
Raden Bondo dan Anum duduk bersanding di pelaminan.
Gusti Arya dan isterinya Raden Ayu Ditha bersama Gusti Lingga atau Gusti Romo dan isteri mudanya, Raden Ayu Sinta tampak mengapit kiri kanan kedua pengantin.
Raut muka bahagia tampak di wajah Anum, sedangkan Raden Bondo tampak biasa- biasa saja.
Pesta dilakukan di rumah kediaman Keluarga Gusti Arya.
Suasana pesta begitu meriah dengan kesenian musik yang diiringi suara gamelan.
Pesta tampak dihadiri oleh tamu- tamu undangan dari kalangan bangsawan dan terlihat juga banyak keturunan orang- orang Belanda.
Para penari terlihat lemah gemulai mengikuti irama gamelan.
Dari kejauhan nampak sepasang mata melihat sepasang pengantin dengan penuh kebencian.
Mata itu milik seorang perempuan yang memakai kerudung hitam. Ia juga menutup sebagian mukanya dari hidung ke bawah dengan ujung kerudungnya.
Perempuan itu tidak ingin ada orang sekitar yang mengenalinya.
Ia juga memakai pakaian panjang yang serba hitam.
Ia seperti akan menghadiri sebuah acara pemakaman.
Matanya berkilat penuh amarah.
"Tunggu pembalasanku...kalian akan menangis darah sebelum menerima pembalasanku," gumamnya pelan.
Arum membalikkan tubuhnya, ia ingin segera pergi dari tempat itu.
Tidak tahan hatinya melihat kedua orang yang sudah mengkhianatinya.
Arum menabrak seorang laki- laki muda tanpa sengaja.
" Ma..af....aku tidak sengaja," ucap Arum menundukkan kepalanya.
Laki- laki itu tersenyum...memperlihatkan senyum manis di wajahnya yang tampan.
" Tidak apa- apa....aku juga salah tidak melihatmu," jawab laki- laki itu.
Arum terpana melihat laki- laki itu, ia merasa seperti pernah melihatnya tapi lupa kapan dan di mana.
"Aku Dimas, kalau kamu namanya siapa?" tanya laki- laki itu.
"Aku...mmm....aku...bukan siapa- siapa, permisi...," Arum bergegas pergi meninggalkan laki- laki yang mengaku bernama Dimas itu.
Arum setengah berlari meninggalkan Dimas yang heran melihat tingkah laku Arum.
"Siapa dia? aneh sekali..." gumam Dimas.
Dimas menatap punggung Arum hingga sosoknya hilang di tikungan jalan.
Dimas menghela napas, ia datang juga ingin melihat kekasihnya yang "terpaksa" dijodohkan.
Dari jauh ia melihat Anum yang bersanding dengan Raden Bondo.
__ADS_1
Hatinya sangat sedih, ia terpaksa merelakan kekasihnya menjadi milik orang lain.
"Apa dayaku yang cuma seorang rakyat jelata," dengan sedih ia bergumam dalam hati.
***********
Arum tiba di pohon besar tempat tinggal nenek Kanji.
"Nek, keluarlah...aku ingin kau membantuku," ujar Arum menatap ke atas pohon besar itu.
Tiba- tiba pohon itu bergetar hebat dan keluarlah sosok nenek Kanji.
"Ada apa cah ayu....kamu membangunkan aku dari tidurku hi...hi...," nenek Kanji tertawa.
" Nek....buatlah pesta mereka berdua kacau- balau...."
" Hanya itu saja? kecil sekali....baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu cah ayu....," nenek Kanji lalu menghilang menjadi asap.
Di tempat pesta pernikahan Anum dan Raden Bondo....
Tiba- tiba angin bertiup sangat kencang, daun kering beterbangan, awan menjadi gelap lalu turun hujan yang langsung mengguyur bumi dengan derasnya.
Semua orang menjadi panik... angin kencang tiba- tiba menghancurkan tenda yang tadinya berdiri kokoh.
para tamu berlarian menyelamatkan diri dari derasnya hujan.
Pakaian mereka menjadi basah kuyup.
Ada yang berlari berteduh di pendopo milik keluarga Gusti Arya.
Akhirnya para tamu banyak yang langsung berlari pulang.
