rumah.


Mereka sudah seperti kecanduan, sekali melakukan mereka seperti ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi.


Suara rin***an Anum terdengar bersamaan dengan deru na*as yang tidak beraturan dari Dimas.


Dosa memang bisa menjadi candu untuk terus dilakukan.


Mereka berdua semakin dalam jatuh ke dalam kubangan yang berlumur dosa...yang tidak boleh dilakukan oleh yang bukan pasangan suami isteri.


Ditambah karena terbuka peluang dan kesempatan, dengan mudah mereka mengulangi perbuatan dosa tersebut.


Iblis terus tertawa, sementara malaikat sudah mencatat sudah berapa kali mereka melakukannya.


Kedua anak manusia berlainan jenis itu tanpa sadar sudah mengulangi perbuatan dosa demi mereguk sebuah kenikmatan duniawi.


Anum merasa sangat puas, Dimas bisa membahagiakannya.


Ia sudah tidak peduli dengan statusnya sebagai isteri dan menantu dari keluarga bangsawan terhormat.


Ia telah menukar harga dirinya dengan kenikmatan duniawi yang tidak terpuaskan oleh Raden Bondo, suaminya.


Anum tidak berpikir, ke depannya ia akan menghancurkan kehidupan rumah tangganya dengan Raden Bondo dan akan mencoreng nama baik keluarganya dengan perbuatannya itu.


Anum dan Dimas keluar dari kamar dengan rambut yang acak- acakan.


Anum tidak henti- hentinya memberi senyum sumringah kepada Dimas.


Anum merapikan sanggul rambutnya, sementara Dimas terus membelai pipinya.


" Kamu cantik sekali Anum...aku semakin tergila- gila padamu," rayu Dimas.


Tadinya Dimas adalah pemuda yang sopan, dulu tidak pernah sedikitpun ia berani merusak Anum barang selembar rambutpun.


Waktu berpacaran dengan Anum, ia selalu menjaga kehormatan orang yang dicintainya itu.


Sekarang setelah Anum menjadi isteri orang, malah Dimas berani berbuat yang terlalu jauh dengan Anum.

__ADS_1


Mungkin karena Anum bukan miliknya lagi, godaan untuk memiliki Anum lebih besar.


Anum tersenyum, ia merasa tersanjung dengan sikap Dimas yang selalu terasa manis di mata Anum.


__ADS_2