Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Menakutkan


__ADS_3

Dino meringkuk dengan wajah pucat...tubuhnya menggigil menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.


" Mira...," Dino menangis.


Siksaan dari hukuman baru saja ia terima dari perempuan siluman berhati iblis itu.


Rasa perih Dino rasakan di bekas gigitan makhluk jadi- jadian itu. Entah makhluk apa itu Dino tidak tau.


Ternyata perempuan itu makhluk penghisap darah. Siluman rusa penghisap darah.


Karena rasa dendam dengan kematian suaminya, perempuan berhati iblis itu menyiksa Dino tanpa rasa belas kasihan.


Ia menghisap darah Dino sampai puas, dan ia baru berhenti setelah Dino hampir pingsan menahan rasa pusing yang menderanya karena darahnya yang tersedot banyak.


Tetapi perempuan itu tidak membiarkan Dino mati, ia memberikan Dino selembar daun yang menyerupai daun sirih, cuma bedanya daun itu berwarna keemasan.


" Kau tidak akan kehabisan darah dengan menelan daun ini," kata perempuan siluman itu pada Dino.


Dino mengunyah dan menelan daun itu, terasa menyegarkan. Rasa pusingnya hilang. Hanya rasa sakit di pergelangan yang masih ia rasakan.


Perempuan itu menunjuk sebuah pondok kecil, yang entah dari mana asalnya sudah berdiri di sana.


" Kau boleh tidur di situ selama kau menjalankan hukuman. Aku akan menemuimu setiap tiga hari sekali untuk menghisap darahmu. hi....hi...," tawa menyeramkan dari perempuan itu selalu membuat Dino bergidik.


Lalu perempuan itu, bersama para perempuan yang menjadi pengikutnya itu pergi meninggalkan Dino.


Wus... mereka menghilang bersama datangnya kabut tebal, suara gamelan terdengar mengalun, seiring kepergian makhluk itu.


Tinggallah Dino yang kemudian membaringkan tubuhnya ke dalam pondok yang diberikan untuknya.


Ia merutuki nasib malangnya, demi Mira ia harus tetap hidup dan bertahan, dengan rasa sakit di pergelangan tangannya yang akan ia terima setiap tiga hari sekali sampai seratus delapan puluh hari.


Bayangkan betapa tersiksanya ia harus menunggu selama seratus delapan puluh hari, yang dihitung dalam hitungan bulan sama dengan 6 bulan.


Dino menangis dalam diam, air matanya mengalir membasahi pipinya yang pucat.


Ia merindukan Mira, sangat merindukan isterinya itu.


Dalam hatinya ia berjanji, akan ia tinggalkan pekerjaannya berburu di hutan.


Dino akan mencari pekerjaan lain yang lebih tidak berbahaya.


Ia menyesal....


Dalam kesunyian malam, Dino hanya bisa memejamkan matanya.


Ia berusaha untuk tidur, tapi air matanya tidak mau berhenti mengalir.


Ia terpuruk, tidak berdaya seperti seorang pesakitan yang hanya bisa menunggu hukuman.


Ia tidak bisa lari, mau tidak mau ia harus menerima hukumannya.


***********


Mira terbangun dari tidurnya, beberapa malam ini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak...


Mira selalu bermimpi buruk, bermimpi yang sama... mimpi tentang mas Dino nya, mimpi mas Dino nya yang digandeng oleh seorang perempuan cantik tapi berwajah seram.

__ADS_1


Mas Dinonya diam dengan pandangan kosong, seperti orang yang dihipnotis.


Perempuan itu bermata dingin dengan pandangan tajam menusuk.


Setiap Mira meminta mas Dinonya dikembalikan, perempuan itu selalu menjawab tunggu sampai seratus delapan puluh hari.


Perempuan itu berbicara dengan suara serak, penuh dendam dan amarah.


Mira selalu ketakutan dalam mimpinya.


Kedatangan dan kepergian perempuan itu dan mas Dinonya selalu diikuti kabut tebal dan diiringan suara gamelan.


Menyeramkan...Mira bergidik...


Tiba- tiba Mira terperanjat, gorden kamar tidurnya seperti bergoyang, seperti tertiup angin kencang.


Mira menyalakan lampu kamarnya untuk memastikan ia tidak salah lihat, dan memang benar gordennya bergoyang.


Mira memberanikan diri mendekati jendela kamar tidurnya. Ia menyibak kain gordennya. Jendela kamarnya terbuka....


