Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Ada Yang Aneh


__ADS_3

" Nak, kamu kenapa? di mana sopan santunmu?" Gusti Brijaya menegur anaknya dengan suara agak keras.


Gusti Brijaya malu...


"Saya...."


Raden Ayu Kiswani mengerutkan dahinya, ada apa dengan puteranya.


Biasanya kalau ada tamu yang lebih tua, Raden Dito langsung sungkem dan menyapa.


"Nak...," panggil Raden Ayu Kiswani.


Raden Dito kelihatan canggung.


Gusti Arya dan isterinya saling memandang, Raden Dito bersikap tidak biasanya pada mereka, bahkan menyapa pun tidak.


Gusti Arya kelihatan geram, ia ingin bangun dari duduknya namun tangannya ditarik dan ditahan oleh Raden Ayu Ditha untuk kembali duduk.


"Raden Dito....apa begini ayahanda dan Bundamu mengajarimu," bentak Gusti Brijaya pada puteranya.


" Nak ,kemarilah...," Raden Ayu Kiswani yang lebih sabar menarik tangan puteranya.


" Sungkem pada calon mertuamu," bisik Raden Ayu Kiswani dengan lembut.


Raden Dito menggeleng, ia berubah seperti seorang anak kecil yang masih perlu diajari tentang sopan santun.


" Biarkan saja Diajeng, kami tidak tau punya kesalahan apa pada putera kalian," kata Raden Ayu Ditha.


"Kami tidak tau mengapa putera kalian bisa berubah sikapnya dalam sekejap," Gusti Arya berkata dengan ketus.


Gusti Brijaya tentu saja merasa tidak enak pada calon besan mereka.


Raden Dito berhasil mencoreng muka kedua orang tuanya di depan kedua tamu mereka.


"Ayahanda mau tanya sama kamu, apa benar kamu sudah mengkhianati Arum?" Raden Brijaya membentak puteranya.


" Kalau iya kenapa Ayahanda? Raden Dito membenci Ningrum sekarang," jawab Raden Dito dengan suara lantang.


" Apa karena ada perempuan lain? dan apa benar kamu sudah menampar Ningrum Nak?" Raden Ayu Kiswani yang bertanya.


" Iya...," jawab Raden Dito.


Gusti Brijaya berang, ia bangun dari duduknya lalu ia menampar pipi kedua puteranya.


Plak...plak..


Raden Dito diam dan hanya memegangi kedua pipinya yang terasa perih.


Raden Ayu Kiswani terbelalak, ia tidak bisa berbuat apa- apa untuk membela puteranya.


Puteranya memang bersalah, Raden Dito sudah mengakui perbuatannya pada Ningrum.


Raden Ayu Kiswani juga terkejut dan malu melihat putera mereka bersikap seperti tidak punya sopan santun.


"Maaf kan kelakuan putera kami Kangmas...Nimas...kami kurang mengajarinya sehingga tingkah lakunya membuat kami malu," Gusti Brijaya menangkupkan kedua tangannya.


" Kami rasa kita terpaksa harus membatalkan hubungan perjodohan kedua anak kita Dimas...," Gusti Arya berkata tegas.


" Tolong maafkan Raden Dito Kangmas, tolong jangan dibatalkan. Saya berjanji akan mendidik putera kami," Raden Brijaya memohon.

__ADS_1


" Tidak mau ayahanda, saya tidak mencintai Ningrum lagi," Raden Dito menjawab Gusti Brijaya.


"Kamu...," Gusti Brijaya sudah bersiap mengangkat tangannya.


"Cukup Dimas, tidak perlu memaksanya. Itu sudah kemauan Raden Dito sendiri," ujar Gusti Arya.


"Tapi Kangmas, hubungan keluarga kita sudah begitu dekat selama ini...haruskah terputus begitu saja?" Gusti Brijaya mencoba membujuk Gusti Arya.


"Raden Dito sendiri yang menyebabkan hubungan kita terputus Dimas."


"Raden Dito, untuk terakhir kalinya ayahanda bertanya apakah kamu tidak mau Ningrum menjadi kekasihmu lagi?" dengan setengah berteriak Raden Brijaya bertanya pada puteranya itu.


"Betul ayahanda..." jawab Raden Dito.


"Ayahanda mau tanya, siapa perempuan yang sudah membuat kamu berubah seperti ini?"


Raden Dito menggeleng, ia sendiri tidak tau nama perempuan yang membuatnya membenci Ningrum.


"Katakan siapa dia Nak?" Raden Ayu Kiswani yang bertanya.


" Saya tidak tau Bunda siapa dia, tapi saya mencintainya Bunda."


" Apa kamu sudah gila? kamu tidak tau siapa perempuan itu tapi mengaku mencintainya. Benar- benar edan,"


kata Gusti Brijaya kesal.


"Di mana perempuan itu tinggal?" Raden Brijaya bertanya lagi.