Mereka segera naik ke kereta kuda mereka masing- masing.
Kebahagiaan di wajah Anum berubah menjadi cemas.
Raden Bondo terdiam, dan mulai ada rasa takut di dalam hatinya.
Sumpah Arum, ya Raden Bondo langsung mengingatnya.
Di hari pernikahannya, keadaan alam seperti tidak mendukung pernikahan mereka.
Belum setengah hari, sudah terjadi hal yang tidak mengenakkan di pesta pernikahan mereka.
"Apakah sumpah Arum sudah dimulai?" gumamnya dalam hati.
Rumah kediamannya jadi penuh dengan tamu yang berdesak- desakan mencari perlindungan dari derasnya air hujan.
Sebagian tamu sudah memilih untuk langsung pulang.
Gusti Arya sibuk mencari pawang hujan yang sudah dibayarnya.
Sepertinya pawang hujan kewalahan, jampi- jampi yang dipakainya seperti tidak mempan.
Tampak pawang hujan sedang duduk bersila, tampak mulutnya komat- kamit membaca mantera.
__ADS_1
Bukannya berhenti, hujan semakin deras mengguyur bumi bahkan diiringi oleh gemuruh cahaya kilat dan petir yang sambung menyambung seakan- akan tidak merestui pernikahan Anum dan Raden Bondo.
Dhuar....krak....jeger
Semua orang terperanjat.
Petir menyambar sebuah batang pohon yang ada di samping pendopo.
Batangnya patah dan langsung tumbang menimpa atap salah satu pendopo milik Gusti Arya.
Semua orang di situ terlihat panik, berlari menjauhi pendopo yang tertimpa pohon.
Raden Bondo terhenyak....perasaannya
semakin tidak enak.
Pesta pernikahan mereka kacau balau, semua basah terguyur air hujan, belum salah satu pendopo rumahnya ada yang rusak.
Semua bunga- bunga yang dijadikan hiasan untuk panggung terbang melayang tertiup angin yang kencang.
Tempat pestanya porak- poranda dalam sekejap.
Semua makanan yang sudah tersaji juga jadi berkuah sudah basah bercampur air hujan.
Pernikahan berujung dengan kepanikan semua orang.
Gusti Romo dan istri mudanya, Raden Ayu Sinta hanya bisa terdiam duduk di dalam salah satu bagian pendopo.
Tamu- tamu satu persatu mulai pulang walaupun dalam kondisi hujan lebat, mereka memilih pulang daripada harus berhimpit- himpitan di dalam pendopo.
Hanya tinggal satu dua orang tamu yang masih menunggu hujan reda.
Raden Bondo hanya bisa pasrah, ia tidak bisa berbuat apa- apa.
Pernikahan yang terjadi dengan menyakiti seseorang yang dicintai dan mencintainya, dibalas dengan hancurnya pesta yang baru saja dimulai.
Raden Bondo membayangkan kengerian yang akan terjadi selanjutnya, kalau memang semua disebabkan oleh sumpah yang diberikan oleh Arum pada pernikahannya dengan Anum.
" Kamu dan Anum tidak akan pernah bahagia, aku sumpahi kalian akan sengsara selamanya," terngiang kembali kata- kata Arum di ingatannya saat ia menyumpahinya.
"Bagaimana kalau semuanya akan menjadi kenyataan? aku tidak sanggup membayangkannya," Raden Bondo terus berbicara dalam hatinya.
Ketakutan mulai merasukinya. Ia tidak sanggup menahan rasa gelisah.
Anum menggenggam jemarinya seakan ingin memberi kekuatan pada Raden Bondo.
Raden Bondo juga merasakan wajah Anum tidak sumringah seperti di saat pesta baru dimulai.
Anum juga terlihat khawatir dan sedih, karena pesta mereka yang porak - poranda oleh kejadian alam yang tidak mereka sangka- sangka terjadi tepat di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi hari yang indah.
Siapa sangka semuanya hancur hanya dalam sekejap mata.
Pawang hujan pun seperti tidak berdaya, jampi- jampi dan mantera yang dikeluarkan tidak berpengaruh untuk menghentikan cuaca yang buruk.
Belum lagi mereka akan sibuk memperbaiki salah satu pendopo yang atapnya rusak ditimpa pohon besar.
__ADS_1