Suara Dari Alam Lain

Suara Dari Alam Lain
Kerasukan lagi


__ADS_3

" Kamu.....orang yang paling aku benci...." tunjuk Ningrum sambil mendekat ke arah Anum.


Mata Ningrum mendelik penuh kemarahan.


Anum sudah menggigil ketakutan, ia hanya memejamkan mata.


Ia sudah tidak berani memandang ke arah Ningrum.


Sosok Ningrum berubah seakan itu bukan dirinya lagi.


Sepasang tangan dingin dirasakan Anum, mencengkram kedua bahu Anum.


" Kau akan menderita," terdengar suara serak seorang perempuan yang keluar dari mulut Ningrum, tapi itu bukanlah suara Ningrum.


Anum sudah seperti berasa mau pingsan, sedikit lagi ia sudah terkulai lemas, ketika sepasang tangan yang lain menarik tubuhnya.


" Lepaskan kakak iparmu Ningrum, apa- apaan kamu ini?" Raden Bondo muncul dan membentak Ningrum.


"Kamu juga akan kubuat menderita," tunjuk Ningrum pada Raden Bondo, setelah Raden Bondo berhasil menarik lepas tubuh Anum dari cengkeraman tangannya.


Raden Bondo terkejut mendengar suara yang keluar dari bibir Ningrum, itu bukanlah suara adiknya.


Raden Ayu Ditha muncul dengan tergopoh- gopoh, dengan setengah berlari ia masuk ke dalam kamar Ningrum.


Ia sudah bisa menduga apa yang terjadi dengan Ningrum begitu mendengar teriakan Anum.


Dan Raden Ayu Ditha yang sudah pernah melihat Ningrum kerasukan sebelumnya, segera menyambar sapu lidi yang ada di atas lemari Ningrum.


"Pergi...pergi dari tubuh puteriku," Raden Ayu Ditha memukul kaki Ningrum dengan sapu lidi.


" Au...sakit," teriak Ningrum dengan suara parau.


" Berani kamu datang lagi...rasakan ini...," Raden Ayu Ditha kembali melibas tubuh Ningrum.


Ningrum berteriak kesakitan, sementara Raden Ayu Ditha tidak memberi jeda.


Ia terus memukul- mukul tubuh Ningrum dengan sapu lidi.


"Ampun ...," mata Ningrum membelalak dan bergetar lalu ia terkulai lemas.


Ayu Ditha melempar sapu lidi yang dipegangnya lalu menangkap tubuh Ningrum sebelum ia terjatuh.


Raden Bondo terkesima, tanpa sadar ia masih memeluk tubuh Anum.


Raden Bondo belum bisa menerima kejadian di depannya dengan akal sehatnya, ia masih terkejut.


Anum juga masih belum bisa menguasai dirinya, ia masih dalam keadaan terkejut, kakinya masih terasa lemas.


Raden Ayu Ditha menepuk- nepuk pipi Ningrum untuk menyadarkannya.


"Bunda...Ningrum kenapa?" tanya Raden Bondo.


"Kerasukan...sepertinya ada roh jahat yang masuk ke tubuh adikmu...sudah pernah terjadi sekali, waktu itu Ayahandamu sedang ada di rumah."

__ADS_1


" Waktu itu Ayahandamu menggunakan sapu lidi untuk mengusirnya seperti yang Bunda lakukan tadi, dan itu berhasil," jelas Raden Ayu Ditha.


" Sejak kapan ini bermula Bunda?"


"Sejak Ningrum diputuskan oleh Raden Dito, Bunda tidak mengerti...mungkin karena adikmu pikirannya lagi kalut dan membiarkannya dalam keadaan kosong...entahlah," jawab Raden Ayu Ditha.


"Ningrum...bangunlah," Raden Ayu Ditha menggoyangkan tubuh puterinya.


"Anum...kamu tidak apa- apa?" Raden Bondo bertanya kepada Anum yang masih terkulai lemas di pelukannya.


Anum menggelengkan kepalanya, ia masih ketakutan.


Raden Ayu Ditha memandang sinis kepada Anum.


"Apa betul yang dikatakan Nenek aneh waktu itu, Anum adalah penyebab semua ini?" Raden Ayu Ditha bergumam dalam hatinya.


Raden Ayu Ditha tidak berani melakukan apapun pada Anum, karena Gusti Arya melarang isterinya untuk percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan nenek aneh itu.


" Bunda...," Ningrum membuka matanya.


"Kamu sudah sadar Nak?" tanya Raden Ayu Ditha.


" Aku kenapa lagi Bunda?" tanya Ningrum heran.


" Kamu kerasukan lagi, tadi kamu melamun atau menangis?" tanya Raden Ayu Ditha.


Ningrum mengingat- ingat, tadi dia memang melamun.