" Saya tidak tau Ayahanda," jawab Raden Dito.


" Kamu memutuskan Ningrum demi seorang perempuan yang tempat tinggalnya kamu tidak tau di mana, bahkan namanya pun kamu tidak tau? kamu benar- benar sudah edan," ujar Gusti Brijaya marah.


"Sudahlah Dimas, kami tidak ingin mengganggu lagi. Sebaiknya kami segera pulang..." Gusti Arya bangun dari duduknya.


Raden Ayu Ditha mengganggukkan kepalanya.


" Kami pamit Dimas...Diajeng."


" Sungguh kami minta maaf Nimas," Raden Ayu Kiswani memeluk Raden Ayu Ditha.


Air mata Raden Ayu Kiswani menetes, ia menyesali tidak bisa menjadi ibu mertua Ningrum yang sudah dianggapnya sebagai puterinya sendiri.


Hatinya sungguh merasa kecewa dan menyayangkan sikap puteranya yang membuat hubungan mereka harus putus.


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha berjalan keluar lalu menuju kereta kuda mereka.


" Kita pulang Ki...," ajak Gusti Arya pada Ki Anjar.


Ki Anjar menjalankan kereta kudanya setelah Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha naik dan duduk ke atas kereta.


Gusti Arya sangat kecewa melihat sikap Raden Dito yang seratus delapan puluh derajat sudah berubah.


Biasanya Raden Dito sangat menghormati mereka seperti ia memperlakukan kedua orang tua nya.


Melewati jalan yang kiri kanannya banyak semak belukar, tiba- tiba kuda yang menarik kereta mereka meringkik dengan kencang.


Gusti Arya dan Raden Ayu Ditha sampai terperanjat.


Ki Anjar sibuk mengendalikan kudanya yang tampak panik.

__ADS_1


Tampak seorang nenek tua yang entah dari mana datangnya berdiri di tengah jalan menghalangi jalan mereka.


Nenek itu memakai baju berwarna putih, gombrong sambil membawa tongkat kayu.


"Permisi Nek..." teriak Ki Anjar.


Kuda mereka tampak maju mundur seperti kelihatan sedang panik.


Ki Anjar menenangkan kudanya dengan menarik kekangnya erat- erat.


" Permisi Nek...kami mau lewat," Ki Anjar berteriak lebih kencang.


" Mungkin nenek itu pendengarannya kurang...," pikir Ki Anjar.


Setelah menunggu agak lama, tetapi nenek itu masih belum beranjak.


Gusti Arya turun dari kereta kuda dan menghampiri nenek yang menghalangi jalan mereka.


"Permisi Nek, kami mau lewat...atau nenek butuh bantuan? nenek mau kemana?" tanya Gusti Arya.


Nenek itu menatap Gusti Arya, ia masih diam saja.


" Nenek mau kemana? mau kami antar?" Gusti Arya bertanya lagi dengan mengencangkan suaranya.


Nenek itu menunjuk dengan tongkatnya.


" Keluarga kalian akan sial....," kata Nenek itu.


" Apa maksud Nenek saya tidak mengerti," ujar Gusti Arya.


" Menantu perempuanmu ...usir dia...dia pembawa sial...," Sambung nenek itu lagi.


"Apa yang Nenek katakan? saya tidak mengerti."


"Kejadian demi kejadian buruk akan menimpa anggota keluarga yang lainnya...lihat saja."


" Nenek siapa? mengapa saya harus percaya ucapan Nenek?" jawab Gusti Arya.


" Kamu tidak percaya? hi...hi...lihat saja dari pertama menantu perempuan kalian masuk musibah terus terjadi," tunjuknya pada muka Gusti Arya.


" Mungkin Nenek ini tidak waras," gumam Gusti Arya dalam hati.


" Kamu bilang saya tidak waras? hi.. hi..."


"Bagaimana nenek ini bisa membaca isi hatiku?" Gusti Arya bergumam lagi.


" Tentu saja aku bisa membaca pikiranmu, aku seorang peramal," ucap nenek itu.


Gusti Arya tercengang, Nenek itu lagi- lagi tau apa yang diucapkannya dalam hati.


"Lihat saja sehabis malam purnama, kau akan percaya pada ucapanku," sambung nenek itu lagi.


Raden Ayu Ditha yang menyimak pembicaraan antara suaminya dan nenek yang tidak dikenal itu dari atas kereta, lututnya menjadi gemetar.


Ia berharap ucapan Nenek itu hanya bualan belaka untuk menakut- nakuti mereka.


"Apa Nenek itu gila?" ucapnya dalam hati.


" Aku tidak gila...," teriaknya sambil jarinya menunjuk pada Raden Ayu Ditha.

__ADS_1


Raden Ayu Ditha terhenyak, bagaimana mungkin Nenek itu tau apa yang diucapkannya di dalam hati.


Ia merinding...


__ADS_2