Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Permintaan Arum


__ADS_3

Malam bulan Purnama...


Arum berjalan mencari seseorang yang sedang berjalan sendirian.


Seorang gadis keturunan Belanda berjalan menembus kegelapan.


Ia bernyanyi- nyanyi melepaskan segala kegalauan hatinya.


Arum menyapa gadis itu.


"Halo siapa namamu?" tanya Arum.


"Halo, aku Bellinda...sepertinya aku mengenalmu kamu adiknya Anum kan?" Bellinda bertanya balik.


"Betul...kamu masih mengenalku?"


"Tentu saja...tapi aku sudah lama tidak berkumpul bersama Anum, sejak ia menikah ia tidak pernah keluar...," tukas Bellinda.


"Kamu mau kemana?" tanya Bellinda.


Arum menyentuh pundak Bellinda, spontan Bellinda langsung bungkam...matanya langsung berubah menjadi tatapan kosong.


"Maaf Bellinda...aku ingin mempersingkat waktu...ikutlah denganku," perintah Arum.


Bellinda berjalan mengikuti Arum...berjalan lurus seperti layaknya seorang yang sedang dihipnotis.


Arum tidak ingin menyia- nyiakan waktu, ia sedang hamil dan ingin buru- buru pulang.


Arum juga ingin memohon kepada nenek Kanji untuk membatalkan perjanjian mereka karena Arum sudah tidak ingin melanjutkan semuanya.


Setelah memasuki hutan larangan, Arum memandang cahaya rembulan yang tidak tertutup awan.


"Ayo Bellinda...cepatlah," perintah Arum.


Sesampainya di depan pohon yang menjadi tempat tujuannya...


"Nenek Kanji...aku membawa persembahan...keluarlah," teriak Arum.


Pohon besar itu bergetar, mengeluarkan suara seperti kepakan sayap ribuan burung.


Lalu keluarlah Nenek Kanji yang diiringi tawanya yang mendirikan bulu kuduk.


"Hi...hi....kamu telah datang cah ayu....aku juga sudah menunggu kedatanganmu," tawa Nenek Kanji.


"Hmm...gadis muda...aku suka," Nenek Kanji mendekati Bellinda yang bersimpuh di depan pohon besar.


Nenek Kanji memperlihatkan gigi taringnya yang runcing, tangannya yang berkuku tajam mengelus- ngelus leher Bellinda.


"Clap....aaaa......," terdengar jerit kesakitan dari mulut Bellinda.

__ADS_1


Nenek Kanji menghisap darah gadis keturunan Belanda itu dengan penuh nafsu dan tanpa perasaan.


Arum yang sudah melihat berkali- kali pun tetap saja bergidik dan merinding melihat pemandangan menyeramkan yang ada di depan matanya.


Arum mengusap- ngusap perutnya.


"Maafkan Bunda...anakku," gumamnya dengan penuh perasaan menyesal.


Tubuh Bellinda kering dan mengeriput, lalu tubuhnya hilang menjadi kepulan asap hitam.


Nenek Kanji menjilat- jilat bibirnya, masih mengecap merasakan manisnya darah tumbal persembahan untuknya.


"Enak...manis...cah ayu...aku puas dengan persembahan yang kamu bawa," ujarnya menyeringai.


"Nenek Kanji....bolehkah aku membuat permohonan?" tanya Arum hati- hati, bagaimana pun, nenek Kanji bukanlah manusia...ia adalah sosok makhluk yang penuh dendam.


"Katakan cah ayu...apa itu? hi...hi...," tawa Nenek Kanji menyeramkan.


"Aku sekarang sudah menikah dan segera punya anak, aku sudah tidak ingin membalas dendam....bolehkah aku untuk membatalkan perjanjian kita?" tanya Arum menangkupkan kedua tangannya.


Nenek Kanji mendekati Arum, ia mengendus- ngendus tubuh Arum, matanya tertuju pada perut Arum yang belum kelihatan membuncit.


Arum otomatis memeluk perutnya yang masih rata, ia bergidik...ia tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya.


"Hi....hi....ada bayi di dalam perutmu....kalau aku makan pasti enak...," Nenek Kanji menatap seram ke arah perut Arum.


Ia menjilat- jilat bibirnya...


"Tolong jangan sakiti kami Nenek Kanji...biarkan anak ini hidup...aku mohon," Arum memelas.


"Hi....hi....ternyata kamu sayang juga pada anakmu," tukas nenek Kanji.


"Aku baru merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan selama ini...nek...tolong ampuni kami," mohon Arum.


Ia sudah gemetar, ia takut anaknya akan menjadi korban nenek Kanji.