"Ada apa Nak?"


" Tubuh Ningrum sakit semua Bunda," Ningrum memegang kaki dan bagian tubuhnya yang sakit.


" Bondo, ajak isterimu keluar dulu," suruh Raden Ayu Ditha pada Raden Bondo.


Raden Bondo menggangguk, ia memapah Anum keluar dari kamar Ningrum.


Raden Ayu Ditha mengangkat pakaian Ningrum, nampak bekas pukulan sapu lidi di tubuh anaknya terlihat bergurat merah.


Raden Ayu Ditha menyesal, tadi ia terlalu keras memukul Ningrum.


Ia juga melihat kaki Ningrum tampak memerah karena pukulan sapu lidinya.


Tadi tanpa sadar Raden Ayu Ditha tidak mengontrol tenaganya. Ia hanya berpikiran agar roh jahat yang merasuki tubuh anaknya itu segera keluar.


"Maafkan Bunda ya Nak, tadi Bunda terlalu keras memukulmu dengan sapu lidi," ujar Raden Ayu Ditha merasa bersalah.


"Sebenarnya kenapa Ningrum bisa kerasukan Bunda?" Ningrum kelihatan bingung.


"Entahlah Nak, makanya Bunda minta kamu jangan hanya mengurung diri di kamar...itu bisa membuat pikiran kamu kosong," nasehat Raden Ayu Ditha.


" Lupakan Raden Dito, kamu harus bisa kembali ceria seperti dulu lagi...Bunda mohon..."


"Dinda....," terdengar panggilan Gusti Arya dari luar kamar Ningrum.

__ADS_1


"Ayahandamu sudah pulang...," kata Raden Ayu Ditha.


" Di kamar Ningrum...," jawab Raden Ayu Ditha.


Gusti Arya masuk ke kamar Ningrum dan melihat puterinya yang sedang berbaring ditungguin Raden Ayu Ditha.


" Ningrum kenapa lagi Dinda?" tanya Gusti Arya.


" Tadi ia kerasukan lagi Kanda...," jawab Raden Ayu Ditha.


"Kerasukan lagi? lalu Raden Bondo di mana?" tanya Gusti Arya.


" Mungkin lagi di kamarnya. Tadi saat kerasukan, Ningrum hendak menyakiti Anum...Anum masih lemas," jawab Raden Ayu Ditha.


" Apa? benarkah itu Bun?" tanya Ningrum.


Raden Ayu Ditha mengangguk.


Gusti Arya hanya mengerutkan keningnya, ia bingung dengan berbagai kejadian yang ada di rumahnya belakangan ini.


"Di luar lagi rame berita hilangnya seorang Noni Belanda. Dan ternyata sebelum ini ada kejadian yang sama," cerita Gusti Arya.


"Apa maksudnya Kanda?"


" Ternyata ada juga kejadian seorang gadis, Noni Belanda juga hilang tanpa diketahui rimbanya. Keluarganya juga sedang mencarinya sampai saat ini," jelas Gusti Arya.


" Berarti udah ada dua kejadian Kanda?" tanya Raden Ayu Ditha.


"Tadi Kanda sempat mampir ke rumah besan kita, Gusti Lingga. Adik perempuan Anum juga sampai saat ini hilang belum kembali...tidak tau apakah semua kejadian ini berkaitan satu sama lain atau hanya kebetulan saja," jelas Gusti Arya.


Gusti Ayu Ditha sempat terkejut, ada kejadian sebesar ini dirinya baru tau.


Sebelumnya keluarga Anum tidak pernah bercerita apa- apa pada mereka.


"Semoga saja kejadian ini hanya kebetulan saja," lanjut Gusti Arya.


"Lalu bagaimana dengan Ningrum Kanda, ia sudah dua kali seperti ini..."


" Jangan khawatir Dinda...ini hanya karena Ningrum belum bisa melupakan kesedihannya karena putus dari Raden Dito," Gusti Arya menenangkan Raden Ayu Ditha.


" Yang terpenting jangan pernah meninggalkan Ningrum sendirian," sambung Gusti Arya.


" Lalu bagaimana dengan yang diucapkan nenek aneh itu?"


" Kanda sudah mengingatkan Dinda untuk jangan percaya begitu saja," jawab Gusti Arya bijak.


"Nenek aneh yang mana Bunda? apa yang dikatakannya?" tanya Ningrum lalu ia beringsut bangun.


" Sudah...tidak ada, itu hanya orang aneh yang Ayanda temui di jalan," jawab Gusti Arya.


"Ningrum, kamu harus banyak keluar ikut Bundamu jangan di kamar sendirian saja....nanti minta satu orang pelayan untuk menemanimu tidur di waktu malam," perintah Gusti Arya.


Ningrum hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2