
Malam bulan purnama....
Arum harus menyelesaikan perjanjiannya dengan nenek Kanji...
"Tinggal dua tumbal lagi Arum...," hatinya memberi semangat.
"Anum...kamu yang membuatku mempercepat kematianmu," ada sedikit sesal dalam hati Arum, kalau boleh berhenti, Arum lebih memilih untuk berhenti.
"Lakukan Arum, ini demi keluargamu...cepat atau lambat kamu tetap harus melakukannya," hibur hatinya yang lain.
"Ingat keselamatanmu dan calon bayimu..., nenek Kanji sangat bernafsu pada janinmu...," kata suara hati Arum.
Arum memandang Raden Prana yang sudah terlelap.
Dengan perlahan Arum turun dari tempat tidurnya, ia tidak ingin sampai Raden Prana terbangun.
Arum keluar dari rumah menuju rumah Anum.
"Anum keluarlah....," bisiknya di depan pintu depan rumah Anum.
Tak lama kemudian Anum membuka pintu dan keluar.
"Ikuti aku," perintah Arum.
Anum seperti terhipnotis, ia berjalan mengikuti Arum tanpa bisa memprotes.
Dimas terbangun begitu mendengar suara pintu yang membuka dan menutup.
Ia melihat Anum tidak berada di sisinya, Dimas bergegas bangun dari tempat tidurnya.
Dimas melihat pintu depan rumah yang terbuka lebar.
"Kemana Anum pergi?" Dimas bertanya- tanya dalam hatinya.
Dimas bergegas keluar rumah, dari kejauhan Dimas melihat sekilas bayangan Anum yang melangkah bersama seorang perempuan.
"Tunggu dulu, bukankah itu Arum isterinya Raden Prana?" Dimas bertanya dalam hatinya.
"Mau kemana mereka malam- malam begini?" Dimas merasa heran.
Dimas mengikuti dan berusaha menyusul keduanya, namun anehnya Anum dan Arum berjalan sangat cepat.
Dimas mengejar dengan setengah berlari, namun entah mengapa ia belum juga berhasil mengejar mereka.
Dimas mencubit lengannya, ia ragu apakah ini nyata atau ia yang sedang bermimpi.
"Sakit..." Dimas berucap sendiri.
Berarti ini bukanlah di dalam mimpi, tapi kalau nyata lalu mengapa ia tidak bisa mengejar Anum dan Arum? padahal mereka hanya berjalan, hanya melangkah dengan cepat.
Dimas akhirnya berlari...namun tetap saja ia tidak berhasil menyusul keduanya.
"Anum....," akhirnya Dimas berteriak.
Arum mengengok ke belakang, namun ia seperti tidak mempedulikan Dimas, sementara Anum tidak menoleh sama sekali.
__ADS_1
Anum dan Arum tetap tidak berhenti, malah semakin mempercepat langkahnya.
Dimas semakin jauh tertinggal, namun masih bisa melihat keberadaan Anum dan Arum.
Dimas mengerenyitkan keningnya ketika Anum dan Arum masuk ke dalam hutan larangan.
"Untuk apa mereka ke sana, jangan- jangan untuk melihat jenazah Raden Bondo," Dimas menebak- nebak.
"Tapi untuk apa? bukankah Anum ingin merahasiakan bahwa Raden Bondo meninggal karena bertengkar dengannya?" Dimas menjadi sangat heran.
Dimas berlari dengan napas terengah, ia tidak ingin sampai kehilangan jejak Anum dan Arum.
Dimas lalu ikut masuk ke dalam hutan, ia masih bisa melihat punggung Anum dan Arum.
Anum dan Arum tidak menuju ke arah tempat Raden Bondo terjatuh tapi ke arah lain.
Ini mematahkan dugaan Dimas pada Anum, lalu apa yang ingin mereka lakukan ke dalam hutan malam- malam begini.
Hutan nampak gelap, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar- samar cahayanya masih bisa menembus ke dalam hutan larangan.
Anum dan Arum lalu berhenti di sebuah pohon besar.
Arum berteriak lantang.
"Nenek Kanji...keluarlah...
aku membawa persembahan untukmu...dan sepertinya hari ini kamu mendapat tambahan..."
"Apa maksudnya?" Dimas merasa heran.
Akhirnya Dimas bisa mendekati Anum dan Arum.
