
Raden Prana ingin segera menikahi Arum.
" Arum maukah kamu menikah denganku?" tanya Raden Prana pada suatu hari.
"Kangmas, aku punya satu syarat tapi Kangmas tidak boleh bertanya kenapa dan untuk apa...berjanjilah Kangmas tidak boleh menanyakan apapun alasannya," jawab Arum menatap lurus mata Raden Prana.
" Baiklah, katakan apa syaratnya Arum?"
"Kalau nanti kita sudah menikah, izinkan aku untuk pergi pada saat malam bulan purnama," ucap Anum pelan, ia tidak ingin nanti setelah menikah Raden Prana bertanya- tanya.
Raden Prana mengerutkan dahinya, ia heran untuk apa Arum pergi setiap saat malam bulan purnama.
Tapi Raden Prana tidak ingin banyak bertanya karena Arum mengajukan syarat itu.
"Baiklah Arum, aku setuju," janjinya.
"Kalau begitu, aku bersedia untuk menjadi isterimu Kangmas asal di kemudian hari Kangmas tidak akan menyesal telah menikahimu," tambah Arum.
Raden Prana yang sudah tergila- gila dan jatuh cinta pada Arum tidak menyelidiki dulu siapa orang yang akan dinikahinya itu.
Cinta sudah membutakan matanya, dengan syarat yang diajukan Arum, Raden Prana seharusnya curiga dan menyelidiki apa yang dilakukan Arum setiap malam bulan Purnama.
Tapi Raden Prana tidak berpikir sampai sejauh itu, yang ada di dalam pikirannya adalah secepatnya segera menikahi Arum.
Pernikahan Raden Prana dan Arum hanya diselenggarakan dengan sederhana, ini adalah permintaan Arum...ia tidak ingin sampai keluarganya mencium keberadaannya.
Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh keluarga dekat Raden Prana, dan itu pun tidak semuanya mereka undang.
"Yang penting resmi," ujar Arum.
Arum terlihat cantik dengan kebaya dan riasan di wajah dan rambutnya, Raden Prana sampai terpana melihatnya.
Raden Prana dan Arum terlihat bahagia di hari penting mereka berdua itu.
Raden Prana sudah memboyong Arum di rumah utama peninggalan orang tua Raden Prana.
Setelah tamu- tamu pulang, Arum dan Raden Prana berada di kamar pengantin mereka setelah mereka membersihkan tubuh mereka.
Arum menundukkan kepalanya, ia terlihat malu- malu.
Raden Prana memegang dagu Arum, ia menatap lama perempuan yang sekarang sudah menjadi isterinya itu.
Wajah Arum merona, jantungnya berdetak kencang. Ia sudah siap untuk memberikan segalanya pada laki- laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Raden Prana mendekatkan wajahnya, napas lembut Raden Prana menyapu hangat wajah Arum.
Arum gugup, Raden Prana tersenyum dan membelai pipinya dengan lembut.
Raden Prana Melu**t bibir Arum dengan lembut, g****h mudanya ia lampiaskan malam itu.
Arum menyambut segala perlakuan Raden Prana dengan ikhlas dan ia pasrahkan semuanya pada Raden Prana, menyambutnya dengan kehangatan yang sama.
__ADS_1
Arum telah menyerahkan kesuciannya pada Raden Prana.
Segala dendam dalam hatinya sementara sudah tertutup dengan kebahagiaannya.
Dalam hatinya, ada rasa sesal mengapa ia sudah melakukan perjanjian dengan nenek Kanji.
Seandainya saja dulu ia bisa meredam segala dendam kesumatnya, saat ini Arum pasti sudah hidup tenang dengan Raden Prana.
Sementara penjanjian tetap perjanjian, Arum harus tetap memenuhi janjinya itu.
Kalau tidak, maka segala akibatnya harus Arum tanggung.
Arum menatap wajah tampan suaminya yang sudah tertidur pulas setelah adegan panas mereka, Arum kembali merona mengingat kejadian barusan.
Arum merasa diperlakukan dengan hangat, cinta dari Raden Prana bisa menghapus rasa duka yang selama ini terpendam dalam hatinya.
"Kangmas maafkan aku, jika aku tidaklah sebaik yang kamu kira," ucap Arum membelai rambut suaminya dengan rasa sesal di hatinya.
Raden Prana menggeliat, ia menarik tubuh Arum dalam pelukannya.