Dalam hatinya Mira merasa heran, tadi ia sudah menutup jendela kamar dan menguncinya.


Mengapa jendela kamarnya malah terbuka...


"Atau tadi aku lupa menguncinya? karena angin kencang jendelanya terbuka sendiri?" ucap Mira dalam hati.


Mira membesarkan hatinya, ia buru- buru menutup jendela kamarnya dan segera menguncinya.


Sekelebat bayangan hitam tertangkap pandangan mata Mira, ia ketakutan dan segera menutup gordennya.


Mira segera naik di atas tempat tidurnya, ia duduk meringkuk memeluk kedua lututnya.


Tiba- tiba Mira terperanjat...


Tok....tok....tok....


Suara ketukan seseorang di jendela kamar tidurnya


Mira gemetar...


"Tuhan lindungi aku....," Mira terus merapalkan doa dari mulutnya.


Tok....tok.....tok...


Suara ketukan terdengar lagi...


Mira menelan salivanya, matanya membelalak, doa- doa terus ia panjatkan.


Tok.....tok....tok....tok....tok....


Semakin kencang suara ketukan di luar jendela kamarnya.


" Pergi.....jangan ganggu aku....," akhirnya Mira berteriak dengan suara menahan takut.


"Pergi....ini bukan tempat kalian...aku mohon pergilah....."


Suara ketukan itu lalu berhenti. Mira menenangkan detak jantungnya.

__ADS_1


Ia masih belum berani bergerak dari tempatnya. Masih duduk meringkuk memeluk lututnya.


Mata Mira tidak berhenti mengawasi ke arah jendela kamarnya.


Tiba- tiba lampu di dalam kamar Mira berkedap- kedip.


Mira panik, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia secepat kilat mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor kontak mbak Susi.


Mira menunggu Mbak Susi mengangkat panggilan teleponnya.


" Halo Mir, ada apa? suara mbak Susi dengan suara serak, suara khas baru bangun tidur.


"Halo mbak Susi, tolong Mira mbak....Mira takut...," jawab Mira sambil menangis.


Ia benar- benar ketakutan....


Lampu di kamarnya masih berkedap-kedip.


Mira melihat sesosok bayangan, seperti bayangan seorang perempuan berambut panjang berdiri di samping jendela kamarnya.


" Mira kamu kenapa, bentar mbak segera ke rumahmu... kamu tunggu bentar ya ..." suara mbak Susi di seberang.


" Mir.... Mira...kenapa kamu diam aja. Ada apa Mir...."


Mira matanya membelalak, lidahnya kelu....ia melihat bayangan perempuan itu berjalan perlahan mendekatinya.


Mira ketakutan......jantungnya berdetak tidak karuan...ponselnya terlepas dari pegangannya.


Tubuhnya gemetar ....ia hanya bisa diam mematung dalam takutnya.


Perempuan itu semakin mendekat....sementara lampu di kamar Mira tidak berhenti berkedap- kedip.


Mira bisa melihat wajah perempuan itu. Wajah yang mengisi mimpi buruknya beberapa malam ini.


Wajah perempuan dengan seringai menyeramkan.


Perempuan itu tersenyum lebar....memperlihatkan gigi taringnya yang tajam.


Mira tidak bisa berteriak, kerongkongannya tercekat hanya bisa duduk dengan tubuh gemetar.


Mira membelalakkan matanya, air matanya keluar tanpa ia sadari.


Sementara perempuan berwajah pucat itu terus mendekat. Ia seperti sengaja mempermainkan nyali Mira, seperti ingin membuat Mira ketakutan.


Perempuan itu maju selangkah demi selangkah. Seringai lebar yang memperlihatkan gigi taring di mulutnya.


Mira berusaha mempertahankan kesadarannya. Doa- doa tidak berhenti ia panjatkan dalam hatinya.


Detak jantungnya berdenyut dengan kencang, tangannya meremas sprei yang melapisi kasurnya.


Perempuan bermuka pucat itu telah berdiri tepat di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya menyentuh Mira.


Tangan perempuan itu terasa sangat dingin seperti es. Mira menggigil. Ia sudah tidak bisa menahan ketakutannya. Lalu ia terkulai.....


" Mira.....Mira....." terdengar suara mbak Susi berteriak sambil mengetuk pintu dengan panik.

__ADS_1


__ADS_2