"Untung kamu selama ini bisa memuaskan ku dengan membawa tumbal yang masih muda- muda."


"Aku akan memberi keringanan padamu...," ujar nenek Kanji.


"Kamu boleh membatalkan perjanjian kita dengan satu syarat....," tambah nenek Kanji.


"Katakan nek..apakah itu?" tanya Arum.


"Kamu cukup memberikan aku dua korban lagi...tumbal yang pertama harus kakakmu itu...dan yang kedua harus kamu berikan sebulan setelah kamu melahirkan...apa kamu setuju?" tanya nenek Kanji.


"Kakakmu boleh kamu tumbalkan kapan saja, yang terpenting saat malam bulan purnama...aku tidak menentukan waktunya tapi itu harus kamu lakukan sebelum kamu melahirkan," titah nenek Kanji lagi.


Arum tidak berpikir panjang lagi, ia sudah cukup bersyukur dengan keringanan yang diberikan oleh nenek Kanji.

__ADS_1


Arum cukup menumbalkan dua orang lagi, salah satu nya harus Anum yang jadi tumbalnya.


Setelah itu Arum bisa hidup tenang, Arum tidak bisa meminta lebih...ia sebenarnya ingin nenek Kanji membolehkannya untuk tidak mencari tumbal lagi.


Tapi tatapan nenek Kanji yang seakan begitu bernafsu melihat ke arah perutnya membuat Arum takut untuk nenawar- nawar lagi.


Arum takut nenek Kanji meminta anaknya sebagai ganti tumbal yang lain.


Arum lebih memilih untuk menumbalkan Anum yang selama ini selalu bersikap buruk padanya, daripada harus menumbalkan darah dagingnya sendiri yang sudah tumbuh rasa cinta dan sayangnya semenjak Arum tau ia sudah mengandung.


"Baiklah nek...terima kasih untuk keringanannya...," ucap Arum.


"Ingat dua tumbal lagi....yang satu sebelum melahirkan waktunya boleh kapan saja tetapi harus di malam bulan purnama, dan yang kedua sebulan setelah kamu melahirkan....ingat yang terakhir tidak boleh dilewatkan...."


"Jika tumbal terakhir tidak bisa kamu berikan, maka nyawamu sendiri yang akan ku korbankan dan kamu akan menjadi budak penghuni hutan ini selamanya....sementara kakakmu akan menjadi ratunya....hi....hi....," tawa Nenek Kanji.


Bulu kuduk Arum meremang, ia selalu merasa seram mendengar tawa Nenek Kanji.


"Baiklah nek, saya pulang dulu...suami saya sudah menunggu di rumah," pamit Arum.


"Pergilah cah ayu....kamu beruntung aku masih bisa menahan hasrat ku untuk memakan janin dalam perutmu...hi...hi...."


Arum terhenyak, ia lalu terburu- buru meninggalkan hutan larangan itu... jangan sampai nenek Kanji berubah pikiran.


Arum akan melindungi anaknya apapun yang terjadi...


Cinta Raden Prana telah banyak mengubahnya....


Arum siap berkorban untuk orang- orang yang ia cintai dan yang mencintainya.


Arum sampai ke rumahnya, suaminya Raden Prana dengan setia menunggunya di depan teras rumah.


Arum terharu....suaminya begitu perhatian padanya.


"Seharusnya aku mengantarmu....," sambut Raden Prana yang langsung mengelap keringat di pelipis Arum.


Mana mungkin Arum mengizinkan Raden Prana mengantarnya, bagaimana ia bisa membawa tumbal untuk Nenek Kanji....ia juga tidak ingin Raden Prana tau apa yang ia kerjakan.


Ini juga karena Raden Prana sudah berjanji, tidak akan bertanya apapun tentang apa yang dilakukan Arum di saat malam bulan purnama.


"Kamu kelihatan lelah Arum...mari kita masuk," Raden Prana memapah lembut tubuh Arum.


"Minumlah dulu," Raden Prana memberikan minum buat Arum.


Arum merasa Raden Prana begitu perhatian padanya, dimulai dari hal- hal yang kecil.


"Segeralah beristirahat....kamu sedang hamil Arum...jangan sampai kamu merasa capek," lanjut Raden Prana.


"Jangan khawatir Kangmas, aku baik- baik saja," jawab Arum tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu isteriku sayang....," Raden Prana tertawa kecil sambil mencubit hidung Arum.


Arum hatinya berbunga....ia memeluk hangat tubuh suaminya yang membalasnya dengan kecupan mesra di keningnya.


__ADS_2