*********
Raden Bondo pulang dengan kecewa, setelah dari rumah mertuanya...ia tidak mendapati Anum berada di sana.
Raden Bondo tidak memberitahu Gusti Romo atau Gusti Lingga dengan kepergian Anum dari rumah.
Tadinya Raden Bondo ingin menjemput Anum di rumah mertuanya, ia mengira Anum berada di sana.
"Raden Bondo? kamu datang sendiri? kenapa Anum tidak diajak kemari?" ayah mertuanya langsung bertanya, dan itu cukup memberitahu Raden Bondo bahwa Anum tidak datang ke sana.
Mau tidak mau Raden Bondo terpaksa menyimpan rahasia bahwa Anum pergi dari rumah.
"Iya Romo," jawabnya singkat.
"Romo udah rindu pada Anum, bagaimana kabar Anum Nak apakah ia sehat- sehat saja?" tanya Gusti Romo.
"Ia sehat- sehat saja Romo, saya cuma ingin datang menengok Romo sebentar," jawab Raden Bondo.
Tak lama kemudian, Raden Bondo pamit pulang.
"Sampaikan salam Romo buat Anum," ujar Gusti Lingga.
"Baik Romo, akan saya sampaikan," jawab Raden Bondo.
Di perjalanan pulang, Raden Bondo berpikir keras.
" Anum kamu sebenarnya pergi ke mana?" Raden Bondo bertanya dalam hatinya.
"Apa yang sebenarnya Anum inginkan? seharusnya Anum tidak boleh melarikan diri seperti ini," gumamnya pelan.
Raden Bondo teringat lagi kata- kata Arum.
__ADS_1
" Kamu dan Anum tidak akan pernah bahagia."
Raden Bondo menelan salivanya, dengan pernikahannya dengan Anum memang tidak ada sedikitpun kebahagiaan.
Berbagai kejadian yang tidak mengenakkan terus berdatangan.
"Aku harus menerima akibat dari semua perbuatanku pada Arum, aku sudah melukai hatinya," Raden Bondo bicara dalam hatinya.
"Di mana aku harus mencari Anum?" Raden Bondo kebingungan sendiri.
"Bunda pasti marah kalau tau Anum tidak ada di rumah Romonya," gumamnya lagi.
"Aku harus menanyakan lagi pada Ki Anjar....tidak pantas seorang isteri pergi tanpa izin dari suaminya sendiri."
"Andai saja dulu Arum yang kunikahi, semua ini pasti tidak perlu ku alami," sesal Raden Bondo.
"Seharusnya aku memperjuangkan Arum....dengan menikahi Anum bukan kemakmuran yang kudapatkan tapi malah masalah," Raden Bondo semakin kesal.
"Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya tidak bisa diulang kembali," ucapnya sendu.
"Arum....aku merindukanmu," desahnya.
Raden Bondo merasa sesak di dadanya, ia menyesali semuanya.
Cintanya pada Arum tidak bisa digantikan oleh Anum.
"Beribu sesal pun yang ia ucapkan, ia tidak bisa mengembalikan lagi Arum yang sudah ia campakkan....entah di mana juga Arum kini berada."
Raden Bondo menjalankan kereta kudanya dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Sementara Anum sedang bersenang- senang mereguk manisnya surga duniawi bersama dengan Dimas.
"Mas Dimas....aku semakin tergila- gila padamu," desah Anum.
Dimas terus menikmati kebersamaannya bersama Anum yang bukan haknya.
Mereka terus melakukan dosa memabukkan yang sudah untuk ke sekian kalinya.
"Mas Dimas...bagaimana kalau kedua orang tuamu sudah kembali?"
"Kita akan menghadapinya berdua Anum, aku akan memikirkan caranya agar kita bisa terus bersama."
"Aku tidak bisa meminta cerai pada Raden Bondo, hanya menunggu untuk diceraikan," tambah Anum.
"Besok aku akan menemui suamimu, aku akan memintanya untuk segera menceraikanmu."
"Jangan mas Dimas....ia akan membunuhmu...nanti saja aku belum siap," jawab Anum cemas.
" Terserah kamu saja Anum, aku akan mengikuti kemauanmu," Dimas memeluk tubuh Anum.
Anum tertidur pulas dalam pelukan kekasih gelapnya, mereka sudah tidak mempedulikan adat di dalam masyarakat yang sudah mereka langgar.
__ADS_1