Dimas menganga ketika melihat sesosok nenek tua keluar dari sana entah dari mana datangnya.
Nenek tua itu tertawa dengan kikikan yang menyeramkan.
"Hi....hi....hi....kau datang lebih cepat cah ayu....hi...hi...," tawa Nenek itu bergema di dalam hutan.
Nenek tua itu melihat ke arah Dimas.
"Kemarilah..." perintah nenek itu pada Dimas.
Pikiran Dimas masih sadar, namun entah mengapa kakinya melangkah sendiri mendekati nenek tua menyeramkan itu.
"Ini bonus besar.....hi....hi....aku suka...," nenek tua itu tertawa dan memperlihatkan gigi taringnya yang lancip.
Dimas juga bisa melihat ke arah kuku nenek tua itu yang terlihat sangat panjang dan berujung lancip.
"Dedemit atau setan penunggu hutan ini kah?" Dimas berucap dalam hati.
Tubuhnya sudah basah oleh keringat dingin....bulu kuduknya meremang...
Dimas melihat Anum yang nampak diam saja.
"Yang mana yang harus ku cicipi dulu? keduanya masih muda hi....hi...." tanya nenek Kanji pada Arum.
__ADS_1
"Terserah mana yang nenek suka," jawab Arum.
"Kakakmu saja yang pertama....," Nenek Kanji mendekati Anum, ia memegang leher Anum.
Lalu...
"Clap....." Nenek Kanji menghisap darah dari leher jenjang Anum.
"A....a....aaaaa..."
Hanya teriakan panjang dari Anum yang merasa kesakitan yang terdengar.
Dimas memandang semuanya dengan tubuh gemetar, air matanya mengalir begitu melihat isterinya yang meregang nyawa di depannya tanpa bisa ia menolongnya.
Tubuh Anum perlahan mulai kering dan mengeriput lalu hilang menjadi asap hitam.
Nenek Kanji menjilati bibirnya.
"Manis...."
"Sekarang giliranmu untuk menemani isterimu," Nenek Kanji mendekati Dimas yang sangat ketakutan.
Dimas pasrah, ia memejamkan matanya saat nenek Kanji mengusap lehernya dan mulai menghisap darahnya.
"A....a...aaaaaa...," terdengar lengkingan kesakitan dari mulut Dimas sampai tubuhnya kering dan mengeriput lalu berubah menjadi kepulan asap hitam.
"Kalian berdua sudah menjadi penunggu hutan ini....hi....hi....," Nenek Kanji tertawa dan mengecap- ngecap mulutnya.
"Terima kasih cah ayu.....kamu membuatku senang hari ini....hi....hi....," tawa Nenek Kanji.
"Tinggal satu tumbal lagi....jangan lupa cah ayu....setelah sebulan kamu melahirkan kamu harus memberikan tumbal terakhir untukku....setelah itu perjanjian kita kuanggap lunas."
"Jangan sampai kamu lewatkan....karena ingat hukuman yang akan kamu terima jika kamu sampai lupa," ancam Nenek Kanji.
Arum bergidik, Nenek Kanji terlihat sangat menakutkan.
"Baik Nenek Kanji...saya pergi dulu," Arum bergegas pamit meninggalkan tempat itu.
Nenek Kanji bisa melihat ketakutan Arum, ia tertawa mengikik.
"Hi.....hi....hi....," suara tawa Nenek Kanji memenuhi hutan larangan yang membuat suasana menjadi sangat menyeramkan.
Arum bergegas pergi dengan menahan napasnya, ia ingin segera sampai di rumahnya.
Setelah sampai, Arum perlahan masuk ke dalam rumahnya lalu masuk ke kamar dengan perlahan.
Arum tersenyum lega, Raden Prana masih tertidur dengan nyenyak.
Arum lalu membaringkan tubuhnya di samping Raden Prana.
"Tinggal satu lagi....dan setelah itu aku bisa hidup tenang dengan Raden Prana dan anak kami," gumam Arum tersenyum.
Besok mungkin Raden Prana akan menganggap Dimas dan juga Anum telah pergi dari rumah sewaan milik Raden Prana tanpa pamit pada mereka.
Entah apa yang akan dipikirkan Raden Prana dengan menghilangnya Dimas dan Anum secara mendadak.
__ADS_1
Arum memejamkan mata, ia berusaha untuk segera tidur.
"Biarkan besok menjadi urusan besok," gumamnya dalam hati.